A | A
628529745XXXX : genta news hari dusun cot seumantok kecamatan babahrot abdya diresmikan menjadi desa persiapan     628136036XXXX : seorg warga arongan lambalek aceh barat hilang saat mencari kayu dihutan     628136036XXXX : 1 org warga arongan lambalek aceh barat hilang saat mencari kayu dihutan     628136036XXXX : 1 org warga arongan lambalek aceh barat hilang saat mencari kayu dihutan     628136036XXXX : info gempa mag 5 0 sr 11 01 2012 04 00 53 wib lok 2 39 lu 93 18 bt 325 km baratdaya kab simeulue kedlmn 59 km bmkg     62812694XXXX : hari ini aceh peringati 7 tahun tsunami aceh tgl 26 des 2011 di seluruh nad dan menaikkan bendera merah putih setengah tiang selama tiga hari gisafm     62812694XXXX : hari ini aceh peringati 7 tahun tsunami aceh tgl 26 des 2011 di seluruh provinsi aceh dan menaikkan bendera merah putih setengah tiang selama tiga ha     62812694XXXX : komplek perumahan korem lilawangsa tepatnya dibelakang rumah sakit kesrem lg terbakar dan hampir menghanguskan empat rumah gisafm lhokseumawe     628191776XXXX : news ratusan aktivis dan lsm yg trgbng dlm aliansi rkyt menggugat memnta gbrnr ntb membrhntikn bupati dan wabup lombok tengah krn plntknnya dinilai cct hkm     628191776XXXX : news nasip petani tembakau di pulau lombok terancam krn mndpt tntangan phk asing yg mengkampanyekan anti rokok intrnasional dn krng diprhtikn pemda stmpt     
28 Jun 2010

Genggong Nasibmu kini

Talenta FM - Loteng - Talenta FM
Mulut komat kamit seperti dukun yang sedang baca mantra. Napaspun naik turun seperti orang mainkan seruling. Tapi bukan… orang itu bukan dukun bukan pula tukang suling. Ia pemain genggong yang sedang beraksi memainkan sebuah lagu khas genggong……


Sang pemaian itu adalah papuq Mendet (50) salah seorang warga desa barejulat yang selama ini tekun menjadi salah satu kesehe satu-satunya group Genggong di desa Barejulat. Saat itu papuq Mendet khusus memainkan alat musik genggong itu kepada Tabloid Swara. Usai satu lagu dimainkan ia pun mulai menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya dengan sesekali berfikir sambil menegernyitkan dahinya yang sudah mulai tampak keriput.

“Kalau mau tahu lebih banyak tentang Genggong ini sialhkan saja tanyakan ke para sesepuhnya lansung. Kalau ndak salah dulu alat musiknya samapi saat ini disimpan oleh Pimpinan Group, namanya Amaq kesim yang rumahnya di dusun Timuk Rurung desa Barejulat ini.     Bersama beliaulah dulu kita samapai terbang ke Jakarta unutk bermain Genggong di taman mini”Tuturnya.

Mendengar apa yang disamapaikan papuq Mendet itu, Tabloid Swara kemudian melangkah ke dusun Timuk Rurung yang letaknya bersebelahan dengan kampong Gubuk Kebon dimana Papuq Mendet tinggal dengan seorang Cucunya.

Sesampai di kediaman Amaq Kesim (70) sang Pimpinan Group Genggong ini, kami kemudian dipersilahkan duduk disebuah sekepat yang juga khas tempat menerima tamu warga sasak. Setelah menjelaskan masksud kedatangan kami, amaq Kesim kemudian memaparkan tentang seperti apa itu yang namanya musik Genggong.

“Dulu ketika saya masih muda, musik genggong ini kerap kali kami mainkan saat menunggu padi yang sudah di panen dan masih berada di tengah sawah. Dulu kalau malam hari sanagatlah sepi sehingga suara genggong ini bias terdengar sampai radius dua kilo meter, tapi sekarang mungkin tidak bias karena suasana sangat berisik.”katanya memulai ceritanya.

Amaq Kesim Lebih jauh menuturkan, musik traditional Genggong sejauh ini menurut sepengetahuanya hanya bias dimainkan oleh beberapa warga desa barejulat saja. Genggong terdiri dari 6 jenins musik genggong berbagai ukuran, sebuah rincik, seruling bambu, Gong dan petuk yang terbuat dari bambo. Bi;a semua alat tersebeut di mainkan amaka akan menghasilkan aransemen musik yang khas dan indah yang tidak bias dilukisskan dengan kata-kata.

”Setahu saya, yang bisa memainkan alat Genggong ini Amaq Sahye, papuq Karip, Amaq Selim dan Amaq Serum. Ada juga papuq Salam namun beliu telah meninggal beberapa bulan lalu Kalau seruling banyak yang bisa apalagi alat Rerincik ini bisa dengan mudah dimainkan oleh siapapun, begitu juga dengan petuk dan Gongnya, itu gampang.”Paparnya.

Bagian yang sangat sulit dari Musik Genggong menurut Amaq Kesim, adalah memainkan alat utamanya yakni Genggong itu sendiri.  Genggong terbuat dari anyaman pelepah daun Enau. Ukuranya sangat mini, panjagnya sekitar 25 cm dengan lebar sekitar 3 cm. Di tengah-tengahnya dibuatkan semacam lidah yang sangat sensitif terhadap gerakan. Lidah inilah rupanya yang menjadi sumber suara alat musik ini. Salah satu ujung dari genggomg tersebut dilengkapi dengan tali yang diujungya terdapat tuas sebagai tempat di pegangnya. Saat dimainkan ujung genggong di pegang sedemikian rupa dan didekatkan ke mulut, kemudian tuas yang diikatkan diujung tali tadi digerakkan dengan cara dihentakkan sehingga membuat lidah ditengah alat genggong tadi bergetar dan menghasilkan bunyi seperti senar gitar yang di petik.

“Nah yang sulit itu menentukan nadanya. Kalau pada alat musik modern sperti gitar, yang mebuat getaran senar itu bersuara nyaring adalah rongga yang dibuatkan membentuk body gitar itu. Sementara Genggong yang menjadi rongga penyaring suaranaya justeru rongga mulut kita, itulah sebabnya alat genggong bila dimainkan selalau didekatkan ke mulut agar suaranaya nyaring. Dan satu lagi, kalau gitar mengubah nadanya dengan mengubah ukuran panjang pendek senarnya, ya denagn menekan-nekan senar di stang gitar itu kan. Kalau Genggong diubah nadanya dengan mengubah ukuran rongga mulut kita, ya inilah yang sulit.”Jelasnya.

Lebih jauh dijelaskan, seseorang bisa menghafal besar kecil ukuran rongga mulutnya dengan nada tertentu bila ia sudah terbiasa memainkan alat musik ini. Ketekunan dan rajin latihan bisa membuat seseorang menjadi mahir memainkanya. Amaq Kesim sendiri yang sudah lama memegang alat musik genggong ini mengaku belum begitu mahir memainkanya.



Nasib Musik Traditional Genggong saat ini sudah diambang kepunahan. Jarang sekali masyrakat meminta grup ini untuk memainkan musiknya. Terlebih pada acara-acara ceremonial atau pada acara festival-festival pagelaran seni budaya sekalipun musik Genggong tak pernah sekalipun diundang untuk tampil. Praktis alat musik Genggong iut saat ini disimpan di tempat khusus yang diberi nama Kekelok, semacam tempat penyimpanan yang dibuat dari bambau yang ditaburi kapur, agar alat musiknya tahan lama, suara Genggonya tetap bagus dan tidak menjadi Fales walaupun tidak dimainkan dalam waktu yang sangat lama.

Sementara itu sejumlah pemuda desa Barejulat yang berhasil ditemui Swara rata-rata sudah mengetahui yang namanaya musik Genggong, namaun mereka juga rata-rata menagku tidak bisa memainkan alat musik tersebut.

”Maian Genggong di zaman sekarang ini, siapa yang mau mendengarkanya pak, tidak laku”Ujar Herman yang ikut sebagai kesehe salah satu Group Kecimol di Barejulat.

Pemuda lainya Agum juga menyampaiakan hal yang tidak jauh beda. Menurutnya Genggong tidak popular dikalangan masyarakat. Nilai komersilnya tidak ada.

“ Lagian siapa yang mau memainkan alat musik yang sulit begitu, saya sudah mencobanya tapi samapai mulutku berbusa saya ndak bisa, walauapun hanya untuk menyuarakannya dengan satu nada sekalipun. Nah sejak itu malas saya dekat-dekat dengan genggong” Ketusnya.

Anggota Dewan Dari Dapil Jonggat - Pringgerate M. Samsul Qomar, berpendapat jarangnya Gernggong tampil disebabbkan oleh mis-ya pemerintah daerah yang belum secara maksimal meng – Inventarisir semua budaya musik traditional di kabupaten Lombok tengah. Ia mencontohkan Kesenian Traditional Cupak Gurantang di desa Gundul yang juga jarang tampil pada acara pentas budaya yang sering digelar pemerintah daerah.

“Kami mendukung setiap keinginan warga untuk melestarikan budayanya masing-masing seperti musik Genggong ini. Dan kita akan mendorong pemerintah dalam hal ini pihak-pihak terkait seperti Dinas Pendidikan , Pemuda dan Olah Raga untuk lebih intens memperhatikan hasanah budya kita saat ini yang mulai punah. Kami berharap semua pihak mendukung keinginan untuk melestarikan Budaya dan adat istiadat didaerah kita ini caranya slah satunya dengan memberikan wadah atau ruang khusus bagi para penikmat dan pegiat musik Genggong ini. Dimana semua itu tentu saja agar pemudanya ma uterus melestarikan budaya ini perlu untuk diberikan rangsangan dan dorongan. Karena tanpa rangsangan mereka tidak mungkin punya keingnan belajar musik geggong yang menuru mrereka kuno dan ketingalan zaman. Pemahama tentang pentingnya pelestarian budaya tentu saja sangat diperlukan untuk mereka.”Papar Samsul Qomar.

Lebih lajut Samsul, bila pemerintah lalai memperhatikan hal ini maka bukan tidak mungkin kekayaan budaya yang dimiliki selama ini satu persatu akan punah. Untuk itu pengetahuan megenai budaya ini yang salah satunya musik Genggong ini bias saja dimasukkan kedalam pengetahuan pendidikan formal yang harus diajarkan kepada semua siswa, apalagi hal itu didukung oleh adanaya pendidikan muatan lokal yang sudah lama berlangsung.

“Dengan adanya bandara ini, maka Lombok tengah akan menjadi salah satu gerbanag dunia. Dan dunia internasional perhatianaya selalau tercurah pada sesuatu yang primitive ya sperti budaya kita ini. Bkan tidak mungkin Genggong akan menjadi salah satu tradisi yang aka mejadi perhataian dunia, hal ini tentu saja akan sanagat bernilai jual tinggi bagi keberadaan pariwisata kita yang akan menarik minat wistawan untuk datang ke Lombok tengah.”Imbuhnya.

 











  • Google Bookmarks
  • Digg
  • del.icio.us
  • MySpace
  • Technorati
  • TwitThis
Formulir Komentar




Komentar

Kode Keamanan*

CAPTCHA Image

Wajib di isi [may not leaved blank]
Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan Suara Komunitas. Pengelola berhak mengubah/menghapus kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Tulisan Terkait

Analisis

Selamat atas www.rumahalir.or.id

Kongres Sukma (Sunda Kecil : Bali, NTB, NTT, Maluku dan Maluku Utara), meluncurkan website Talasukma (Tata Kelola Sukma). Peluncuran website Talasukma dilakukan langsung oleh Anggota Komite Transparansi

5 KONTEN TERBARU

22:32
Lombok Utara (Suarakomunitas)-Pansus terawangan DPRD KLU menolak kedatangan pihak PT WAH dalam agenda pertemuan yang rencananya akan mendegarkan ketererangan-keteraangan Berita > Nusa Tenggara Barat > Gita Swara FM
18:25
Sukabumi, komunitas LA-LI. Koordinator program SAFE (Strategi Again Flu Emergency) memeriksa Berita > Jawa Barat > Zeka Kamil
14:15
IV Koto Aur Malintang - Dalam rangka memeriahkan pelantikan wali nagari III koto Aur malintang yang ibu nagari Batu Basa mengelar Musabaqah Tilawatil Qur`an (MTQ) antar nagari di kecamatan Berita > Sumatera Barat > Suandri FM
13:34
IV Berita > Sumatera Barat > Suandri FM
13:07
IV koto Aur Malintang - Pembangunan Sekolah menengah kejuruan (SMK) IV koto Aur malintang dalam waktu dekat ini segera terealisasi, hal ini terwujud dari para perantau asal Nagari III Berita > Sumatera Barat > Suandri FM
12:43
Coba kita tarik pandangan ke dunia luar sebentar.. Lompatan besar yang sangat cepat (lompatan quantum) selalu ada pada pemimpin-pemimpin yang agresif dan penuh ide-ide kreatif. Lihat beda Cina sekarang Pendapat > Sumatera Barat > JRK SB
12:42
Sukabumi, Komunitas Pasar Parungkuda Kondisi pasar Parungkuda semakin hari semakin kotor dan kumuh, hal ini semakin terasa parah ketika hujan turun. Lokasi pasar menjadi becek dan berlumpur. Berita > Jawa Barat > Bayu Permana
12:20
SUKABUMI (*IPS*) – SEBANYAK 18.000 liter air bersih yang dikonsumsi Jakarta per detik diperkirakan meningkat 26,000 liter pada 2015. Solusinya? Sebuah jalan tol sepanjang 54 kilometer Berita > Koresponden > Koresponden
10:36
 Lombok Utara (suarakomunitas)-Tanjung, sebanyak 24 atlet Taekwondo KLU yang mengikuti Kejurda YUTI Cup I 2012, yang diselengarakan di Gelanggang Olah Raga(GOR) Bakhti Berita > Nusa Tenggara Barat > Gita Swara FM
10:14
MATARAM – Ratusan warga peserta Kongres Sukma (Sunda Kecil : Bali, NTB, NTT, Maluku dan Maluku Utara), meluncurkan website Talasukma (Tata Kelola Sukma), Rabu (23/5) di lokasi Berita > Nusa Tenggara Barat > Primadona FM

10 Komentar Terbaru

Script timer: 0.400507 seconds.