404 Not Found


nginx/1.18.0 (Ubuntu)
Speaker Kampung, Komitmen Kawal Perda KTR di Lombok Timur - SUARA KOMUNITAS
03/05/2020

Lombok Timur.SK_Lembaga Media Komunitas Speaker Kampung bersama dengan Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) tergerak ikut mengawal penegakan perda Nomor 3 Tahun 2014 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) Provinsi NTB dan Perda KTR No 10 Tahun 2015 Kabupaten Lombok Timur. Salah satunya dilakukan dengan gerakan jurnalisme warga untuk mengkampanyekan Perda tersebut di Kabupaten Lombok Timur.

Dari 20 Jurnalisme Warga atau JW tergabung dalam Media Warga ini akan terjun meliput kondisi yang ada terkait rokok. Selain mengawal Perda KTR, Speaker Kampung juga terus mendorong dan mengawasi pelayanan dasar dan respon pademi Covid-19.

Chairman Speaker Kampung Hajad Guna Roasmadi, SH alias Eros dalam statemenya berkomitmen untuk terus mengajak kawan-kawan JW dalam mengkampanyekan Perda KTR itu. Ia melihat bahwa Perda KTR belum maksimal disosialisasikan oleh pemerintah.

“Melihat kondisi yang ada, anak-anak sekolah secara bebas kita lihat merokok menggunakan pakaian seragamnya, sebelum masuk sekolah atau disaat keluar main” Jelas Eros pada awak media Sabtu 2/5/2020.

Tak hanya itu, Perda KTR masih sebatas aturan di kertas saja. Ia melihat banyak hal yang belum diterapkan, masih banyaknya yang merokok di tempat layanan publik. Belum lagi poster promosi rokok di depan sekolah bahkan di lingkungan sekolah menjadi sorotan Speaker Kampung.

Untuk itu ia berharap, peran JW bisa menyebarkan informasi kepada masyarakat terkait dengan KTR dan kondisi nyata yang ada di kawasan-kawasan yang dilarang untuk merekok.

Kegiatan mentoring JW yang diselenggarakan PPMN dan Speaker Kampung“Kami mengundang JW dari 5 Kecamatan untuk memproduksi informasi terkait dengan KTR ini, sehingga semua orang paham terkait dengan keberadaan Perda KTR dan pemerintah juga mengetahui sejauh mana penerapan Perda KTR,” katanya.

Selain mengawal perda KTR, Media Speaker Kampung kata Eros sebagai wadah untuk menampung keluhan warga yang termarjinalkan. Pria kelahiran 15 Juni 1984 ini menyebutkan media lain untuk menyuarakan akar rumput dirasa begitu jauh dari harapan. Karena lanjutnya, media kebanyakan menyajikan berita tentang politik, untuk kepentingan elit politik atau bos perusahaan media itu sendiri, apalagi menjelang pesta demokrasi.

Lalu pertanyaannya, siapakah yang akan mengangkat informasi bagaimana kehidupan orang desa untuk dikonsumsi orang kota, jika bukan media warga?

Dan biasanya lanjut Eros, media lain menyajikan berita untuk mengejar rating tanpa memperhatikan asas manfaat yang dirasakan oleh warga. Sebenarnya, kehadiran media disamping sebagai alat kontrol kebijakan pemerintah, terpenting adalah sebagai media edukasi bagi warga. Nah, media komunitas Speaker Kampung, hadir untuk itu.
Penulis: Rozi

Leave a Reply

Your email address will not be published.

 

kartal escort pendik escort sex hikaye