13/09/2018

Pekalongan, Suara Komunitas. – Puluhan jama’ah Maiyah yang tergabung dalam Majelis Masyarakat Maiyah Suluk Pesisiran Pekalongan Raya, malam ini, Rabu (12/09) berkumpul di depan kantor Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.

Selepas sholat Isya, background bertuliskan Majelis Masyarakat Maiyah, Suluk Pesisiran, Nanduring Wiji Mulyaning Aji sudah terpasang di sebelah utara halaman. Beberapa anggota komunitas menata sound system dan peralatan lain yang akan digunakan untuk ngobrol bersama malam ini.

Wartadesa, berkesempatan berbincang-bincang dengan Eko Suprihandhika, Koordinator Suluk Pesisiran Pekalongan Raya, sebelum acara ngobrol “Rayahan Salah” berlangsung. Meski pada saat itu, di kecamatan ada acara lain, namun acara Maiyahan tetap berlangsung. Komunitas Maiyah Pekalongan Raya berkomitmen untuk berkumpul tiap tanggal 12 tiap bulannya.

Eko mengungkapkan bahwa awalnya komunitas Maiyah Pekalongan terbentuk tiga tahun lalu. Saat itu belum diberi nama Suluk Pesisiran. Mereka berasal dari para mahasiswa yang mengikuti jama’ah Kenduri Cinta, Mustofa, Gusdurian yang kemudian mereka lulus, dan kangen untuk kumpul-kumpul. Mereka membentuk komunitas Maiyah Pekalongan Raya.

“Awalnya kami berkumpul di TPQ, Tiga tahun lalu belum diberi nama Suluk Pesisiran. Kami, “grumungan” di TPQ di daerah Panjang, Kota Pekalongan. Pada Oktober 2015 baru muncul nama Suluk Pesisiran,” ujar Eko.

Komunitas ini juga menggelar kegiatan keliling. “Tiga kali kami kumpul di Unikal, kemudian Gedung Kesenian Kota Pekalongan, Pendopo Kesenian Kauman, di Wonopringgo dan di Kecamatan Kedungwuni,” lanjut Eko.

Eko menyebut bahwa komunitas ini lebih kearah forum kajian. Mereka berkumpul dua kali dalam sebulan, yakni tiap tanggal 12 dan selikuran (tanggal 21). “Untuk tanggal 12, kita keliling, sedang untuk selikuran biasanya di salah satu rekan, di Kedungwuni,” tuturnya.

Tema Suluk Pesisiran yang diambil malam ini adalah Rayahan Salah. Acara yang menghadirkan Agus Sulistio –penulis buku Bahurekso dan Babat Pekalongan, Pak Suradi dari Batang dan Gus Mansur tersebut mengusung tema Rayahan Salah bukan berarti berebut salah.

“Rayahan salah merupakan bagaimana kita belajar untuk instropeksi. Artinya sifat kita selama ini adalah toleransi, menghargai pendapat orang lain … kita kangen dengan sifat-sifat kita yang seperti itu. Bukan berarti kita berebut kesalahan, tetapi instropeksi diri mensikapi sesuatu di sekitar kita. Bahwa kita bukan yang paling benar, atau memaksakan orang lain (untuk menerma pendapat kita),” lanjut Eko.

Tema Rayahan Salah ini diambil, masih lanjut Eko, karena kita memahami bahwa hidayah itu bisa dari siapapun. Kita harus menyadari bahwa beda pendapat adalah lumrah. Karena kita diciptakan memang berbeda. Buktikan bahwa perbedaan itu adalah rahmat. Jangan dijadikan perbedaan menjadi permusuhan.

Selain acara ngobrol santai, acara juga diisi dengan penampilan sebuah lagu dan pembacaan puisi. Hingga beberapa jam, acara ini berlangsung khikmad. (Warta Desa)

Tagged on:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *