14/02/2017

MASAMBA (SK) —– Suku Masapi adalah sebuah nama kampung tua yang mempunyai filosofis tersendiri yang kemudian melekat pada pada suatu komunitas yang selanjutnya dikenal sebagai Kombong Pitu Masapi, salah satu bentuk pemerintahan terkecil di bawah kekuasaan Kerajaan Luwu setelah Kemakolean Baebunta. Di dalam Katomakaan Masamba, berdiri tiga Katomakaan Kembar, dan salah satunya adalah Katomakaan Masapi, melengkapi dua lainnya, yakni Katomakaan Uraso dan Katomakaan Masamba itu sendiri.
 

Menariknya, dalam Katomakaan Masapi ada sebuah tarian yang kemudian dikenal sebagai Tari Longge, yang mana tarian ini diperagakan oleh para orang tua dan tokoh adat setempat sebagai bagian dari ungkapan rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Biasanya tarian ini dilakukan saat sebelum turun sawah dan setelah panen. Namun terkadang juga dilakukan pada saat acara-acara penting yang dilakukan di Desa Sepakat, Pincara dan Lantang Tallang, tiga desa yang merupakan representasi dari suku Masapi.
 

Dan tarian itu juga yang mengawali perhelatan akbar Turnamen Sepak Bola Masapi Cup II yang digelar Minggu kemarin. Saat pembukaan Turnamen Sepak Bola tersebut, Asisten I Pemda Kabupaten Luwu Utara, Andi Sarappi, mengaku terkesima dengan tari longge. Saking terkesimanya, Asisten Pemerintahan dan Kesra itu meminta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk membantu mengembangkan tarian tersebut.
 

“Tadi saya melihat sebelum acara ini dibuka, ada tarian yang cukup menarik bagi saya. Terus terang, saya terkesima melihat tarian itu, apalagi yang memeragakannya adalah para orang tua, bukan anak muda,” ujar Sarappi di hadapan ratusan warga suku Masapi yang memadati pinggir lapangan Lapadondanan Desa Sepakat, venue Turnamen Masapi Cup yang nampak cukup indah dipandang.
 

Sarappi menambahkan, tari longge layak berdiri sejajar dengan tari dero di Pamona, tari ma’badong di Toraja dan tari lulo di Kendari. “Kalau di Pamona ada tari dero, di Toraja ada namanya ma’badong, dan di Kendari ada namanya Lulo, maka kita juga harus berbangga karena ada tari longge yang masih lestari. Tarian ini identik dengan ma’jaga di kedatuan. Tarian ini layak kita kembangkan. Dan semoga Dinas kebudayaan dan Pariwisata bisa menangkap peluang dan potensi ini,” harap Sarappi. (Lukman Hamarong)
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

kartal escort pendik escort sex hikaye