24/05/2021

Kayangan,(SK),–Niat mendirikan Pondok Pesantren di wilayah Kayangan, memang sudah ada sejak tahun 1989, yang pada waktu itu untuk pertama kalinya dirintis oleh Ust.Muh.Turmuzi,BA yang masih aktif di Depag Kabupaten Lombok Barat. Niat itu pun terbersit di benaknya, ketika masih memimpin MA Bayyinul Ulum Santong selama satu tahun pembelajaran.

Pendiri Ponpes Nurul Islam Kayangan ( alm. Ust. Muh. Turmuzi,SH.M.Mpd )

Sejarah mencatat, bagaimana proses perjuangan Ust. Muhamad Turmuzi,BA dalam mendirikan sebuah Pondok Pesantren yang sekarang dikenal dengan nama Yayasan Pendidikan Pondok Pesantren Nurul Islam Kayangan ini.

Ust. Muhamad Turmuzi, BA menuturkan, berawal dari ketika dirinya pensiun sebagai PNS di Depag Kabupaten Lombok Barat, Ia pindah ke Dangiang dan berencana mendirikan Madrasah di sana. Ust.Muh. Turmuzi,BA ini menginginkan mendirikan Madrasah itu harus independen, artinya tidak berkiblat ke salah satu organisasi besar di NTB. Oleh masyarakat Dangiang kala  itu, tidak mau kalau Madrasah yang di dirikan  itu di luar dari organisasi NW.

Gagalnya mendirikan sebuah Madrasah di Dangiang tersebut, karena Ust.Muh. Turmuzi,BA ingin mendirikan Madrasah yang independen. Alasannya, karena masyarakat di Dangiang dan sekitarnya majemuk (Muhamadiyah, NU,NW) sehingga tujuan mendirikan Madrasah itu nantinya tidak bernaung di salah satu organisasi itu.

”Yang saya pikirkan untuk 10 tahun kedepan dan seterusnya, bagaimana dengan nasib NW setelah Maulana Syech sudah tidak ada, jika nama NW ini di gunakan,”tutur Ust.Muh.Turmuzi, BA.

Ust.Muh.Turmuzi, menolak menggunakan nama NW bukan tanpa alasan. Ia tidak menginginkan hanya berfikir untuk Dangiang saja, akan tetapi harus berfikir juga untuk Kayangan. Karena ketidak sepahaman itulah akhirnya Ust. Muh.Turmuzi memutuskan untuk pindah ke Desa Kayangan yaitu tepatnya di Dusun Empak Mayong pada tahun 1993.

Di tempat inilah Ust.Muh.Turmuzi mendirikan  Madrasah yang dikemudian hari dikenal masyarakat luas dengan Ponpes Nurul Islam Kayangan.

Setelah hengkangnya Ust.Muh.Turmuzi, para pengurus NW baru yang ada di Dangiang melanjutkan cita-citanya untuk mendirikan Madrasah. Sehingga jadilah berdiri Madrasah yang bernaung dibawah nama besar NW. Inipun bisa terwujud, karena mereka tidak setuju dengan independen sebagaimana yang ditawarkan Ust.Muh.Turmuzi.

Di Empak Mayong, Ust.Muh.Turmuzi terus membina hubungan dengan para sesepuh (guru-guru SD 4 Kayangan) yang peduli terhadap pendidikan, seperti Nurdin,S.Pd (sekarang Sekdis Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Lombok Utara), Masrik,S.Pd ( sekarang Guru di SMPN 1 Kayangan), Asdan,S.Pd (sekarang Kepala SDN 4 Kayangan) dan Sahar,S.Pd (alm). Ia lalu membentuk pengurus baru yang sepaham dan independen.

Atas bantuan para sesepuh inilah akhirnya Ust.Muh.Turmuzi berhasil mendirikan Madrasah sendiri yang pada awalnya diberi nama MTs Kayangan secara umum, belum menggunakan nama Nurul Islam. Madrasah yang didirikan ini pun tidak bernaung di bawah salah satu organisasi besar di NTB.

Di tuturkan, setelah berhasil mendirikan sebuah Madrasah, mereka dihadapkan pada dilema (masalah) soal nama Ponpes ini. Mereka bingung dengan nama. Karena nama yang sudah diberikan (MTs Kayangan) itu masih umum. Untuk menentukan nama yang lebih spesifik, mereka (Ust. Muh.Turmuzi, Nurdin, Masrik, Asdan, Sahar) sepakat buat usulan dengan cara di undi yaitu mencabut lot (voting).

Ust.Muh.Turmuzi mengusulkan ada 3 (tiga) nama, yaitu Nurul Islam, Baiturrahman, Qomarul Huda. Pada intinya mereka telah sepakat memilih nama Nurul Islam. Namun mereka belum yakin karena ada 3 nama. ”Sebaiknya dilakukan cabut lot saja,”saran Masrik kala itu.

Gedung Ponpes Nurul Islam Kayangan, sebelum gempa 5 Agustus 2018 silam

Di ceritakan, pada malam Kamis, (17/01/1993) bertempat di Perumahan SD 2 Kayangan (tempat Nurdin tinggal) diadakanlah undian cabut lot (voting). Setelah berturut-turut 3 kali cabut lot, yang keluar terus nama Nurul Islam. Akhirnya mereka sepakat menggunakan nama Nurul Islam sebagai identitas MTs Kayangan tersebut. Jadilah NTs Nurul Islam Kayangan, sebagaimana yang dikenal sekarang. ”Tujuannya adalah untuk kepentingan umat khususnya masyarakat Kayangan. Jadi tidak bernaung di salah satu organisasi besar di NTB, ”tandas Ust.Muh.Turmuzi.

Agar MTs yang baru saja mereka dirikan ini bisa berjalan, maka para sesepuh ini sepakat untuk keliling wilayah Desa Kayangan (termasuk Dangiang-karena masih menyatu dengan Desa Kayangan) mencari calon siswa baru. Berkat kegigihan dan kerja keras mereka, akhirnya berhasil mengumpulkan ijazah calon murid baru sebanyak 56. Jadilah 56 orang ini sebagai siswa baru angkatan pertama MTs Nurul Islam Kayangan yang dibagi menjadi 2 kelas dan tempat belajarnya numpang di SD 2 Kayangan (kini SDN 4 Kayangan) pada tahun ajaran 1993. “Seluruh siswa pada tahun ajaran ini, kami gratiskan, yang penting mereka bisa bersekolah,”kenang Ust.Muh.Turmuzi.

Para sesepuh pendiri Madrasah ini pun tidak tinggal diam.Mereka berfikir keras bagaimana Madrasah yang baru saja mereka dirikan ini mendapat restu dari Pemerintah Kecamatan Gangga waktu itu. Di awal pembelajaran, mereka mengalami kendala masalah tempat belajar yang belum pasti. Karena SD 2 Kayangan yang ada di Empak Mayong sebagai tempatnya belajar sementara itu belum di laporkannya ke pihak Pemerintah Kecamatan melalui Dinas P dan K Kecamatan Gangga.

Tetapi para sesepuh Pemerintah Desa Kayangan maupun Pemerintah Kecamatan Gangga waktu itu, menyarankan agar pembelajaran pada Madrasah yang baru saja mereka dirikan tersebut dibuka pada tahun depan saja.Tetapi berdasarkan negosiasi dan kooordinasi yang harmonis serta cukup alot, akhirnya jadilah di ijinkan buka pembelajaran baru dan menempati gedung SD 2 Kayangan pada tahun ajaran 1993.

Disebutkan Ust.Muh.Turmuzi, setelah resmi diberikan menempati gedung SD 2 Kayangan tersebut, proses KBM tidak langsung dilakukan. Akan tetapi para sesepuh ini bekerja mempersiapkan administrasi dan segala sesuatu yang berhubungan dengan pendirian Madrasah, termasuk membuat akte notaris tentang keberadaan MTs Nurul Islam Kayangan ini.

Melalui perjuangan yang cukup panjang tersebut, akhirnya MTs Nurul Islam Kayangan yang mereka dirikan itu tercatat di Akte Notaris dengan nomor 40 tanggal 21 Oktober 1993.Di akte pendirian tersebut tercantum nama Ust.Muh.Turmuzi sebagai Ketua Yayasan, Sekretaris Nurdin dan Bendahara Sa’i (alm).

Dalam akte notaris nomor 40 Tahun 1993, tanggal 21 Oktober 1993 tersebut tertulis Yayasan Pondok Pesantren Nurul Islam Kayangan, tempat MTs Nurul Islam Kayangan tersebut bernaung.Walau akte pendirian dan ijin oprasional Ponpes Nurul Islam tersebut belum diterbitkan, akan tetapi proses pembelajarannya sudah dimulai sejak tanggal 17 Juli 1993. Itulah sebabnya setiap tanggal 17 Juli dijadikan sebagai hari ulang tahun Ponpes dan MTs ini.

Sejarah mencatat, dalam perjalanannya, banyak lulusan yang dihasilkan, tidak hanya dari Kayangan tetapi daerah-daerah lain di Lombok Utara.(eko)

Tagged on:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 
kartal escort pendik escort sex hikaye