26/11/2018

Tanjung,— Kearifan merupakan kekayaan leluhur, tercipta melalui pembiasaan laku terus-menerus dari satu masa ke masa selanjutnya. Pasca gempa yang terjadi di Lombok, arsitektur bangunan tradisional menjadi marak di perbincangankan dikalangan pengamat dan peneliti. Gempa yang melanda pulau Lombok sejak bulan Juli hingga saat ini berefek baik pada pembuktian kualitas bangunan tradisional adat seperti bale balaq (Rumah panggung yeng terbuat dari kayu, bambu dan ilalang, persis seperti rumah suku bugis) dan Bale Mengina’ (rumah tradisinal adat bayan yang memiliki sebauh ruangan yang disakralkan yaitu inan bale sebagai tempat menyimpan benda berharga) terutama yang tedapat di beberapa wet (Wilayah) adat di Gumi Dayan Gunung.

Rumah tradisional adat Bayan terbuat dari kayu, ilalang, bambu dan rotan. Menurut penuturan Raden Sawinggih, salah satu tokoh adat Bayan mengatakan bahwa Bale Mengina merupakan arsitektur rumah tradisional yang biasanya dibangun di perbukitan. Rumah tersebut di tempati oleh para tetua adat, para pemangku, pembekel (Pejabat adat) dan para kiyai. Sementara Bale Balaq merupakan arsitektur bangunan yang sama persis dengan arsitektur rumah panggung yang dimiliki oleh masyarakat pesisir. Kendati perkampungan masyarakat Bayan yang memiliki arsitektur Bale Balaq dulunya merupakan wilayah pesisir Pulau Lombok. Hal ini dibuktikan dari penemuan tumbuhan pesisir yang tumbuh di beberapa perbukitan di Lombok Utara. Seperti yang terdapat di gubuk adat Sembagek yang memiliki arsitektur bangunan Bale Balaq dan rumah tradisional Bale Mengina’ di beberapa tempat seperti di wet Semokan dan Bayan Beleq (Karang Bajo).

Bale Mengina’ Rumah tradsional adat Bayan

Saya pernah menanyakan mengapa Sembagek berpisah dari wet Semokan? Padahal wilayahnya begitu dekat bahkan dikelilingi oleh dusun-dusun yang masuk padawet gontoran (Perbukitan) Semokan. Beberapa tokoh adat mengatakan bahwa keturunan warga adat Sembagek berasal dari warga yang dulunya hidup di pesisir utara. Adapula yang mengatakan bahwa keturunan warga adat Sembagek merupakan akulturasi dari orang Makassar, yang terbukti dari Bale Balaq yang dimilikinya. Namun kami belum menemukan bukti valid dan dapat dipertanggungjawabkan soal ini.

Selain itu, rumah tradisional juga merupakan identitas kolektif yang memiliki pola pembangunan yang khas. Semboko (palang atap) selalu membujur dari utara ke selatan. hal ini dipercayai sebagai salah satu pamaliq (Pantangan) orang tua yang masih dipertahankan hingga sekarang. Sehingga jika kita berkunjung ke wilayah Bayan kita akan dapat mengidentifikasi pemilik rumah apakah ia orang Bayan asli atau tidak, dari arah palang atap bangunan rumahnya sekalipun rumah tersebut dibangun dengan bahan batu bata.

Pasca gempa bumi 5 Agustus 2018 lalu, warga adat seperti diingatkan untuk kembali pada pamaliq leluhur tentang arsitektur bangunan tradisional yang dibangun dengan bahan yang disediakan oleh alam. Walau ketersediaan bahan seperti ilalang, rotan, bambu dan kayu mulai kritis. Karena hampir 90% rumah berbahan batu bata yang terdapat di Kecamatan Bayan rusak (retak dan rubuh) akibat gempa.

Di Bayan terdapat sebuah tempat yang bernama Telaga Lindur yang dipercayai sebagai pusar gempa yang terjadi. Ada sebuah mitos yang tumbuh subur yang masih diceritakan secara turun-temurun oleh masyarakat Bayan dan masyarakat Lombok pada umumnya

Alkisah, dahulu kala hidup seekor kerbau bermata merah yang tinggal di wilayah timur Gunung Rinjani yaitu di daerah Sembalun. Kerbau kecil ini bernama Donte. Setelah dewasa Donte dipindahkan oleh pemiliknya ke Bayan. Di Bayan ia disakralkan oleh warga, lalu berubah nama menjadi Sidamalung. Dan ia berendam di sebuah telaga di wilayah Bayan yang disebut sebagai Telaga Lindur namun belum ada penjelasan valid tentang spesifikasi lokasi telaga ini.

Dalam mitos tersebut, Sang kerbau yang berada di Telaga Lindur bergerak (Mengamuk) sehingga terjadilah gempa. Seekor gagak yang hinggap di tanduk kerbau kemudian terbang lalu mengabarkan kepada semua manusia bahwa kerbau akan mengamuk, akan tetapi manusia tidak menghiraukannya sehingga terjadilah gempa yang membuat manusia berhamburan menyelamatkan diri. Saat itu, datanglah seekor belalang minyak dan katak yang mengadu kepada sang maha kuasa.

Masjid Gumantar Kayangan, Terlihat panel surya yang digunakan warga untuk memenuhi kebutuhan listriknya.

Belalang minyak berkata “ nenek kaji, sawekang kao’ niki mengamuk, ni gitak ni gigin kaji bik bireng sengak sik luen sembek manusia, kanca bungkuk bongkor tiang memonggok manusia sik ngenangang.”(Ya Tuhan, mohon perintahkan kerbau itu berhenti mengamuk karena gigi saya sampai menghitam sebab sesembeq yang digunakan manusia dan punggung saya sampai bungkuk memikul mayat-mayatnya).

Kemudian katak menggangap permohonan belalang tidak benar, hingga ia pun menambahkan “ nenek kaji sawekang kao’ niki mengamuk sengak jangka bik a tapak bongkor tiang te ilat isik manusia nyelametang dirik a”( Ya Tuhan, perintahkan kerbau itu mengamuk karena punggung saya sampai pipih diinjak oleh manusia yang berlari menyelamatkan diri).”

Namun dengan permohonan kedua binatang tersebut menyebabkan Tuhan murka karena dianggap tidak benar hingga sidamalung pun mengamuk lagi dan gempapun terjadi lagi.

Dalam cerita tersebut sebenarnya merupakan sebuah penganalogian tentang terjadinya bencana alam gempa bumi, Sidamalung yang merupakan kerbau bermata merah merupakan analogi Gunung Rinjani dan matanya yang merah mewakili lava yang masih aktif meyala di kawahnya. Sementara amukannya yang menyebabkan gempa merupakan aktivitas lava yang berada di bawah tanah.

Telaga Lindur tempat Sidamalung berendam menganalogikan Segara Anak yang berada Gunung Rinjani. Belalang minyak mewakili serangga (hewan yang bisa terbang) dan katak mewakili hewan melata. Do’a yang mereka panjatkan merupakan pengabaran keadaan manusia dari dampak amukan Sidamalung.

Gunung Rinjani, 3726 MDPL.

Dalam cerita tersebut juga disebutkan gagak yang hinggap di tanduk kerbau dan terbang pada sasat kerbau akan mengamuk. Pada fase ini, gagak merupakan sebuah penanda akan terjadi sesuatu yang buruk sehingga warga Bayan mempercayai bahwa jika ada gagak yang terbang dan berbunyi maka itu pertanda akan terjadi sesuatu yang buruk.

Gempa yang terjadi seperti mengingatkan warga akan nilai-nilai kearifan yang terlampau zaman. Nilai-nilai tersebut seakan terlupa oleh perkembangan teknologi dan konspirasi pembangunan negeri. Salah seorang narasumber menceritakan bahwa pada masa orde baru (Masa Presiden Soeharto 1965 – 1998) warga Bayan diminta untuk mengubah bangunan adat dengan bangunan tembok. Strategi Soeharto pada masa itu dengan menjadikan para tetua adat sebagai pejabat pemerintahan dan memerintahkannya untuk membangun rumah tembok dengan ekspektasi agar warga mengubah dan membangun rumah dengan bahan batu bata.

Dan hari ini saya melihat bagaimana kearifan adat membuktikan dirinya, ia tetap kukuh dan berdiri tegap, sebenarnya ini merupakan mitigasi leluhur dan berupaya untuk mewariskanya kepada generasinya saat ini. Seperti yang dikatan oleh Raden Gedarip, salah satu tetua adat Bayan Beleq (Karang Bajo) “Mun mula saor bale adat cia, wah mula mele salin ummat” artinya jika rumah adat ini hancur maka Tuhan ingin mengganti ummat manusia.

Warga bayan pun memiliki ritual tradisi yang dilakukan untuk mejaga kelestarian alam yang disebut dengan Ritual ngasuh Gumi yaitu ritual yang dilakukan sebagai sedekah kepada bumi dipercayai sebagai upacara menjauhkan alam dari bencana dan malapetaka. Upacara ini dilakukan dengan dua tahap yaitu ngasuh gubuk dan ngasuh gunung yang dilakukan dalam waktu yang berbeda. Dan saat ini warga Bayan akan melaksanakan Liur Gama (adat istiadat) Ngasuh Gunung yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat.(#)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *