Dilematis (Sastra-Celah Kehidupan)
Bagaimanapun juga, sebagai manusia, pasti punya titik jenuh. Namun ketika kita mencoba mencari bentuk kehidupan yang baru, terlepas dari kekurangan dan ketidaksempurnaan kita sebagai manusia biasa, sebagai orang kaya atau miskin dipandang dari sudut ekonomi, maka kita pun akan diperhadapkan pada problemantika dari dinamika bentuk kehidupan yang baru itu pula.
Setidaknya, kita akan tergiring pada posisi yang serba salah jika enggan dikatakan sebagai sesuatu hal yang penuh dilematis. Dan kenyataan itulah salah satu sisi bentuk kehidupan yang dialami oleh sekelompok masyarakat 'Pengarajin Batu Nisan' yang terletak di Desa Kampung Cina'E Kecamatan Tanete Riaja Kabupaten Barru. Dalam menjalani hidup dan kehidupan, mereka nyaris tidak pernah merasakan kebahagiaan dan keceriaan, meski yang didapat dari hasil jerih payahnya untuk memenuhi tuntutan kebutuhan hidup dengan kerja keras, memecah lalu memikul batu gunung naik turun lembah sejauh kurang lebih 6Km, kemudian memahatnya menjadi Batu Nisan sebagaimana mereka telah melakoninya selama berpuluh-puluh tahun secara turun temurun, sebagai 'Profesi Warisan' leluhur.
Betapa tidak, mereka harus rela dan pasrah dalam kesedihan disaat batu nisan itu laku terjual. Disamping berkat usaha dan doa mereka yang 'mungkin' terkabulkan, juga sudah barang tentu batu nisan itu terjual karena seseorang meninggal dunia. Dan itu berarti, mereka akan menikmati hasil jerih payahnya di saat orang lain berada dalam tangis kesedihan tertimpa musibah. Dan, adalah hal yang lebih menyedihkan lagi jika batu nisan itu tidak laku terjual, sebab sudah barang tentu pula mereka tidak bisa membeli sesuap nasi untuk menghidupi anak dan isteri.
Bagai buah simalakama memang, ketika dimakan mati Bapak tidak dimakan pun ibu yang mati. Lantas, apa yang harus diperbuat oleh Si Pengarajin Batu Nisan tadi? Haruskah mereka meninggalkan profesi warisan yang menjadi tumpuan harapan hidup keluarga? Lalu bagaimana jika ada orang yang meninggal dunia, haruskah pihak keluarganya sendiri yang membuatkan batu nisannya? Atau setiap orang wajib mempersiapkan batu nisannya sendiri sebelum ajal menjemput? Atau..., Si Pengarajin Batu Nisan tetap saja berusaha sembari berdoa semoga banyak yang meninggal dunia hingga batu nisan pun menjadi laris manis, dan pada gilirannya pemerintah pun tidak lagi dipusingkan dengan jumlah penduduk yang terus membludak? Atau...?
Yah, entahlah!. Seribu satu macam pertanyaan tentang Batu Nisan dan Si Pengrajin Batu Nisan akan senantiasa hadir mencekoki benak kita. Namun yang pasti dan tidak kalah pentingnya adalah kita tidak menjadi Orang Pesimis dalam menjalani hidup dan kehidupan, meski pada kondisi yang dilematis sekalipun.Tanete Riaja, Barru (Dian-Ishak IGA FM Barru)
- n/a
- Sastra
- dibaca 1456x
- [0] komentar




Lombok Tengah, Suarakomunitas.net - Angka kemiskinan di Kabupaten Lombok Tengah hingga saat ini masih cukup tinggi yakni mencapai 19,92 persen. Karenanya pemerintah setempat telah melakukan
MATARAM - Untuk mengakselarasikan pembangunan di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), pemerintah telah mengembangkan pariwisata didaerah pesisir Lombok.
MATARAM - Bila dilihat dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM), wilayah kepulauan, hingga saat ini masih cukup rendah, jika dibandingkan dengan pulau-pulau besar di Indonesia.
Bogor, Jawa Barat- Peluncuran Pintu Gerbang Layanan Pesan Singkat (SMS Gateway) untuk kampanye Strategi-strategi Terhadap Munculnya Wabah Flu dalam mendorong terciptanya
MATARAM - Kongres Sunda Kecil dan Maluku (Sukma) yang dilaksanakan sejak tanggal 20-24 Mei mendatang, diharapkan dapat menghasilkan rumusan yang konstruktif sebagai pemecahan masalah
Cianjur (Suara Komunitas) - HAUS adalah salah satu ciri unggas yang sehat yang berarti Halal, Aman, Utuh dan Sehat, seperti yang diungkapkan Yuliana (38) selaku narasumber 



