Genggong Nasibmu kini
Talenta FM - Loteng - Talenta FM
Mulut komat kamit seperti dukun yang sedang baca mantra. Napaspun naik turun seperti orang mainkan seruling. Tapi bukan… orang itu bukan dukun bukan pula tukang suling. Ia pemain genggong yang sedang beraksi memainkan sebuah lagu khas genggong……
Sang pemaian itu adalah papuq Mendet (50) salah seorang warga desa barejulat yang selama ini tekun menjadi salah satu kesehe satu-satunya group Genggong di desa Barejulat. Saat itu papuq Mendet khusus memainkan alat musik genggong itu kepada Tabloid Swara. Usai satu lagu dimainkan ia pun mulai menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya dengan sesekali berfikir sambil menegernyitkan dahinya yang sudah mulai tampak keriput.
“Kalau mau tahu lebih banyak tentang Genggong ini sialhkan saja tanyakan ke para sesepuhnya lansung. Kalau ndak salah dulu alat musiknya samapi saat ini disimpan oleh Pimpinan Group, namanya Amaq kesim yang rumahnya di dusun Timuk Rurung desa Barejulat ini. Bersama beliaulah dulu kita samapai terbang ke Jakarta unutk bermain Genggong di taman mini”Tuturnya.
Mendengar apa yang disamapaikan papuq Mendet itu, Tabloid Swara kemudian melangkah ke dusun Timuk Rurung yang letaknya bersebelahan dengan kampong Gubuk Kebon dimana Papuq Mendet tinggal dengan seorang Cucunya.
Sesampai di kediaman Amaq Kesim (70) sang Pimpinan Group Genggong ini, kami kemudian dipersilahkan duduk disebuah sekepat yang juga khas tempat menerima tamu warga sasak. Setelah menjelaskan masksud kedatangan kami, amaq Kesim kemudian memaparkan tentang seperti apa itu yang namanya musik Genggong.
“Dulu ketika saya masih muda, musik genggong ini kerap kali kami mainkan saat menunggu padi yang sudah di panen dan masih berada di tengah sawah. Dulu kalau malam hari sanagatlah sepi sehingga suara genggong ini bias terdengar sampai radius dua kilo meter, tapi sekarang mungkin tidak bias karena suasana sangat berisik.”katanya memulai ceritanya.
Amaq Kesim Lebih jauh menuturkan, musik traditional Genggong sejauh ini menurut sepengetahuanya hanya bias dimainkan oleh beberapa warga desa barejulat saja. Genggong terdiri dari 6 jenins musik genggong berbagai ukuran, sebuah rincik, seruling bambu, Gong dan petuk yang terbuat dari bambo. Bi;a semua alat tersebeut di mainkan amaka akan menghasilkan aransemen musik yang khas dan indah yang tidak bias dilukisskan dengan kata-kata.
”Setahu saya, yang bisa memainkan alat Genggong ini Amaq Sahye, papuq Karip, Amaq Selim dan Amaq Serum. Ada juga papuq Salam namun beliu telah meninggal beberapa bulan lalu Kalau seruling banyak yang bisa apalagi alat Rerincik ini bisa dengan mudah dimainkan oleh siapapun, begitu juga dengan petuk dan Gongnya, itu gampang.”Paparnya.
Bagian yang sangat sulit dari Musik Genggong menurut Amaq Kesim, adalah memainkan alat utamanya yakni Genggong itu sendiri. Genggong terbuat dari anyaman pelepah daun Enau. Ukuranya sangat mini, panjagnya sekitar 25 cm dengan lebar sekitar 3 cm. Di tengah-tengahnya dibuatkan semacam lidah yang sangat sensitif terhadap gerakan. Lidah inilah rupanya yang menjadi sumber suara alat musik ini. Salah satu ujung dari genggomg tersebut dilengkapi dengan tali yang diujungya terdapat tuas sebagai tempat di pegangnya. Saat dimainkan ujung genggong di pegang sedemikian rupa dan didekatkan ke mulut, kemudian tuas yang diikatkan diujung tali tadi digerakkan dengan cara dihentakkan sehingga membuat lidah ditengah alat genggong tadi bergetar dan menghasilkan bunyi seperti senar gitar yang di petik.
“Nah yang sulit itu menentukan nadanya. Kalau pada alat musik modern sperti gitar, yang mebuat getaran senar itu bersuara nyaring adalah rongga yang dibuatkan membentuk body gitar itu. Sementara Genggong yang menjadi rongga penyaring suaranaya justeru rongga mulut kita, itulah sebabnya alat genggong bila dimainkan selalau didekatkan ke mulut agar suaranaya nyaring. Dan satu lagi, kalau gitar mengubah nadanya dengan mengubah ukuran panjang pendek senarnya, ya denagn menekan-nekan senar di stang gitar itu kan. Kalau Genggong diubah nadanya dengan mengubah ukuran rongga mulut kita, ya inilah yang sulit.”Jelasnya.
Lebih jauh dijelaskan, seseorang bisa menghafal besar kecil ukuran rongga mulutnya dengan nada tertentu bila ia sudah terbiasa memainkan alat musik ini. Ketekunan dan rajin latihan bisa membuat seseorang menjadi mahir memainkanya. Amaq Kesim sendiri yang sudah lama memegang alat musik genggong ini mengaku belum begitu mahir memainkanya.
Nasib Musik Traditional Genggong saat ini sudah diambang kepunahan. Jarang sekali masyrakat meminta grup ini untuk memainkan musiknya. Terlebih pada acara-acara ceremonial atau pada acara festival-festival pagelaran seni budaya sekalipun musik Genggong tak pernah sekalipun diundang untuk tampil. Praktis alat musik Genggong iut saat ini disimpan di tempat khusus yang diberi nama Kekelok, semacam tempat penyimpanan yang dibuat dari bambau yang ditaburi kapur, agar alat musiknya tahan lama, suara Genggonya tetap bagus dan tidak menjadi Fales walaupun tidak dimainkan dalam waktu yang sangat lama.
Sementara itu sejumlah pemuda desa Barejulat yang berhasil ditemui Swara rata-rata sudah mengetahui yang namanaya musik Genggong, namaun mereka juga rata-rata menagku tidak bisa memainkan alat musik tersebut.
”Maian Genggong di zaman sekarang ini, siapa yang mau mendengarkanya pak, tidak laku”Ujar Herman yang ikut sebagai kesehe salah satu Group Kecimol di Barejulat.
Pemuda lainya Agum juga menyampaiakan hal yang tidak jauh beda. Menurutnya Genggong tidak popular dikalangan masyarakat. Nilai komersilnya tidak ada.
“ Lagian siapa yang mau memainkan alat musik yang sulit begitu, saya sudah mencobanya tapi samapai mulutku berbusa saya ndak bisa, walauapun hanya untuk menyuarakannya dengan satu nada sekalipun. Nah sejak itu malas saya dekat-dekat dengan genggong” Ketusnya.
Anggota Dewan Dari Dapil Jonggat - Pringgerate M. Samsul Qomar, berpendapat jarangnya Gernggong tampil disebabbkan oleh mis-ya pemerintah daerah yang belum secara maksimal meng – Inventarisir semua budaya musik traditional di kabupaten Lombok tengah. Ia mencontohkan Kesenian Traditional Cupak Gurantang di desa Gundul yang juga jarang tampil pada acara pentas budaya yang sering digelar pemerintah daerah.
“Kami mendukung setiap keinginan warga untuk melestarikan budayanya masing-masing seperti musik Genggong ini. Dan kita akan mendorong pemerintah dalam hal ini pihak-pihak terkait seperti Dinas Pendidikan , Pemuda dan Olah Raga untuk lebih intens memperhatikan hasanah budya kita saat ini yang mulai punah. Kami berharap semua pihak mendukung keinginan untuk melestarikan Budaya dan adat istiadat didaerah kita ini caranya slah satunya dengan memberikan wadah atau ruang khusus bagi para penikmat dan pegiat musik Genggong ini. Dimana semua itu tentu saja agar pemudanya ma uterus melestarikan budaya ini perlu untuk diberikan rangsangan dan dorongan. Karena tanpa rangsangan mereka tidak mungkin punya keingnan belajar musik geggong yang menuru mrereka kuno dan ketingalan zaman. Pemahama tentang pentingnya pelestarian budaya tentu saja sangat diperlukan untuk mereka.”Papar Samsul Qomar.
Lebih lajut Samsul, bila pemerintah lalai memperhatikan hal ini maka bukan tidak mungkin kekayaan budaya yang dimiliki selama ini satu persatu akan punah. Untuk itu pengetahuan megenai budaya ini yang salah satunya musik Genggong ini bias saja dimasukkan kedalam pengetahuan pendidikan formal yang harus diajarkan kepada semua siswa, apalagi hal itu didukung oleh adanaya pendidikan muatan lokal yang sudah lama berlangsung.
“Dengan adanya bandara ini, maka Lombok tengah akan menjadi salah satu gerbanag dunia. Dan dunia internasional perhatianaya selalau tercurah pada sesuatu yang primitive ya sperti budaya kita ini. Bkan tidak mungkin Genggong akan menjadi salah satu tradisi yang aka mejadi perhataian dunia, hal ini tentu saja akan sanagat bernilai jual tinggi bagi keberadaan pariwisata kita yang akan menarik minat wistawan untuk datang ke Lombok tengah.”Imbuhnya.
Sang pemaian itu adalah papuq Mendet (50) salah seorang warga desa barejulat yang selama ini tekun menjadi salah satu kesehe satu-satunya group Genggong di desa Barejulat. Saat itu papuq Mendet khusus memainkan alat musik genggong itu kepada Tabloid Swara. Usai satu lagu dimainkan ia pun mulai menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya dengan sesekali berfikir sambil menegernyitkan dahinya yang sudah mulai tampak keriput.
“Kalau mau tahu lebih banyak tentang Genggong ini sialhkan saja tanyakan ke para sesepuhnya lansung. Kalau ndak salah dulu alat musiknya samapi saat ini disimpan oleh Pimpinan Group, namanya Amaq kesim yang rumahnya di dusun Timuk Rurung desa Barejulat ini. Bersama beliaulah dulu kita samapai terbang ke Jakarta unutk bermain Genggong di taman mini”Tuturnya.
Mendengar apa yang disamapaikan papuq Mendet itu, Tabloid Swara kemudian melangkah ke dusun Timuk Rurung yang letaknya bersebelahan dengan kampong Gubuk Kebon dimana Papuq Mendet tinggal dengan seorang Cucunya.
Sesampai di kediaman Amaq Kesim (70) sang Pimpinan Group Genggong ini, kami kemudian dipersilahkan duduk disebuah sekepat yang juga khas tempat menerima tamu warga sasak. Setelah menjelaskan masksud kedatangan kami, amaq Kesim kemudian memaparkan tentang seperti apa itu yang namanya musik Genggong.
“Dulu ketika saya masih muda, musik genggong ini kerap kali kami mainkan saat menunggu padi yang sudah di panen dan masih berada di tengah sawah. Dulu kalau malam hari sanagatlah sepi sehingga suara genggong ini bias terdengar sampai radius dua kilo meter, tapi sekarang mungkin tidak bias karena suasana sangat berisik.”katanya memulai ceritanya.
Amaq Kesim Lebih jauh menuturkan, musik traditional Genggong sejauh ini menurut sepengetahuanya hanya bias dimainkan oleh beberapa warga desa barejulat saja. Genggong terdiri dari 6 jenins musik genggong berbagai ukuran, sebuah rincik, seruling bambu, Gong dan petuk yang terbuat dari bambo. Bi;a semua alat tersebeut di mainkan amaka akan menghasilkan aransemen musik yang khas dan indah yang tidak bias dilukisskan dengan kata-kata.
”Setahu saya, yang bisa memainkan alat Genggong ini Amaq Sahye, papuq Karip, Amaq Selim dan Amaq Serum. Ada juga papuq Salam namun beliu telah meninggal beberapa bulan lalu Kalau seruling banyak yang bisa apalagi alat Rerincik ini bisa dengan mudah dimainkan oleh siapapun, begitu juga dengan petuk dan Gongnya, itu gampang.”Paparnya.
Bagian yang sangat sulit dari Musik Genggong menurut Amaq Kesim, adalah memainkan alat utamanya yakni Genggong itu sendiri. Genggong terbuat dari anyaman pelepah daun Enau. Ukuranya sangat mini, panjagnya sekitar 25 cm dengan lebar sekitar 3 cm. Di tengah-tengahnya dibuatkan semacam lidah yang sangat sensitif terhadap gerakan. Lidah inilah rupanya yang menjadi sumber suara alat musik ini. Salah satu ujung dari genggomg tersebut dilengkapi dengan tali yang diujungya terdapat tuas sebagai tempat di pegangnya. Saat dimainkan ujung genggong di pegang sedemikian rupa dan didekatkan ke mulut, kemudian tuas yang diikatkan diujung tali tadi digerakkan dengan cara dihentakkan sehingga membuat lidah ditengah alat genggong tadi bergetar dan menghasilkan bunyi seperti senar gitar yang di petik.
“Nah yang sulit itu menentukan nadanya. Kalau pada alat musik modern sperti gitar, yang mebuat getaran senar itu bersuara nyaring adalah rongga yang dibuatkan membentuk body gitar itu. Sementara Genggong yang menjadi rongga penyaring suaranaya justeru rongga mulut kita, itulah sebabnya alat genggong bila dimainkan selalau didekatkan ke mulut agar suaranaya nyaring. Dan satu lagi, kalau gitar mengubah nadanya dengan mengubah ukuran panjang pendek senarnya, ya denagn menekan-nekan senar di stang gitar itu kan. Kalau Genggong diubah nadanya dengan mengubah ukuran rongga mulut kita, ya inilah yang sulit.”Jelasnya.
Lebih jauh dijelaskan, seseorang bisa menghafal besar kecil ukuran rongga mulutnya dengan nada tertentu bila ia sudah terbiasa memainkan alat musik ini. Ketekunan dan rajin latihan bisa membuat seseorang menjadi mahir memainkanya. Amaq Kesim sendiri yang sudah lama memegang alat musik genggong ini mengaku belum begitu mahir memainkanya.
Nasib Musik Traditional Genggong saat ini sudah diambang kepunahan. Jarang sekali masyrakat meminta grup ini untuk memainkan musiknya. Terlebih pada acara-acara ceremonial atau pada acara festival-festival pagelaran seni budaya sekalipun musik Genggong tak pernah sekalipun diundang untuk tampil. Praktis alat musik Genggong iut saat ini disimpan di tempat khusus yang diberi nama Kekelok, semacam tempat penyimpanan yang dibuat dari bambau yang ditaburi kapur, agar alat musiknya tahan lama, suara Genggonya tetap bagus dan tidak menjadi Fales walaupun tidak dimainkan dalam waktu yang sangat lama.
Sementara itu sejumlah pemuda desa Barejulat yang berhasil ditemui Swara rata-rata sudah mengetahui yang namanaya musik Genggong, namaun mereka juga rata-rata menagku tidak bisa memainkan alat musik tersebut.
”Maian Genggong di zaman sekarang ini, siapa yang mau mendengarkanya pak, tidak laku”Ujar Herman yang ikut sebagai kesehe salah satu Group Kecimol di Barejulat.
Pemuda lainya Agum juga menyampaiakan hal yang tidak jauh beda. Menurutnya Genggong tidak popular dikalangan masyarakat. Nilai komersilnya tidak ada.
“ Lagian siapa yang mau memainkan alat musik yang sulit begitu, saya sudah mencobanya tapi samapai mulutku berbusa saya ndak bisa, walauapun hanya untuk menyuarakannya dengan satu nada sekalipun. Nah sejak itu malas saya dekat-dekat dengan genggong” Ketusnya.
Anggota Dewan Dari Dapil Jonggat - Pringgerate M. Samsul Qomar, berpendapat jarangnya Gernggong tampil disebabbkan oleh mis-ya pemerintah daerah yang belum secara maksimal meng – Inventarisir semua budaya musik traditional di kabupaten Lombok tengah. Ia mencontohkan Kesenian Traditional Cupak Gurantang di desa Gundul yang juga jarang tampil pada acara pentas budaya yang sering digelar pemerintah daerah.
“Kami mendukung setiap keinginan warga untuk melestarikan budayanya masing-masing seperti musik Genggong ini. Dan kita akan mendorong pemerintah dalam hal ini pihak-pihak terkait seperti Dinas Pendidikan , Pemuda dan Olah Raga untuk lebih intens memperhatikan hasanah budya kita saat ini yang mulai punah. Kami berharap semua pihak mendukung keinginan untuk melestarikan Budaya dan adat istiadat didaerah kita ini caranya slah satunya dengan memberikan wadah atau ruang khusus bagi para penikmat dan pegiat musik Genggong ini. Dimana semua itu tentu saja agar pemudanya ma uterus melestarikan budaya ini perlu untuk diberikan rangsangan dan dorongan. Karena tanpa rangsangan mereka tidak mungkin punya keingnan belajar musik geggong yang menuru mrereka kuno dan ketingalan zaman. Pemahama tentang pentingnya pelestarian budaya tentu saja sangat diperlukan untuk mereka.”Papar Samsul Qomar.
Lebih lajut Samsul, bila pemerintah lalai memperhatikan hal ini maka bukan tidak mungkin kekayaan budaya yang dimiliki selama ini satu persatu akan punah. Untuk itu pengetahuan megenai budaya ini yang salah satunya musik Genggong ini bias saja dimasukkan kedalam pengetahuan pendidikan formal yang harus diajarkan kepada semua siswa, apalagi hal itu didukung oleh adanaya pendidikan muatan lokal yang sudah lama berlangsung.
“Dengan adanya bandara ini, maka Lombok tengah akan menjadi salah satu gerbanag dunia. Dan dunia internasional perhatianaya selalau tercurah pada sesuatu yang primitive ya sperti budaya kita ini. Bkan tidak mungkin Genggong akan menjadi salah satu tradisi yang aka mejadi perhataian dunia, hal ini tentu saja akan sanagat bernilai jual tinggi bagi keberadaan pariwisata kita yang akan menarik minat wistawan untuk datang ke Lombok tengah.”Imbuhnya.
- Talenta FM
- Liputan Khusus
- dibaca 2535x
- [0] komentar




Lombok Utara (Suarakomunitas)-Pansus terawangan DPRD KLU menolak kedatangan pihak PT WAH dalam agenda pertemuan yang rencananya akan mendegarkan ketererangan-keteraangan
Coba kita tarik pandangan ke dunia luar sebentar.. Lompatan besar yang sangat cepat (lompatan quantum) selalu ada pada pemimpin-pemimpin yang agresif dan penuh ide-ide kreatif. Lihat beda Cina sekarang
MATARAM – Ratusan warga peserta Kongres Sukma (Sunda Kecil : Bali, NTB, NTT, Maluku dan Maluku Utara), meluncurkan website Talasukma (Tata Kelola Sukma), Rabu (23/5) di lokasi 
-t.jpg)


