Provinsi Tapanuli Harus Lahir
Ingul Senter Pedesaan Tapanuli,
Gagasan pemekaran Provinsi Sumatera Utara menjadi beberapa propinsi adalah cerita lama, karena gagasan ini sudah muncul sejak Tahun 1957. Apalagi, Sidang I Komite Nasional Daelah [KND] Provinsi Sumatra Utara mengamanatkan Keresidenan Aceh, Keresidenan Sumatera timur dan keresidenan Tapanuli masuk wilayah Provinsi Sumatera Utara.
Amanat ini guna mengatasi kesulitan perhubungan ditinjau dari segi pertahanan. Tapi setelah era reformasi dan otonomi daerah bergulir, gagasan yang terpendam tadi muncul kembali, bahkan semakin menkristal sejak Tahun 2002.
Sejumlah tokoh Masyarakat dari perantauan di Jakarta dan Medan bersama masyarakat Tapanuli lainnya membulatkan tekad, Provinsi Tapanuli harus lahir, ikrar ini dicetuskan pada kongres Masyarakat Tapanuli (Deklarasi Rakyat Tapanuli) diTarutung, April 2002.
Kehadiran Provinsi Tapanuli, menurut para penggagas bukanlah semata-mata memanfaatkan euphoria reformasi, Tapi lebih untuk memperpendek rentang kesejahtraan Rakyat Tapanuli.Sebab Tapanuli akan mampu menghidupi diri sendiri asal dikelola secara pro- pesional.Bumi Tapanuli memiliki berlimpah pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perdagangan, perindustrian, perhubungan, dan parawisata yang cukup lengkap.
Seperti potensi, sampai detik ini belum tergarap maksimal. Maka kehadiran Provinsi Tapanuli menjadi solusi yang tak terbantahkan terutama untuk meningkatkan pelayanan publik, mempercepat kemakmuran dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Tapanuli.
Gagasan pendirian Provinsi Tapanuli memang layak mendapatkan dukungan terutama bila bertujuan untuk menekan angka masyarakat miskin. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut Tahun 2009, dari 12,3 juta jiwa lebih penduduk SUMUT, terdapat 1,97 juta jiwa yang sebahagian besar ada di kawasan pantai barat (cikal bakal Provinsi Tapanuli)
Masih banyak penduduk miskin di pantai barat Sumatera Utara ini menjadi sangat timpang jika di lihat dari potetsi sumber daya alam dikawasan tersebut.
Padahal sejak abad ke 5, daerah-daerah eks keresidenan Tapanuli dikenal sebagai daerah penghubung perdagangan Internasional hasil bumi dari Barus dan Sorkam. Misalnya, kapur barus, lada, kemenyan, emas, kulit manis, dan rempah rempah. Komuditas itu sudah di ekspor lewat pelabuhan Tapian Nauli di Sibolga, Barus. (UCOK.S)
- Hotline Tapanuli FM
- Pendapat
- dibaca 1602x
- [0] komentar




Lombok Utara (Suarakomunitas)-Pansus terawangan DPRD KLU menolak kedatangan pihak PT WAH dalam agenda pertemuan yang rencananya akan mendegarkan ketererangan-keteraangan
Coba kita tarik pandangan ke dunia luar sebentar.. Lompatan besar yang sangat cepat (lompatan quantum) selalu ada pada pemimpin-pemimpin yang agresif dan penuh ide-ide kreatif. Lihat beda Cina sekarang
MATARAM – Ratusan warga peserta Kongres Sukma (Sunda Kecil : Bali, NTB, NTT, Maluku dan Maluku Utara), meluncurkan website Talasukma (Tata Kelola Sukma), Rabu (23/5) di lokasi 
-t.jpg)


