404 Not Found


nginx/1.18.0 (Ubuntu)
Budaya Menenun di Gumantar, Kendala Bahan Baku - SUARA KOMUNITAS
23/04/2018

Tanjung,(SK),— Aktivitas menenun dan memintal benang yang dilakukan warga Kampung Adat Dusun Dasan Beleq Desa Gumantar Kecamatan Kayangan, kini sudah mulai berkurang. Padahal aktivitas ini bisa dijadikan salah satu daya tarik bagi wisatawan yang datang ke kampung adat ini.

Pokdarwis Jaga Raganta Desa Gumantar pun berharap aktivitas menenun dan memintal benang ini bisa dihidupkan dan dilakukan kembali setiap hari oleh warga. Karena ini sebagai daya tarik bagi wisatawan yang ddatang “Kalau sekarang menenun dan memintal benang ini hanya dilakukan saat acara aadat ini biasanya tiga tahun sekali,”kata Ketua Pokdarwis Jaga Raganta Jumayar belum lama ini.

Dikatakan, saat ini ada sekitar empat orang warga yang masih melakukan aktivitas memintal benang dan menenun kain. Namun tidak dilakukan setiap hari. Berbeda dengan puluhan tahun silam, menenun masih menjadi aktivitas sehari – hari warga.”Dulu memang sehari – hari dilakukan warga,  karena memang mereka membuat baju dan kain selimut sendiri,”terang Jumayar.

Ditambahkan, selain menghidupkan kembali aktivitas menenun dan memintal benang setiap harinya, Pokdarwis Jaga Raganta juga berencana akan menampilkan seni musik tradisional khas Genggong sebagai daya tarik bagi wisatawan untuk datang ke daerah ini.

Sementara itu, Kepala Dusun Lenggorong Desa Gumantar Putradi, membenarkan jika aktivitas menenun dan memintal benang ini tidak bisa dilakukan setiap hari seperti dulu. Hal ini disebabkan karena tidak adanya ketersediaan bahan baku untuk membuat benang. Selain itu, para orang tua atau para pelingsir yang memang mewarisi ilmu bertenun tidak menurunkan atau tidak mengkader generasi penerusnya, akibatnya lambat laun alat tradisional yang digunakan sejak turun temurun itu menjadi usang sehingga tidak terurus kembali, ditambah lagi generasi tua banyak yang sudah tiada. Secara otomatis alat – alat tradisional yang ditinggalkannya pun tidak ada yang mengurusnya sehingga disimpan begitu saja disembarang tempat. Melihat keadaan ini, kedepan pihaknya akan mencoba menghidupkan kembali budaya menenun yang selama ini nyaris punah tersebut.

“Masyarakat kita disini menenun menggunakan benang yang dipintal sendiri.Tapi sekarang bahan baku untuk membuat benang agak kurang sehingga warga tidak bisa menenun kain,”jelas Putradi.

Menurut Putradi, kurangnya bahan baku kapas untuk memintal benang dikarenakan saat ini sudah sedikit masyarakat yang menanam kapas yang dijadikan bahan baku untuk itu. Berbeda dengan dulu,  banyak masyarakat yang menanam kapas. “Sekarang ada tinggal empat orang yang masih fokus memintal benang dan menenun. Tapi ini dilakukan ketika ada bahan bakunya,”katanya.

Ditambahkan Putradi, warga yang masih aktif memintal benang dan menenun ini selalu menggunakan bahan baku yang dibuat sendiri, meskipun bahan baku benang ada dijual di luar. “Bisa saja dilakukan setiap hari asalkan ada bahan bakunya. Apalagi penenun – penenun disini hanya menggunakan benang yang dipintal sendiri tidak memakai benang yang di produksi dari toko,”ungkapnya.

Kepala Desa Gumantar, Japarti menambahkan, menenun dan memintal benang ini masih diminati dikalangan remaja Gumantar. Bahkan generasi muda di Gumantar sangat tertarik dengan aktivitas ini, tetapi kendala bahan baku saja yang menjadi masalah. “Anak – anak muda di sini ingin belajar setiap sore pulang sekolah, namun karena bahan baku yang masih langka itulah yang menjadi kesulitan kita,”sesal Japarti.

Sebagai salah satu tokoh putra asli Gumantar, Japarti berharap, kedepan akan memprogramkan dan ingin membangkitkan kembali semangat budaya lokal gotong royong kepada seluruh warganya untuk menanam kapas di ladang milik sendiri seperti dulu, sehingga nantinya warga tidak kesulitan lagi masalah bahan baku untuk menenun.(eko).

Leave a Reply

Your email address will not be published.

 

kartal escort pendik escort sex hikaye