404 Not Found


nginx/1.18.0 (Ubuntu)
Tiga Hari Tersesat di Gunung Rinjani, Siti Mariam Tidak Makan dan Tidur - SUARA KOMUNITAS
03/08/2017

Siti Mariam terpisah dari rombongannya saat turun dari puncak gunung Rinjani Minggu lalu (30/7). Selama tiga hari tersesat sebelum akhirnya ditemukan warga.

Siti Mariam tidak pernah menyangka akan mengalami peristiwa yang akan selalu diingatnya. Dia berjuang agar bisa tetap selamat dari ganasnya medan gunung Rinjani. Keyakinan yang kuat untuk dapaat menemukan jalan memberinya semangat untuk dapat bertahan dan terus berjalan turun naik jurang hingga mendapatkan pertolongan warga yang ditemuinya.

Siti begitu kagum menikmati pemandangan dari puncak gunung Rinjani. Kekagumannya itu membuatnya ingin berlama-lama di puncak gunung berapi ini. Apalagi Siti, sudah sejak lama ingin menaklukkan puncak Rinjani. Namun kondisi cuaca tidak memungkinkannya berlama-lama di puncak Rinjani. Bersama 27 orang rekannya, cewek 29 tahun asal Cakung, Jakarta Timur itu lalu turun dari puncak.

Rombongan ini beriringan turun. Sampai di leter S, Siti ingin buang air kecil. Dia lalu menuju semak berlukar di dekat jalur turun ke Pelawangan dan menitipi barang-barangnya berupa tas, ponsel dan lainnya pada rekannya. Dia lalu meminta rekan-rekannya melanjutkan perjalanan dan akan menyusul setelah buang air kecil.

Begitu selesai buang air kecil, Siti bermaksud menyusul rekan-rekannya. Namun rupanya ia salah mengambil jalur hingga tersesat ke jalur tebing yang terjal berupa bebatuan dan pasir.

Sadar tersesat, Siti berusaha kembali ke jalur awal dengan menaiki tebing. Namun ia terperosok ke bawah hingga tidak ada pilihan lain kecuali menuruni tebing. “ Saya sempat jatuh terperosok ke dalam jurang saat hendak berusaha naik,” tuturnya kepada koran ini di Puskesmas Sembalun, Rabu kemarin (2/8).

Tidak memiliki pilihan, Siti terpaksa harus terus menuruni tebing-tebing terjal. Terlebih dilihatnya ada tanah lapang di bawah. Namun setelah sampai di bawah ternyata bukan tanah lapang yang didapati melainkan tebing. DIa berusaha mencari jalan agar bisa menuruni tebing tersebut guna menemukan jalan untuk kembali ke track turun ke Sembalun.

Pada hari pertama ia tersesat, Siti mengaku sempat mendengar rekan-rekannya memanggil dari kejauhan namun dia tidak bisa melihat dan terhalang gunung dan bukit. Siti berusaha menjawab panggilan rekan-rekannya dari dasar tebing akan tetapi mereka tidak mendengarnya.

Siti terus berjalan dengan menapaki jalan yang bisa dilalui dengan menuruni atau menaiki tebing untuk berusaha mencari jalan agar dapat menemukan teman-temannya. Dia terus berjalan mengikuti instingnya. Saat malam gelap, ia berjalan mengikuti petunjuk bunga edelweis yang terang dan memantulkan cahaya saat malam hari dengan tanpa arah dan tujuan yang jelas.

Tidak kenal putus asa, ia terus melangkahkan kakinya tanpa tidur sedetikpun selama dua hari dua malam. Berjalan menelusuri tebing-tebing terjal tanpa menggunakan sepatu. “Saya heran kok bisa sepatu saya lepas sehingga selama tiga hari perjalanan sama sekali saya tidak pakai sepatu atau sandal,” jelasnya.

Pada hari kedua dalam usahanyamencari jalan untuk turun ke Sembalun, Sitimelihat dari kejauhan ada sosok orang berpakaian putih berjalan mendaki. Dia berusaha mendekati orang tersebut. Namun setelah berjalan cukup jauh rupanya di depannya tebing menghadang.

Lapar dan haus sudah tidak lagi tertahankan. Siti berusaha untuk dapat menemukan sumber air. “Saya tiba-tiba melihat air pancuran air berusaha mendekati, berharap bisa dapat air untuk minum serta mengambil air wudhu untuk dapat melaksanakan salat,” ungkapnya. Namun setelah mendekat ternyata pancuran tersebut tidak ada. Sehingga menganggap itu hanya illusinya lantaran mengalami kehausan yang luar biasa.

Setiap malam ia melihat lampu senter dari para pendaki dan berusaha mendekatinya namun lagi-lagi terhalang tebing curam yang tidak dapat dapat dilalui. Setelah berjalan kembali, dia melihat cahaya dari kejauhan. Dia meyakini itu pemukiman warga Sembalun. Siti lalu menuju arah cahaya itu.

Pada malam ketiga capek dan letih serta kantuk tak lagi tertahankan. Dengan perut keroncongan dan tenggorokan yang kering, ia tertidur di semak di sebuah tebing. Saat tidur ia mengaku sempat mendengar percakapan dua orang perempuan. “Salah satu dari mereka meminta saya diperiksa apakah saya masih hidup atau sudah mati,” jelasnya.

Dingin menembus jaket membuat Siti terbangun. Dia kembali melanjutkan perjalanan. Dengan langkah gontai lantaran lelah serta haus dan lapar, dia terus berjalan. Namun semangat hidup masih tetap menyala hingga berusaha ia mengayunkan langkah untuk segera dapat menemukan pertolongan. “Saya akhirnya menemukan ada sapi dan melihat padang savana dari atas. Saya kemudian turun dengan mengikuti jejak kaki sapi dan kotorannya,” terangnya.

Rabu kemarin (2/8) sekitar pukul 07.30 Wita ia samapai padang savana tempat penggembalaan sapi warga Sembalun yang dinamakan Ngabangan. Terletak antara pos satu dan pos dua atau sekitar 6 km dari puncak Rinjani.

Dari kejauhan ia melihat seseorang duduk dengan posisi membelakanginya. Sepontan ia teriak sekuat tenaga meminta pertolongan. Rupanya suaranya didengar oleh orang yang bernama Suhalwadi alias Amaq Abing, warga Sembalun Lawang yang kebetulan sedang mengecek sapinya. “Saya segera mendekatinya dan bertanya kondisinya. Dia mengaku sudah tiga hari tiga malam tidak makan dan minum,” kata Amaq Abing menuturkan.

Siti sempat menanyakan ada air dan makanan yang bisa dimakan karena sudah tidak tahan lagi. Suhalwadi memberikan air yang ditampung dengan jeriken. “Saking hausnya setengah jeriken langsung habis diminumnya,” ujarnya.

Sahalwadi lalu membawa Siti menuju sepeda motornya yang berjarak sekitar 1,5 km. Dengan dibonceng sepeda motor akhirnya sampai di Sembalun dan langsung dilarikan ke Puskesmas. (Jalal)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

 

kartal escort pendik escort sex hikaye