05/03/2019

Tapanuli Selatan (Suara Komunitas.Net) – Jansen Pasaribu (84) warga Desa Haunatas Kecamatan Marancar Kabupaten Tapanuli Selatan adalah sosok yang sangat dikenal luas oleh warga Haunatas karena perannya selama ini sangat penting bagi keberlanjutan pertanian masyarakat setempat.
Kendati usianya sudah ujur, Jansen Pasaribu hingga saat ini masih mengembang tugas sebagai Mantari Bondar (Pengatur Pintu Air) untuk lahan persawahan di Desa Haunatas. Dia dianggap cukup berjasa untuk menyelamatkan lingkungan.
Di suatu pagi, ketika Pewarta menyambangi rumahnya yang sederhana bersama isterinya Minah Hutapea yang juga sudah lanjut usia. Jansen Pasaribu sedang berkemas-kemas untuk berangkat ke tempatnya kerjanya. Dengan raut wajah yang sudah keriput, ternyata tidak menghilangkan semangat Jansen untuk bekerja mencari nafkah. Setelah menyantap sarapan yang dipersiapkan isteri tercintanya, Jansen Pasaribu dengan memegang peralatan kerja yang sangat sederhana pamit kepada sang isteri untuk melakukan aktifitas sehari-harinya.
Pria yang sudah lanjut usia ini ternyata memiliki delapan orang anak, sembari berjalan menyusuri jalan tikus bersama Pewarta, dia tidak segan-segan mengungkapkan pengalamannya selama menjadi Mantari Bondar di desanya.
“Saya sudah menjadi Mantari Bondar sejak tahun 1958, selama menjadi Mantari Bondar banyak warga, khususnya yang memiliki lahan persawahan yang terbantu,”katanya polos.
Menurutnya, pekerjaan sebagai Mantari Bondor merupakan warisan dari Kakeknya bernama Moses Pasaribu, yang diyakini sebagai orang pertama yang membuka Kampung atau Desa Haunatas.
Untuk mencapai lokasi pintu air, terang Jansen Pasaribu, harus berjalan kaki sekitar 3 – 4 kilometer dari rumah kediamannya.
Selama melaksanakan tugas sebagai Mantari Bondar, sebutnya, dia tidak pernah mengeluh walau saat bersamaan turun hujan lebat.
“Kalau hujan lebat, di pastikan terjadi longsor sehingga pintu air pun terganggu, karena itu saya harus naik ke pintu air untuk melihatnya,”katanya.
Jansen Pasaribu menyebutkan, desa mereka pernah terjadi kekeringan karena pintu air yang ada mengalami kerusakan. Karena kerusakan itu, banyak warga yang berencana untuk pindah ke desa lain untuk bisa mempertahankan hidupnya.
Namun, setelah dilaksanakan Musyawarah Desa, akhir ada kesepakatan untuk segera memperbaiki Tali Air yang rusak.
Tindak lanjut dari kesepakatan saat Musyarawah Desa dibuktikan dengan kehadiran warga untuk melaksanakan gotong royong memahat batu yang panjangnya lebih kurang 4 meter.
Setelah belajar dari pengalaman itu, akhir disepakati juga agar warga tidak lagi menebang kayu di daerah tangkapan air Tali Air yang sudah diperbaiki.
Selanjutnya, disepakati juga untuk mengatur penggunaan air ke persawahan Mantari Bondar dibantu sebuah Tim yang berjumlah 7 orang yang berasal dari warga.
Selain bertugas untuk memantau penggunaan sumber air di lahan persawahan warga, Tim 7 ini juga bertugas untuk mengutip swadaya dari warga sebagai iuran setiap kali panen.
“Setiap dilaksanakan panen, petani sebagai pemilik lahan wajib memberikan dua kaleng padi kepada Mantari Bondar dan Tim 7,” kata Jansen Pasaribu sembari berjalan menuju lokasi Tali Air.
Jansen Pasaribu juga mengakui, apabila ada warga yang tidak bersedia memberikan swadaya atau iurannya, maka tahun tanam berikutnya tidak lagi didistribusikan lagi air ke lawannya.(faisal rizal)

Editor : Tohap P.Simamora

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

kartal escort pendik escort sex hikaye