Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Fenomenal Wangilang & Diskriminasi Sosial Masyarakat Pariaman Pendapat

Oleh : ASRUL KHAIRI

PARIAMAN,SK- Wangilang merupakan salah satu diantara banyaknya ragam tradisi adat budaya masyarakat Pariaman Sumatera Barat. Tradisi yang sudah semenjak lama mengakar secara turun temurun ditengah masyarakat Pariaman ini sampai sekarang masih kita lihat dalam adat pernikahan di Pariaman. Dimana keluarga calon mempelai perempuan memberikan sejumlah uang kepada calon mempelai laki-laki. Kebiasaan ini konon kabarnya dimulai jauh semenjak zaman Bundo Kanduang hingga sekarang masih melekat kental dalam pembawaan budaya nikah kawin di Pariaman.

Adakah produk ini telah menjadi adat dan budaya yang turun temurun “Adat Lamo, pusako Zaman, adaiknyo samo kito rimbunkan, pusakonyo samo kito gampakan" ataukah hanya sekedar adat yang di adatkan?

Pada kesempatan ini saya tidak berani masuk kearea jawaban pertanyaan ini biarlah menjadi pembahasan dikalangan Angku Niniak Mamak yang arif budiman dan kaya akan pengetahuan adat istiadat.
 

Dikesempatan ini saya mencoba menggali bukan dari segi keilmuan tentang wangilang, ataupun sebab almusabab sejarahnya. sebelum saya buka tulisan ini sekali lagi beribu kali ampun disusun jari yang sepuluh saya haturkan kepada Angku Niniak Mamak, Penghulu Nan Basa Batuah beserta cerdik pandai suluah bendang dalam nagari, sebab keilmuan saya sebagai generasi muda pariaman sangat tidak mumpuni akan hal ini. Maka dari itu, saya hanya berani menyingkap tabirnya saja dan mengintip aktualisasinya wanghilang dari segi interaksi kehidupan keseharian masyarakat Pariaman.
 

Kebiasaan pemberian wangilang kini kian hari tumbuh dan berkembang menjadi sebuah jargon dalam prosesi pernikahan pada kebanyakan keluarga orang Pariaman. Tumbuh dan mengakar sebagai warisan budaya ranah minang, wangilang menjadi sosok prosesi yang fenomenal kedudukannya ditengah masyarakat Pariaman. Untuk menjemput atau memilih seorang laki-laki di Pariaman sebagai calon suami mestilah keluarga perempuan harus menyiapkan uang untuk penjemput si calon mempelai lelaki. Dan jumlah uang itu biasanya dalam jumlah Nominal yang tidak sedikit  (berkisar 1 juta sampai dengan 100 jutaan bahkan ada yang lebih).Na’udzubillahi minzalik.
 

Coba kita bayangkan sisi finansialnya dari sisi perekonomian masyarakat marginal, pemberian sejumlah uang jutaan rupiah itu sungguh sangat mahal makluk yang namanya laki-laki di Pariaman bagi seorang wanita yang ingin punya suami? Disisi lain, apakah dengan jumlah uang sebanyak itu sudah patut label harga seorang anak manusia?
 

Sepintas, sungguh sangat enak jadi laki-laki Pariaman, Jodoh dapat uangpun disikat. Tapi ibarat dua sisi mata uang, justru keenakan itu mestilah dibayar mahal dengan banyaknya asumsi miring dari pihak lain. Seorang laki-laki di pariaman kalau saja tidak dijemput pakai wangilang merupakan aib yang sangat besar bagi silelaki, keluarga ataupun kaumnya. Istilah ciloteh kadai “ Lai tukang baruak ba wangilang jo lai, konon ko awak lai tamakan bangku pendidikan” (maaf tidak bermaksut merendahkan bidang pekerjaan tertentu/ dikutip dari ciloteh keseharian masyarakat Pariaman) .
 

Tanpa tidak bermaksud menyalahkan Produk turunan budaya wangilang dari hasil enkulturasi tetua kita zaman dahulu, penulis mencoba paparkan sebuah fenomena yang terjadi di era kekinian terhadap keberadaan wangilang bagi laki-laki asal  Pariaman.
 

Seorang mahasiswa laki-laki asal Pariaman, pernah menuturkan pengalamanya kepada penulis, alkisah bermula saat simahasiswa berkenalan dengan seorang wanita yang berasal dari daerah luar Pariaman. Kedekatan kedua anak adam itu kian hari bertambah kuat, sehingga diikrarkan kesepakatan diantara keduanya kearah hubungan yang serius.

Singkat cerita, tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh sepasang sejoli kasmarasan ini bahwa cita-cita mereka justru kandas hanya karena hal yang tak mestinya terjadi. Ketika sigadis asal luar Pariaman bermaksut memperkenalkan pria pilihan hatinya itu pada orang tua, kejujuran sang lelaki ketika memperkenalkan diri ternyata berbuah prahara kekecewaan.
 

Identitas, asal usul berlabelkan Pariaman, spontan merubah suasana yang harmonis menjadi hambar. dengan wajah dingin orang tua sang gadis berucap, “ ooohhh, ajo piaman yo, maha bali e mah ndak? (oooh..kamu orang pariaman ya,pasti mahal belinya,RED) Petaka cintapun muncul, harapan hati hendak menyunting belahan jiwa kandas seketika, cinta terhalang oleh tembok wangilang yang tidak mungkin kiranya sanggup dibayar oleh keluarga orang  tua si wanita.
 

Dalam kehidupan lain, ketakutan akan wangilang memunculkan potensi lahirnya persoalan baru, diindikasikan dapat memutus tali cinta Ibu dan anak. Setiap Ibu terutama yang tergolong ekonomi lemah atau kaum marginal di Pariaman, maka akan sangat wajar seketika melahirkan anak perempuan, spontan mengatakan “ Ndeh, padusi pulo anak kito nan lahia, Lah jadi baban lo untuak keluarga?”. (ondeh mandeh..perempuan lagi anak kita yang lahir,sudah bertambah beban keluarga?,RED) Bagi keluarga di Pariaman, perempuan adalah “ Baban Barek, Singguluang Batu ” yang harus diperjuangkan bersama oleh keluarga.

Lahirnya anggapan demikian, karena setelah si perempuan besar nanti tentulah akan dicarikan jodoh, sehingga tidak lepas dari mahalnya wangilang yang harus dikeluarkan kepada calon suaminya kelak.
 

Dari sedikit kasus diatas, sangat kita sayangkan adanya kejanggalan tampak jelas secara kasat mata diskriminasi dan apatisme sosial terhadap kaum laki-laki maupun perempuan di Pariaman. kisah si mahasiswa diatas, secara tidak langsung laki-laki asal Pariaman terkotakan bahkan terkucilkan oleh tradisi budayanya sendiri terhadap pergaulan sosial dengan daerah lain.

Sudut lain, bila kita pandang dari sisi agama mayoritas masyarakat Pariaman beragamakan islam, keluhan seorang ibu yang melahirkan seorang anak perempuan justru sangat tidak disukai Allah SWT karena ajaran Islam dengan tegas mengatakan bahwa “Anak adalah amanah dari Allah SWT”. Baik itu laki laki maupun perempuan anak merupakan titipan Allah yang mestinya di Syukuri keberadaannya,bukan malah sebaliknya?
 

Disisi moral & Sosial : begitu beratnya beban keluarga terhadap perempuan Pariaman untuk dicarikan jodohnya, "Bia jan Gadih gadang Indak balaki, indak ameh bungkah di-asah, indak kayu janjang dikapiang", biasanya pihak keluarga perempuan berupaya sekuat mungkin mencarikan solusinya, bahkan hingga "Mangadai Sawah Jo Ladang" (Menggadaikan Sawah dan Kebun). Nah, ketika seluruh upaya tidak kunjung bisa diraih, tidak jarang biasanya pihak keluarga menyarankan kepada siwanita agar mencari pasangan suaminya diluar Pariaman saja, agar tidak memikirkan mahalnya bayaran wangilang,sungguh sangat ironis?
 

Penulis yakin persoalan wangilang dihilangkan ataupun dilanjutkan akan melahirkan Pro dan Kontra dikalangan masyarakat adat.  Lantas, pada posisi mana seharusnya wanghilang kita letakan?
 

Kiranya kepada pemangku kepentingan Adat dan Budaya Pariaman, mau meninjau ulang hal ini lebih bijaksana melalui balairong adat tentunya untuk  kemaslahatan bersama, agar tradisi yang dianggap langgeng ini bisa menjadi kekayaan budaya bukan kecelakaan sejarah.
 

Penulis dalam hal ini tidak bermaksud skeptis melenyapkan atau sebaliknya menjadikan prosesi wangilang menjadi bahagian dari ketetapan adat yang harus dipatuhi oleh setiap anak nagari di ranah Pariaman saat ini, akan tetapi lebih bijaknya mengajak kita untuk selektif  “ Patuik jo Mungkin “ mengatur porsi besarannya, atau sistem peremajaannya agar tidak menjadi beban bagi kalangan tertentu.

Bagai manapun prosesi wangilang ini adalah label rang Pariaman ranah nan tongga dari masa ke masa, bahagian dari budaya leluhur yang sepantasnya kita lestarikan bersama, “Adat Lamo, pusako Zaman, adaiknyo samo kito rimbunkan, pusakonyo samo kito gampakan” tentunya ini mesti mengandung nilai keindahan & keunikan dimata orang lain, bukan sebaliknya mengekang dan mempenjarai golongan tertentu dimata zaman. *(AK)
 

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.09212 seconds.