30/10/2021

Sidikalang (suarakomunitas.net) – Menyusul diterapkannya model pertanian yang dikenal istilah Food Estate (baca korporasi) dibeberapa kabupaten di Sumatera Utara menyebabkan posisi perempuan mulai “diingkirkan” sebagai yang selama ini berperan sbagai produsen pertanian pangan lokal yang beragam, sehat dan lestari.
Hal itu diungkapkan Direktur Eksekutif PESADA (Perkumpulan Sada Ahmo) Dinta Solin dalam siaran pers yang disampaikan baru-baru ini ke redaksi suarakomunitas.net.
Menurutnya, perempuan pedesaan saat ini pun masih dihadapkan pada permasalahan di sektor pertanian pangan. Dari 14,411 perempuan dampingan PESADA tersebar di 12 kab/kota di Sumatera Utara, terdapat 80 % Petani Perempuan yang umumnya mengembangkan pertanian pangan. Mereka tinggal di pedesaan dan merupakan bagian dari masyarakat adat (Batak Toba, Pakpak, Karo, Nias, Melayu) yang masih menghadapi permasalahan seperti tidak ada pengakuan atas hak kepemilikan tanah, dominasi penguasaan korporasi atas tanah, ketergantungan kepada pupuk kimia dan input pertanian lainnya versus harga jual produk pertanian yang rendah, keharusan untuk tunduk kepada keputusan-keputusan adat yang tidak adil gender dalam masalah KDRT maupun kekerasan seksual.
“Posisi Petani Perempuan mulai “disingkirkan” dengan hadirnya korporasi yang mengolah lahan pertaniannya dengan sistem monokultur di areal lahan luas Food Estate. Ini akan berdampak rusaknya keragaman hayati.”katanya.
Perkumpulan Sada Ahmo (PESADA) sebagai lembaga penguatan perempuan yang telah bekerja sejak tahun 1990, lanjutnya, telah melakukan pengorganisasian perempuan akar rumput, penguatan ekonomi perempuan, pendampingan perempuan korban kekerasan, dan advokasi kebijakan untuk pemenuhan hak-hak perempuan.
Secara khusus, di tahun-tahun terakhir ini, Theory of Chnage PESADA semakin mengarah ke penguatan kader untuk kedaulatan pangan keluarga dan masyarakat, serta keberpihakan kepada perempuan pedesaan, perempuan adat, dan kelompok minoritas. Keberpihakan tersebut ditunjukkan PESADA secara eksplisit ke dalam dua dari empat misinya yaitu penguatan ekonomi perempuan akar rumput untuk gerakan ekonomi rakyat yang setara gender, inklusif dan berkelanjutan, penguatan keterwakilan dan kepemimpinan perempuan & kelompok minoritas, untuk perlawanan terhadap patriarkhi, fundamentalisme,
primordialisme dan oligarki mulai dari pedesaan dan di lembaga adat dan agama.

(Relis, Editor : Tohap P.Simamora)

 

Tagged on:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

kartal escort pendik escort sex hikaye