23/10/2018

Pekalongan Kota, Suara Komunitas. – Miris, ketika Pemkab Pekalongan menjadikan Owa Jawa sebagai maskot, Dinas PSDA dan Dinas Kehutanan salah memasang pamflet ajakan melindungi Owa Jawa di sepanjang jalan arah Petungkriyono. Ternyata yang dipasang pada pamflet itu Owa Kalimantan. Hal tersebut diprotes oleh penggiat Owa Jawa Indonesia.  “Opo ora ngelikke nek sing dipasang kui dudu Owa Jawa,” protes penggiat Owa Jawa dari UGM kepada Ubaidillah, pria penggiat konservasi Owa Jawa, PekaOwa, yang sering dipanggil Obed atau Papa Owa ini.

Kang Obed pun menjawab bahwa pihaknya sudah mengingatkan dinas terkait, bahwa panflet tersebut salah. Namun, pamflet tersebut masih tetap terpasang. Hal tersebut terungkap saat diskusi Ngobrol karo Ngopi, komunitas Cerito Wong Pekalongan di Alesscow Coffe, Simbangkulon, Buaran Pekalongan, Sabtu (20/10).

Kang Obed, mulai tertarik dengan konservasi Owa Jawa sejak tahun 2015 lalu. Bermula aktivitasnya di Pokdarwis kalipaingan, Linggo Asri, 24 jam dalam sehari selama berminggu-minggu berada di pinggir hutan dan sungai. Saat itu  ada tamu dari Suara Owa, dari UGM, Aris Setiawan yang merupakan peneliti Owa dan perwakilan Owa Jawa Internasional, dan rektor yang meneliti burung Elang Jawa.

Saat itulah pria yang disapa Papa Owa, diajari tentang keberadaan Owa Jawa, termasuk papan atau tempat tinggalnya di hutan. Pada tahun 2015, dia mewakili Pokdarwis Kalipaingan mengikuti pelatihan konservasi Owa Jawa di Petungkriyono, hingga akhirnya tertarik dengan Owa Jawa.

Menurut Obed, selama ini Owa dikenal oleh warga hanya sebagai monyet, padahal jenis monyet itu dua yakni monyet dan Owa. “Kalau monyet berekor, sedang Owa tidak berekor.” Ujarnya. Owa Jawa ini hanya ada di Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Saat diminta untuk mengisi kuliah umum di UGM, lanjut Obed, ternyata masih banyak mahasiswa dan warga yang tidak tahu tentang Owa. Demikian dengan jenis lutung. “Ternyata lutung itu ada dua yakni regregan dan lutung. Pembedaanya kalau rambutnya poni kedepan berarti lutung, kalau rambutnya mohawk seperti anak punk berarti regregan. Regregan ini termasuk monyet lama.” Lanjutnya.

Habitat Owa Jawa di Pekalongan ada di Jurangjero, Kalipaingan, sebelah timur di Kembanglangit Petungkriyono. “Di Indonesia ada delapan spesies Owa, dan Owa Jawa termasuk istimewa karena bulunya silver, kelabu, perak.” ujar Obed.

Obed menceritakan pengalaman menariknya yang membuatnya miris dengan sikap Pemkab. “Sebagai fotografer Owa Jawa, akhir 2015 hasil foto-foto karya kami diminta oleh Dinas Kehutanan Kabupaten Pekalongan untuk foto kalender, namun permintaan ini ditolak oleh pimpinan komunitas kalipaingan.” Tuturnya.

Lebih miris lagi, lanjut Obed, ketika Pemkab Pekalongan menjadikan Owa Jawa sebagai maskot, Dinas PSDA dan Dinas Kehutanan, salah pasang pamflet Owa Jawa. “Ternyata yang dipasang pada pamflet itu Owa Kalimantan. Hal tersebut diprotes oleh penggiat Owa Jawa … opo ora ngelikke nek sing dipasang kui dudu Owa Jawa … yo wis ngelikke …” ujarnya.

Selain itu, pengetahuan warga Pekalongan terhadap Owa Jawa ini sangat minim. Obed mengaku miris adanya warga yang masih dengan bangga memelihara Owa Jawa. “Owa Jawa ini cepat punah karena dalam hidupnya dia hanya punya satu pasangan, selama hidupnya dia hanya beranak dua kali, setiap beranak hanya satu.”

“Keberadaan Owa Jawa di Pekalongan ini hampir punah, karena biasanya pemburu, memburu anaknya. Memisahkan dengan induknya. Permasalahan lainnya adalah perusakan hutan. Padahal Owa itu tidak bisa menapak tanah. Jika hutan sudah rusak, maka Owa akan punah.” Lanjut Obed.

Pengalaman lainnya terkait belum banyaknya warga yang mengenal Owa Jawa yakni ketika Kang Obed menunggu stand kopi pada sebuah pameran. “Pada stand Dinas Pariwisata, Duta Wisata menerangkan Owa Jawa … tapi menerangkan bahwa Owa Jawa itu monyet … padahal sebelunya Duta Wisata tersebut sudah dijelaskan perbedaan antara monyet dengan Owa.” Ujarnya.

Menurut Obed, pariwisata dan Owa bagai keping mata uang, ketika obyek wisata digenjot, kadang melupakan kelestarian lingkungan. Bunyi-bunyian yang kenceng saat menggelar event wisata juga mengganggu keberadaan Owa. “Disinilah perlu sosialisasi tentang Owa Jawa, jangan sampai ada pengetahuan yang konyol, memasang pamflet Owa Jawa tetapi yang dipasang Owa Kalimantan.” Pungkasnya. (Warta Desa)

Tagged on:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *