26/05/2017

Lombok Timur, SK- Jambore Speaker Kampung (JSK-2017), yang diselenggarakan oleh Lembaga media komunitas Speaker Kampung. Kegiatan ini diikuti puluhan komunitas, tersebar di lima Kecamatan di Lombok Timur, Kecamatan Suela, Sambelia, Pringgabaya, Wanasaba dan Aikmel.
JSK 2017 ini dijadikan ajang silaturrahmi antar komunitas, untuk mejaring pemuda, pelajar dan mahasiswa menjadi Jurnalis Warga (JW) yang profesional, untuk menyuarakan aspirasi akar rumput.Kegiatan komunitas ini, diselenggarakan pada, 20-21 Mei 2017, bertempat di lokasi Kebun Raya, Desa Suela, Kecamatan Suela, Lombok Timur, NTB.

Adapun komunitas yang ambil bagian diacara JSK ini adalah, Sanggar Lempot, Sanggar Sang Alang, JW Sambelia, JW Toya, JW Lenek, JW Suela, JW Dasan Lian, Pinbid Toya, OSIS SMAN 1 Wanasaba, Wanasaba Kreatif, Pokdarwis Gawar Gong, Sketsasak Olor Chetox, Formula, Kapsul, dan ibu-ibu PKK.

Tujuan diadakan acara tahunan JSK ini menurut ketua Lembaga Media Komunitas Speaker Kampung, Hajad Guna Roasmadi atau akrab di panggil Eros adalah, untuk menjaring bakat warga sebagai penulis atau Jurnalis Warga (JW).
Eros menambahkan, seorang JW diharapkan mampu mengangkat isu yang terjadi disekitarnya lewat media Speaker Kampung agar pemerintah mendengarnya. Lebih jauh eros menegaskan, jika kita selaku warga tidak punya nayali untuk bersuara, lalu siapa lagi yang akan kita harapkan untuk menyuarakan hak-hak warga akar rumput.

Nah, itulah alasan panitia JSK-2017 mengangkat tema "Saatnya Warga Bersuara", untuk mengimbangi maraknya berita Hoax yang bisa menggiring opini masyarakat kearah yang tidak baik. Oleh karenanya, keberadaan JW sebagai penyambung lidah warga sangatlah penting. Tidak mungkin kita mengharapkan media lain untuk mengangkat isu yang terjadi di tengah masyarakat. Permasalahan yang sering timbul di masyarakat seperti, tindak kekerasan fisik maupun non fisik orang tua kepada anaknya. Diskriminalisi pada perempuan, pelayanan kesehatan dan pendidikan, permasalahan buruh migran, bahkan kurangnya perhatian pemerintah bagi penyandang disabilitas dan masih banyak yang lainnya.

Untuk mengangkat isu tersebut diatas, tentu dibutuhkan JW yang tahu persis keadaan warganya. Mengaharapkan media mainstream lainnya untuk menyuarakan isu seperti itu menurut Eros tidaklah mungkin. Alasannya, karena biasanya media mainstream banyak ditunggangi elit politik dan para pengusaha, yang notabene orang berduit untuk memuluskan tujuan bisnisnya. "Saya berpesan kepada teman-teman JW, jangan takut untuk menulis. Teruslah menulis, menulis dan menulis," ungkap Eros yang identik dengan rambut gondrongnya.

Suara senada juga datangnya dari seorang aktivis sosial Khaerul Anwar, yang hadir mengikuti kegiatan JSK dari awal hingga akhir acara. Keberadaan JW disetiap desa, katanya, merupakan hal yang sangat penting dan perlu mendapat perhatian.

Untuk menjadi JW yang profesional, harus mampu meningkatkan kapasitas, karena JW berperan sebagai penyambung aspirasi warga yang diwakilinya. Menacari, menulis dan menyebarkan berita itu harus sejalan dengan tuntutan zaman (terupdate).
"Seorang JW harus pintar melihat situasi yang dijadikan bahan berita, dan berita yang akan disampaikan juga harus berimbang, sesuai fakta yang terjadi di lapangan," tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, aktivis sosial, Hafiz menjelaskan, seorang JW harus bisa mengetuk hati komunitasnya agar mampu dan berani menyuarakan hak-hak warga, dengan harapan agar pemerintah bisa mendengar suara warga lewat media komunitas Speaker Kampung.

Turut hadir memberikan motivasi kepada peserta JSK adalah Ibu Martini, aktivis perempuan Lombok Timur. Dia berharap semoga media komunitas Speaker Kampung ini terus dipertahankan eksistensinya. Keberadaannya harus menjadi perhatian pemerintah. "Jika bukan kita, lalu siapa lagi yang kita harapkan menyuarakan akar rumput," harapnya.

Secara keseluruhan, semua peserta menanggapi positif kegiatan yang dilaksanakan oleh media Speaker Kampung ini. Mereka bahkan berharap, agar setiap tahunnya terus diadakan. Sebagaimana dikatakan peserta JSK Suryadi dan Awan dari komunitas Wanasaba Kreatif (WK). Komunitas WK ini membawa motto "Jika masih banyak yang positip, kenapa harus melakukan yang negatif". Dalam statemennya dia mengakui, jika JSK yang digelar oleh media Speaker Kampung ini punya manfaat besar bagi komunitasnya. Salah satunya adalah ilmu jurnalistik yang selama ini tidak pernah dia dapatkan dari komunitas lainnya. (Anggar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

kartal escort pendik escort sex hikaye