14/09/2018

MEKAR (SK) – Pulau Bokori merupakan salah satu objek wisata yang terkenal di Sulawesi Tenggara (Sultra). Pulau ini berada di Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe. Pulau Bokori terletak ditengah lautan luas dan berhadapan langsung dengan perkampungan Suku Bajo yang mendiami wilayah sekitaran pulau tersebut. Untuk sampai ke Pulau Bokori dari Kota Kendari, dibutuhkan  waktu tempuh sekitar 30 menit berkendara ke perkampungan Suku Bajo di Desa Mekar, Kecamatan Soropia. Dari Desa Mekar, peralanan di lanjutkan dengan menyebrang menggunakan kapal dengan waktu tempuh sekitar 8 menit. Banyak jasa penyebrangan yang disediakan oleh para penduduk. Tarifnya pun terbilang murah. Di hari biasa, wisatawan cukup  merogek kocek Rp 15.000 sedangankan dihari libur bisa mencapai Rp 30.000 per orang.

Salah satu daya tarik Pulau Bokori adalah pasirnya yang putih. Airnya pun sangat jernih dan mudah keruh, serta birunya laut lepas yang terpampang jelas di depan mata menjadi pemandangan tersendiri yang sayang untuk di lewatkan. Apa lagi, jika laut dalam kondisi tenang. Dengan gulungan ombak yang tidak terlalu tinggi, Pulau Bokori menjadi tempat ideal untuk berenang dengan bebas dan sepuas hati. Namun, jika ingin berenang lebih jauh ke ttengah laut sebaiknya berhati-hati agar tidak menginjak bulu babi.

Sebelum dijadikan objek wisata bahari oleh Pemerintah Kota Kendari, Pulau Bokori dulunya merupakan perkampungan bagi Suku Bajo. Dalam kurung waktu 31 tahun terakhir, Pulau Bokori tidak lagi berpenghuni. Seiring berjalanya waktu, penduduk pun  bertambah. Kemudianpemindahan penduduk dilakukan secara bertahap, sejak akhir 1980-an dibawah pemerintahan Gubernur Alala.

Menurut kepala desa Pulau Bokori Abdul Samad, periode 1980-1987 bahwa luas pulau sekitar enam hektar, ini hasil pengukuran tahun 1977. Sedangkan jumlah penduduk hingga bulan Februari 1984 tercatat 238 kepala keluarga (1.250 jiwa), awal tahun 1984 saat itu kondisi Pulau Bokori memang kritis. Tindakan yang dilakukan pemerintah Kota Kendari itu untuk menyelamatkan Pulau tersebut beserta para penduduk Suku Bajo, dari hantaman ombak laut Banda sepanjang tahun. Hal yang membuat pemindahan penduduk dikarena kan, hamparan batu-batu karang yang ada disekitaran Pulau Bokori telah habis diambil oleh para penduduk untuk keperluan bahan bangunan. Serta beratnya beban penduduk yang sekian tahun bertambah, dengan luas Pulau seperti itu tidak cukup untuk menapung ribuan penduduk Suku Bajo.

Pemindahan tersebut bukan tanpa halangan. Sebagian besar penduduk menolak untuk dipindahkan karena merasa telah meiliki keterkaitan dengan Pulau itu. Salah satu tokoh agama di Desa Mekar saat in, yaitu H Aminudin, biasa dikenal dengan nama sebutan H Ndoli. Ia mengatakan, ketika waktu pemindahan penduduk ke daratan, banyak yang menentang (menolak) pemindahan tersebut. Hanya dirinya dan sebagian kecil penduduk lainnya yang bersedia (setuju) untuk dipindahkan. “Waktu itu banyak yang menetang. Alasannya meraka menolak karena nanti tidak bisa hidup didaratan. Hanya saya dan beberapa penduduk lainnya yang bersedia. Tapi begitu kami melihat hidup didaratan lebih menjanjikan, sehingga kami pun berbondong-bondong untuk pindah ke daratan”. UjarAminudin.

Pemindahan tersebut, masyarakat terbantu dengan sumber air yang sudah tidak jauh lagi untuk mengambilnya. Karena saat pemindahan belum terjadi masyarakat mengambil air untuk kebutuhan sehari-hari, harus membawa sampan kedaratan untuk mengambil air bersih. Terkadang apabila ada salah satu masyarakat yang meninggal dunia, saat memandikan jenasah para penduduk membawa jenasah ke pinggir pantai, untuk dimandingan dengan air laut. Sebab air bersih yang kurang dan jarak yang jauh untuk mengambilnya.

Para penduduk pun mulai sadar, bahwa hidup didaratan sangatlah menguntungkan bagi mereka, dan sebagian dari kebutuhan mereka ada didaratan. Dan salah satu penduduk yaitu bapak Rasyi Lamidi mengungkapakan bahwa, hidup di daratan sangat lah menjanjikan untuk keperluan sehari-hari. “Dengan pemindahan tersebut, kami lebih terbantu sebab 75% kebutuhan yang kami butuhkan berada didaratan. Salah satunya adalah sumber air yang tidak jauh lagi, dan jarak untuk kekota pun lebih berkurang” ujar Rasyid Lamidi.

Saat pemindahan telah terjadi, penduduk setempat pun menamakan Desa tersebut dengan sebutan Desa Mekar. Para penduduk mengatakan bahwa kata mekar ialah kata dari pemekaran, dimana penduduk Pulau Bokori yang berpindah kedaratan. Dan dari saat itu lah Pulau Bokori pun mulai dilupakan (terlantar). Sebelum terlantar, Pulau Bokori sebelumnya sudah menjadi objek wisata di Sulawesi Tenggara di era pemerintahan La ode Kaimoeddin. Pulau Bokori sempat Berjaya sebagai salah satu obyek wisata bahari andalan bumi Anoa, julukan bagi lain Sulawesi Tenggara.

Awal tahun 2000-an, Pulau Bokori yang begitu rindang, berubah menjadi gersang dan hanya menyisahkan jejeran pohon kelapa. Sebab, sebagian masyarakat yang tidak bertanggung jawab mulai merambah Pulau Bokori. Pasir, batu karang, dan pepohonan tak luput dari tangan-tangan jahil mereka. Sehingga abrasi semakin tak terkendali, karena pasir dan batu karang yang tarus diambil oleh sebagian dari masyarakat. Sejak saat itulah, gema Pulau Bokori tak terdengar lagi. seiring berjalannya waktu namanya kian tenggelam.

Setelah sekian lama terbengkalai, Pemprov Sulawesi Tenggara di bawah komando Nur Alam pada tahun 2014 ingin kembali menjadikan Pulau Bokori sebagai destinasi wisata andalan Sultra. Tak tanggung-tanggung, pulau itu akan disulap menjadi objey wisata. Karena itu, berbagai perubahan terus dilakukan. Istilahnya di dandani agar pulau ini cantik seperti sediakala. Sebagai langkah awal memperkenalkan kemolekan Pulau Bokori, pemerintah Sulawesi Tenggara secara resmi meluncurkan Festival Bokori 2015 di Hotel Grand Clarion Kendari pada senin (12/10/2015) lalu. Festival Bokori ini, akan dijadikan moment untuk memperkenalkan Pulau Bokori lebih luas lagi, tak hanya kepada wisatawan local namun juga kepada wiasatawan manca Negara.

Pulau Bokori juga menjadi salah satu pulau favorit bagi pasangan yang baru menikah. Hal ini karena ketanangan dan eksotis Pulau Bokori yang membuatnya seperti pulau yang romantis. Salah satu pasangan yaitu Aditya dan Ririn, mengungkapkan bahwa pemandangan yang bisa dirasakan dari Pulau Bokori masih alami “ saya jatuh cinta dengan pasir putihnya yang panjang, ketika air laut surut maka akan terlihat pemandangan yang begitu istimewa akan keindahan pasir putihnya yang begitu panjang “ ujar Aditya

Pasir pantai yang putih, warna laut yang biru sebening Kristal dan deratan pohon kelapa di pinggir pantai, ialah pemandangan pertama yang akan kita lihat jika menginjakkan kaki ke pulau tersebut. Kita akan melewati jembatan yang berdiri di atas laut yang biru, dari jembatan itu kita akan melihat pantulan-pantulan bayangan pohon kelapa di atas air laut. Kita juga akan melihat warna biru air laut yang menyatu dengan warna biru di langit. Lautan biru yang luas seakan tidak ada ujungnya, akan menenangakan pikiran. Meski di tumbuhi pohon kelapa yang berjejer rapi, udara di Pulau Bokori pada siang hari sangat panas. Hal ini di karenakan kurangnya pohon pelindung. Walau begitu, hal ini tidak akan mengurangi keeksotisan pemandangan dipulau tersebut. Angin sepoi-sepoi akan senantiasa menyapa wajah dan tubuh kita. (Febriani/BB)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *