23/10/2018

Pekalongan Kota, Suara Komunitas. – Beragam penggiat komunitas di Kota dan Kabupaten Pekalongan sepakat untuk terus menyuarakan suara akar rumput. Kesepakatan tersebut terungkap dalam sebuat diskusi bertajuk Ngobrol karo Ngopi, Komunitas Cerito Wong Pekalongan di Alesscow Coffe, Simbangkulon Gang 2, Buaran, Kota Pekalongan, Sabtu (20/10) lalu.

Foto bersama. Penggiat komunitas di Kota dan Kabupaten Pekalongan berfoto bersama setelah gelaran diskusi Ngobrol karo Ngopi, di Alesscow Coffe, Simbangkulon, Sabtu (20/10)

Budi Rahayu Setiawan, Komunitas Persatuan Sopir dan Kenek (Personek) Lebakbarang mengungkapkan bahwa selama ini mereka menyuarakan kondisi jalan di ruas Karanganyar-Lebakbarang yang berpuluh-puluh tahun belum pernah merasakan mulusnya jalan, “Selama berpuluh-puluh tahun kami mengidamkan ruas jalan Karanganyar hingga Lebakbarang, mulus, tidak ada yang rusak. Walaupun kami tidak menutup mata, ada perbaikan jalan yang dilakukan oleh pemerintah, namun perbaikan tidak penuh. Kalau bagian bawah jalannya mulus, bagian atas rusak. Demikian sebaliknya,” tuturnya saat diskusi.

Berbeda dengan komunitas lain, Personek mengambil langkah untuk bergotong-royong memperbaiki jalan yang rusak. “Kami tidak berpangku tangan … bila kelompok warga lainnya melakukan aksi demo ketika melihat jalan rusak, kami melakukan aksi dengan memperbaiki jalan, sesuai kemampuan kami … walaupun setelah perbaikan yang dilakukan oleh warga dan relawan Personek tidak bertahan lama, setidaknya bisa mengurangi resiko kecelakaan,” lanjutnya.

Pemuda yang aktif juga dalam komunitas peduli Sungai Sengkarang ini mengungkapkan bahwa usaha yang dilakukan oleh warga, sudah seharusnya disuarakan, untuk menjadi inspirasi bagi warga lainnya.

Hal yang sama diungkapkan oleh Hamam Agus Triadi, dari komunitas North Zone Pekalongan Raya. Organisasi komunitas suporter bola Persekap Pekalongan ini memandang bahwa menyuarakan suara warga dan komunitas menjadi bagian penting agar warga lainnya tahu bagaimana komunitasnya mendorong kebijakan pemerintah.

“Kami dulu sempat mengundang wartawan media Mainstream, untuk menyuarakan tuntutan kami, yakni memperbaiki manajemen Persekap Pekalongan. Sempat ada perbaikan setelah itu, namun seiring perjalanan waktu dan ganti kepemimpinan di Kota Santri, kondisi persepakbolaan di Kabupaten Pekalongan kembali terpuruk. Disinilah pentingnya kembali menyuarakan kembali, agar persepakbolaan di Pekalongan ada perbaikan,” tutur Hamam.

Didiek Harahap, Pemimpin Umum Warta Desa, media komunitas di Pekalongan mendukung keinginan dari beragam komunitas di Pekalongan dan sekitarnya untuk terus menyuarakan suara warga. “Sebagai bagian dari warga, kami mendukung apa yang teman-teman komunitas inginkan. Setidaknya dengan menyuarakan akar rumput, suara mereka akan lebih terdengar. Sudah saatnya warga bersuara, tidak disuarakan lagi,” ujarnya.

Diskusi yang diikuti oleh Komunitas Lubang Jarum Indonesia (KLJI) Pekalongan, Persatuan Sopir dan Kenek (Personek) Lebakbarang, Komunitas Peduli Kali Sengkarang, North Zone Pekalongan Raya (NPZR), Pecinta Owa Jawa-PekaOwa Petungkriyono, penggiat Warta Desa ini berlangsung menarik.

Diskusi digelar untuk memantik warga dan penggiat komunitas untuk menyuarakan suara akar rumput dalam bentuk cerita warga. Komunitas Cerito Wong Pekalongan memandang bahwa cerita warga tidak hanya cerita dongeng, fiksi. Namun cerita keseharian di lingkungan masing-masing warga, juga bagian dari cerita warga. Cerita tersebut yang nantinya akan disuarakan oleh beragam komunitas dan warga dalam bentuk terlulis di media komunitas Warta Desa. Ujar Eva Abdullah Ajis, jurnalis warga yang menyebut dirinya sebagai gerilyawan media. (Warta Desa)

Tagged on:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

kartal escort pendik escort sex hikaye