12/05/2017

KARYA TULIS TALENTA FM  LOMBOK, SK – Bayangkan saja, siswi SMPN 4 Praya Tengah yang biasa dipanggil Yuni ini adalah salah satu anak yang kurang beruntung diantara 6 siswa berkebutuhan khusus di sekolahnya, dia tidak bisa berjalan seperti orang normal lainnya, karena kedua kakinya cacat, kedua kakinya sangat kecil dan pendek, ukuran panjang kakinya mulai dari telapak kaki sampai paha panjangnya 30 cm, ukuran panjang badannya dari pangkal paha sampai leher sekitar 40 cm dan ukuran kepalanya agak besar dibandingkan postur tubuhnya yang mungil.

Menurut cerita ibunya yang bernama Saiyah, anaknya lahir pada tanggal 25 Juni 2003 di Dusun Lengkok Baru dan merupakan bayi yang normal serta sehat dengan berat badan 2.7 kg dan panjang 43 cm. Bayi tersebut diberi nama Yunita Cahyani yang artinya cahaya persahabatan. Yuni merupakan anak kebanggan sekaligus harapan keluarga untuk bisa menjadi anak yang sukses dan mandiri kelak setelah dewasa.

Saiyah melanjutkan ceritanya, sambil memandang langit-langit rumahnya yang terbuat dari anyaman bambu, seolah dirinya sedang menerawang waktu bahagia ketika anaknya masih balita. Hari demi hari ia merawat anak semata wayang dengan segala curahan kasih sayang seperti orang tua lainnya. Hingga pada suatu waktu pada hari kamis pagi sekitar pukul 08.30 Saiyah membawa Yuni ke Posyandu di dekat rumahnya untuk diperiksa kesehatan dan perkembangan berat badan serta tingginya juga untuk mendapatkan vitamin dan tambahan gizi lainnya. Namun pada hari itu yuni harus mendapatkan imunisasi. " Saya sebagai orang tua mengikuti saran dari petugas posyandu untuk mengimunisasi anak saya. Beberapa saat setelah diimunisasi, suhu badan anak saya panas, saya beranggapan bahwa itu pengaruh dari imunisasi,"tuturnya.

Pada malam harinya suhu badan anaknya demam tinggi, badannya panas sekali, mereka tidak bisa membawanya ke dokter karena disamping tidak punya biaya juga tidak ada yang bisa mengantar , ayah yuni di Malaysia sebagai TKI. " Saya hanya pasrah saja dengan keadaan sambil merawat anak saya sebisanya,"lirihnya.

Setelah beberapa hari mengalami demam dan panasnya tidak turun-turun, Saiyah membawa Yuni kedukun kampung dekat rumah yang biasa diminta tolong untuk menangani anak sakit, oleh dukun kepala anaknya dipegang kemudian dibacakan doa/mantra dan ditiup di bagian ubun-ubunnya. Menurut cerita orang yang sudah berobat ke dukun tersebut, biasanya berangsur-angsur si sakit akan pulih kesehatannya, namun itu tidak terjadi pada anaknya ketika itu.

Karena panasnya tidak turun, keluarga menjadi panik dan pada hari seninnya, keluarga membawa Yuni ke puskesmas pembantu Desa Lajut, dengan menumpang sepeda motor orang yang kebetulan lewat di jalan desa. Sampai di Pustu, belum ada petugas. Saat itu Saiyah berfikir,  mungkin karena dirinya datang terlalu pagi dan setelah beberapa saat menunggu, akhirnya perawat memeriksa anaknya, kemudian diberi obat yang dibungkus kertas kecil-kecil.  "Sesampai dirumah, Yuni  saya beri makan kemudian diberi obat dari pustu, dan alhamdulillah berangsur-angsur panasnya mulai turun. Tapi setelah anak saya sembuh, saya tidak mengerti kenapa justru perkembangan anak saya tidak normal, kedua kakinya kecil dan tidak bisa berkembang bahkan anak saya mengalami cacat fisik permanen,"ucapnya.

Itulah sekelumit cerita Saiyah orang tua dari Yuni.  Dia bercerita seolah mengenang masa bahagia dan masa sulit yang dialami anaknya. Terlihat kedua kelopak matanya meneteskan air mata, betapa tidak, harapan untuk membimbing anaknya menjadi anak yang sukses dan mandiri kelak seakan telah sirna. Ia hanya pasrah menerima ujian hidup ini dan bertekad mendampingi putrinya dengan segala apa yang dimilikinya, berusaha untuk membantu anaknya supaya bisa mencapai cita-citanya dan bisa mandiri, bahkan ia rela untuk tidak memiliki anak lagi dengan alasan ingin mencurahkan kasih sayang sepenuhnya pada anaknya untuk dapat meraih harapan hidupnya.

Keluarga Yuni termasuk keluarga miskin, Saiyah ibunya hanya lulus SMP Terbuka dan bekerja serabutan, kadang sebagai buruh tani yang penghasilannya tidak menentu, kalau sedang musim tanam atau panen padi, ibunya ikut membantu petani dan di upah Rp 25 ribu untuk tenaganya mulai pukul 8 pagi sampai pukul 14 siang. Sedangkan ayahnya juga hanya lulusan Madrasah Tsanawiyah, bekerja menjadi TKI di perkebunan sawit daerah Selangor Malaysia. Namun sejak tahun 2016 ayahnya dipulangkan dari Malaysia ke Desa Lajut lantaran sudah mengalami kecelakaan di tempat ia bekerja. Bagian kaki kanannya patah sehingga jalannya pincang, untuk berjalan butuh bantuan tongkat dan dikakinya masih terpasang sejenis logam atau “Pen” (Platina). Ayah yuni saat ini tidak bisa bekerja sehingga secara otomatis istrinyalah yang menjadi tulang punggung keluarga.

Walaupun perjalanan hidup keluarga Yuni penuh dengan cobaan dan ujian namun mereka tetap bersyukur atas segala rejeki, kesehatan dan nikmat hidup yang dikaruniakan Alloh SWT. Ini terlihat dari ketaatan mereka dalam menjalankan syariat agama islam serta ibadah lainya yang mereka lakukan. Keluarga yuni sangat bersyukur SMPN 4 Praya Tengah dapat menerima anaknya untuk bersekolah, tadinya mereka merasa bingung untuk memenuhi keinginan anaknya melanjutkan sekolah setelah tamat dari SD Selebung, karena SMP Luar Biasa (SMPLB) yang ada di kota Praya sangat jauh dari tempat tinggalnya dan butuh biaya yang besar sementara keluarga tidak mampu untuk membiayainya.

Menurut keterangan dan informasi dari kepala sekolah, Yunita Cahyani adalah salah satu siswi inklusi di SMPN 4 Praya Tengah Kecamatan Praya Tengah Kabupaten Lombok Tengah, NTB. Sekolah ini sebagai penyelenggara pendidikan inklusi (pendidikan khusus dan layanan khusus). Terdapat 25 siswa berkebutuhan khusus dan perlu layanan khusus sebagai peserta pendidikan inklusi yaitu; terdiri dari 6 siswa termasuk ke-tuna-an (cacat) perlu layanan khusus, 4 siwa termasuk “over” (nakal) perlu pembinaan khusus dan 15 siswa lamban belajar perlu bimbingan khusus.

Yunita Cahyani masuk kedalam katagori siswa inklusi ketunadaksaan, masih ada 5 siswa yang masuk dalam katagori ketunaan ini, ketunagrahitaan 1 siswa, semi ketuna runguan (tidak mendengar pada jarak tertentu) 2 siswa dan semi ketunanetraan (mata sebelah kiri buta) 1 siswa. Dari 6 siswa inklusi ketunaan ini, yang paling menderita adalah yuni, karena bukan itu saja derita dan keterbatasan yang dialami oleh yuni, ada keterbatasan lain selain cacat fisik, dia juga menderita rabun jauh dan rabun dekat (semi ketunanetraan), menurut yuni dia tidak bisa melihat jelas pada jarak lebih dari 4 meter, sehingga pada saat belajar di kelas, tempat duduknya berada lebih depan dibandingkan temannya yang duduk paling depan, begitu juga saat membaca dan menulis dia tidak bisa melihat jelas pada jarak normal. Masih ada keterbatasan lainnya yang diderita oleh yuni sebagai siswi inklusi ini yaitu dia tidak bisa mengangkat tangan kirinya dan gerakannya terbatas.

Saat ini Yunita Cahyani duduk dikelas VII.A. Setiap pagi pukul 07.00 diantar ibunya kesekolah dan pada siang harinya pukul 13.20 dijemput, ini sudah belangsung hampir satu tahun “sungguh besar pengorbanan seorang ibu untuk memperjuangkan anaknya agar dapat meraih harapan”. Ada kebutuhan yang belum bisa dipenuhi oleh keluarga dan sekolahnya untuk mendukung dia mengikuti proses belajar dengan lebih baik yaitu kaca mata dan kursi roda. Semoga para pembaca bisa menolong menyedekahkan kaca mata dan kursi roda untuk kebutuhannya menuntut ilmu.

Yunita Cahyani merupakan nama yang sangat indah, tapi tak seindah perjalanan hidupnya. Namun demikian tekad untuk menggapai cita-citanya yang ingin mengabdi dan membantu orang yang bernasib seperti dirinya tidak akan surut dengan segala keterbatasannya. Dia tidak mau berpangku tangan walau hidupnya tergantung dari orang lain, tekad untuk bisa meraih harapan hidupnya dia utarakan kepada ibunya sejak dia duduk di kelas 3 SD. Cacat fisik dan penuh keterbatasan bukan halangan untuk tetap sekolah.

Artikel ditulis oleh : Agus Sanjaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

kartal escort pendik escort sex hikaye