404 Not Found


nginx/1.18.0 (Ubuntu)
Warga Genting Gunung Prau tolak pemanfaatan mata air yang tidak kantongi PKS - SUARA KOMUNITAS
11/10/2020

Kendal, Suara Komunitas. – Warga Desa Genting Gunung, di lereng Gunung Prau, Sukorejo, Kendal menolak pemanfaatan mata air di wilayah Gunung Prau yang tidak memiliki Perjanjian Kerja Sama (PKS). Hal tersebut untuk menjaga keseimbangan ekosistem, flora dan fauna di Gunung Prau demi tersedianya air bersih di masa depan. Demikian rilis yang dikirimkan melalui narahubung, Andi Gunawan, Jum’at (16/10).

Dalam rilisnya, Andi yang juga Ketua Garda Prau, mengungkapkan bahwa warga Genting Gunung telah menandatangani berita acara penolakan pemanfaatan mata air sesuai dengan rapat mediasi antara  Pemerintah Desa Genting Gunung dan Pemerintah Desa Pathak Banteng yang dilaksanakan pada hari Selasa, 6 Oktober 2020 di BFP (Bejen Forest Park) terkait pemanfaatan mata air di wilayah Desa Genting Gunung.

Dalam berita acara tersebut disepakati dan warga Genting Gunung akan melaksanakan tindakan,

1) Menertibkan pemakaian air di Wilayah Gunung Prahu yang tidak memiliki PKS (Perjanjian Kerja Sama);
2) Melakukan survey / kajian pemakaian mata air di hulu sungai Terong.
2. Berdasarkan hasil survey / kajian mata air yang akan diambil oleh Pemerintah Desa Pathak Banteng yang dilakukan oleh segenap warga Genting Gunung.

Pihak Perhutani, dan CDK 4 serta CDK 9, pihak Desa Genting Gunung memutuskan hal – hal sebagai berikut :
1) Menolak pemanfaatan sumber mata air yang berada di wilayah Desa Genting Gunung untuk dimanfaatkan oleh Desa Pathak Banteng mengingat sumber mata air tersebut mengarah / mengalir ke aliran sungai terong yang pada saat ini sudah dimanfaatkan oleh beberapa desa yang berada di aliran sungai kali terong tersebut.

Selanjutnya, 2) Berkomitmen untuk menjaga keseimbangan ekosistem baik flora maupun fauna di Gunung Perahu demi tersedianya air untuk warga lerang prahu di masa depan.
3) Berkomitmen untuk memulihkan hutan lindung di gunung prahu, khususnya di DAS Sungai Terong.
4) Berkomitmen untuk mengajak desa pemakai air di Gunung Prahu untuk menjaga keutuhan Hutan Lindung demi tersedianya air di masa depan.

Andi mengatakan, warga dan beberapa elemen naik ke mata air untuk mencabut pipa yang mengarah ke Igirmranak yang tidak ada PKS-nya, dan sebagian lagi menuju titik pengambilan air patak banteng.

Elemen warga naik ke mata air Gunung Prau, Jum’at (09/10). Foto Andi Gunawan

“Warga Bringinsari naik dari Balong. Warga Ngargosari, Purwosari, CDK 4, CDK Temanggung, Polhut, mantri sama mandor tanam, Fordas Bodri, manggung mangu, naik dari Kenjuran.  Sampai puncak kita ketemu di Pos 4 jalur kenjuran dengan warga Patak Banteng dan Genting Gunung,” ujar Andi melalui pesan WhatsApp, Jum’at (09/10).

Saat tiba di Pos 4 jalur pendakian Kenjuran, cuaca berkabut dan diputuskan untuk menunggu kabut menipis, karena medan jurang dan tebing dalam. “Di sana kami berembug langkah selanjutnya. Kami bagi tugas, sebagian warga Genting Gunung mencabut pipa yang mengarah ke Igirmranak yang tidak ada PKS nya, dan sebagian lagi kami menuju titik pengambilan air Patak Banteng,” lanjut Andi.

Andi menambahkan, dalam perjalanan menuju titik pengambilan air, di HT (handy talky) sudah banyak suara-suara yang menyebutkan bahwa pipa-pipa Patak Banteng dirusak dan dipotong, “padahal kami belum tahu lokasinya dan belum sampai.

Saat itu, lanjut Andi,  Kades Genting Gunung, Kades dan Bhabinkamtibmas Purwosari menuju Patak Banteng dengan kendaraan dan belum bisa menyusul ke puncak karena cuaca hujan angin.

“Sampai di TKP kami sudah mendapati beberapa warga Patak Banteng sudah di lokasi sebelum kami sampai. Dan anehnya, pipa yang ada di seberang warga Patak Banteng itupun sudah terpotong-potong,  padahal posisinya berlawanan denga arah kedatangan kami.” Pungkasnya. (Redaksi)

Tagged on:

Leave a Reply

Your email address will not be published.

 

kartal escort pendik escort sex hikaye