26/11/2018
Praja Mangku Bisok Menik pada Ritual Maulid Adat Desa Salut

Tanjung, (SK),— Salut, dulu sekitar abad ke  4 Hijriyah atau abad ke 16 M dikenal sebagai sebuah Kampung yang bernama Desa Salut. Padahal hanya sebuah Kampung, akan tetapi namanya tetap Desa Salut. Demikian yang dikatakan oleh salah seorang tokoh adat Desa Salut, Karianom.

Di jelaskan Karianom, Sejarah Desa salut berawal dari masuknya penyebaran Agama Islam di tanah Salut. Islam pertama kali yang dibawa oleh salah seorang wali yang berasal dari Tuban Jawa Timur bernama Raden Tuna Unggul Raksa Jagat atau yang lebih dikenal dengan sebutan Syech Suban pada abad ke 16 M (abad 4 H). Syech Suban dalam misi penyebaran Islam di tanah Salut tersebut didampingi dan di kawal oleh 6 patih, diantarnya Patih Rangga Rongsong, Patih Babanan, Patih Blencongsari, Patih Gumantar, Demung Singadi, Bekel Subayan.

               Karianom

Misi utama dari Syech Suban bersama pengawalnya tersebut adalah penyebaran Agama Islam di Desa Salut. Dalam penyebaran Islam di tanah Salut ini ada beberapa tokoh yang sangat berperan, diantaranya yang mencetuskan dan yang memprakarsai ajaran Wettu Telu adalah Datu Mas Pahit Sembahulun yang di juluki Wong Rasul.

Datu Mas Pahit Sembahulun mempunyai anak 2 orang, yakni Nur Cahaya dan Nursyada. Nur Cahaya tugas dan perannya mengembangkan ajaran secara agama seperti halal,haram,makruh,mubah, jaiz dan lain-lain. Sedangkan Nursyada tugasnya mengembangkan ajaran secara adat, adat – istiadat, adat kebiasaan, beradat, bunsadat, murtad adat. “Jadi Nur Cahaya itu agama yang merupakan amanat dari Nabi Muhammad Saw dan Nursyada itu syare’atnya.”terang Karianom.

Apa yang diajarkan tersebut tidak terlepas dari Undang Undang Negara yaitu UUD 1945. Sedangkan Undang Undang Adat ( Konvensional atau tidak tertulis). Kalau Agama Undang Undangnya adalah Al Qur’an dan Al Hadist. Sehingga Nur Cahaya dan Nursyada dalam praktek ajarannya mempunyai porsi masing-masing. Ada yang dinamakan Pandita Guru, Pandita Sholeh dan Tuak Turun.

Disebutkan Karianom, Tuak Turun menurunkan ajaran tarekat, dina pituk,taon baluk, wettu telu, waktu lima,mesjid mekah,leng-leng siwak, bulan 12. Pandita Guru menurunkan ajaran Nyaka Rangga, Nyaka Pati, Pinatua, Pembekel, Mangku. Sedangkan Pandita Sholeh itu menurunkan ajaran Penghulu, Lebe, Ketip, Mudim, Santri. “Itulah peran dan tugas para wali yang sengaja datang dari pulau jawa pada jaman tersebut adalah untuk menyampaikan apa isi kitab yang kita kenal sekarang dengan sebutan Al Qur’an dan Al Hadist,”jelas Karianom.

Rombongan para wali dibawah pimpinan Syech Suban yang datang dari pulau Jawa tersebut, kapal yang di tumpanginya konon ceritanya ditelan oleh ikan Nun. Ajaib memang, begitu tiba di daerah yang dituju yaitu sekitar Lokok Pria sekarang, Ikan Nun tersebut memuntahkan kapal dan seluruh isinya. Saat itu pula, terlontarlah kata pertama yang di ucapkan oleh Syech Suban “Wah, Teranglah sudah”. Begitu hari sudah terang, lalu diturunkanlah batu manggarnya. Batu manggarnya inipun, hingga sekarang masih ada. Setelah mendarat, kemudian meneruskan perjalanan menuju tanah Salut. Setiba di tanah Salut, penghuni yang pertama kali ditemuinya adalah Lebe Antassalam.

Meluasnya perkembangan Islam selanjutnya, selain di Desa Salut, tidak terlepas dari peran dan tugas para pengawal Syech Suban yang saat itu tersebar di seluruh wilayah utara lereng Gunung Rinjani. Sehingga tidak heran pada saat itu berdirilah 9 (Sembilan) mesjid di wilayah Sambik Elen, Bayan Beleq, Anyar, Semokan, Sukadana, Batu Gembung, Salut, Gumantar dan Sesait. “Hingga sekarang, kesembilan wilayah inilah yang masih memiliki Mesjid Kuno,” tandasnya.

Dijelaskan, pada awalnya pelaksanaan ritual Maulid Adat dari kesembilan wilayah tersebut adalah sama. Akan tetapi, lebih dari 8 tahun belakangan ini, dari kesembilan wilayah yang memiliki Mesjid Kuno tersebut, hanya Sesait yang dalam pelaksanaan ritual Maulid Adatnya sudah berbeda dengan wilayah lainnya. Mestinya harus sama. Karena memang, mulai dari Sambik Elen, Bayan Beleq, Anyar, Semokan, Sukadana, Batu Gembung, Salut, dan Gumantar proses dimulainya pelaksanaan Ritual Maulid Adatnya adalah sama harinya. Perbedaan tersebut didasarkan atas ketentuan Kara-Kara atau Uriga atau apa yang disebut dengan Kalender Jango Bangar yang dimiliki oleh masing-masing wilayah.”Jadi, Salut dan daerah lainnya, selain dari Sesait, pelaksanaan Maulid Adatnya berdasarkan urutan hitungan Bangarannya,”terang Karianom.

Makam Syech Suban

Hingga sekarang, kata Karianom, masyarakat Salut mengenal ada 4 bangaran desa, yakni Bangaran Tampes, Bangaran Salut Timur, Bangaran Salut Barat, Bangaran Salut Kendal. Salut Kendal ini, dulunya bernama Desa Pemandi. Dikatakan demikian, karena memang penduduk aslinya dulu, ketika di perintah untuk gotong royong, mereka tidak mau. Akan tetapi, ketika diajak perang, baru mereka mau. Bahkan orang yang mengajaknya pergi berperang itu malah di sembelihkan ayam ataupun kambing. Akan tetapi mereka selalu kalah dalam berperang, karena memang mereka tidak dapat makan garam. Sehingga penduduk aslinya banyak yang mengungsi ke daerah lainnya, seperti ada yang ke Telaga Wareng, Teluk Dalem dan Teluk Kodek (Teluk Nara sekarang). Sehingga tidak heran, penduduk yang dari daerah tersebut ketika akan melaksanakan suatu hajatan, selalu berziarah dulu ke makam Syech Suban di Salut.(eko)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *