Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Melihat Luwu Utara dari Perspektif Religi Pendapat

17 Februari 2017, tepat setahun masa pemerintahan Bupati Luwu Utara, Indah Putri Indriani, dan Wakil Bupati, Muhammad Thahar Rum. Meski masih berumur setahun, tetapi berbagai terobosan telah dilakukan, dan magnet perubahan sudah terpatri dan mulai nampak di permukaan. Salah satu yang paling mencolok adalah bangkitnya kembali semangat religiusitas yang dipandang sebagai cara paling ampuh untuk menghidupkan kembali benih-benih silaturahmi antarsuku, agama, dan ras, yang saat ini tengah menjadi sorotan publik karena masalah kebhinnekaan yang kian merapuh. Religiusitas tidak berarti hanya terikat pada satu agama tertentu, melainkan sebagai mata rantai yang tak bisa putus antaragama, suku, ras dan golongan. Inilah dimensi religi yang dijadikan pilar pembangunan, di mana moralitas dan akhlak sebagai penentu terciptanya kebahagiaan.
 

Tidak hanya menjadi salah satu pilar pembangunan, visi religi juga menjadi cerminan masyarakat Luwu Utara yang begitu menghidupkan semangat perbedaan menuju persatuan dan kesatuan antarumat beragama. Mengingat Luwu Utara adalah gambaran Indonesia mini, maka tidak salah ketika Pemerintah Daerah Kabupaten Luwu Utara menjadikan visi religi sebagai magnet untuk menarik perhatian Indonesia bahwa Luwu Utara adalah daerah yang indah dengan segala kemajemukan dan keberagamannya. Itulah kemudian dalam visinya, Pemerintah ingin mewujudkan Luwu Utara yang religius, kemudian dalam misinya berupaya menjadikan masyarakat Luwu Utara sebagai masyarakat yang religius.
 

Bangkitnya semangat religiusitas tak bisa lepas dari sentuhan dingin tangan para pemimpin kita. Jika pemimpinnya punya komitmen yang kuat, punya semangat yang sama dalam membangun kekuatan bernafaskan agama yang lebih menitikberatkan pada nilai-nilai moralitas dan akhlak, maka yakin dan percaya; keberagaman, kebhinnekaan, dan kemajemukan kita sebagai sebuah bangsa akan indah layaknya pelangi. Kita tahu filosofi pelangi itu seperti apa, berbeda warna tetapi perbedaan itu adalah kekuatan pelangi untuk kemudian kita justifikasi sebagai sebuah keindahan yang hakiki. Jangan kemudian perbedaan itu dijadikan alat untuk membenci satu sama lainnya, sehingga tercipta polarisasi yang kemudian kita terpecah belah, lalu tercabik karena tidak mampunya kita merawat kebhinnekaan sebagai sebuah identitas kebangsaan kita.
 

Khusus warga muslim di Luwu Utara, pemerintah daerah senantiasa mengingatkan warganya untuk selalu bersandar pada kekuatan Allah Swt. Segala gerak dan langkah harus selalu senada dan seirama dengan kekuatan Islam. Itulah kenapa pada setiap sudut jalan, pada setiap area publik, selalu terpampang spanduk dan baligho religi yang bersenandung dengan ajakan melangkah lurus di jalan Allah Swt. Forum-forum pengajian yang dihelat adalah upaya pemerintah dalam membuka ruang selebar-lebarnya untuk menggenjot visi religi tersebut. Bukan cuma Aparatur Sipil Negara, tetapi masyarakat lainnya bisa menjadi bagian peserta dari forum tersebut.
 

Last but not least, Bupati bersama Wakil Bupati secara rutin mengagendakan ajakan salat subuh berjamaah di masjid. Tentu ajakan salat subuh berjamaah adalah upaya mulia pemerintah untuk menggerakkan sendi-sendi keislaman warganya. Bahwa dengan salat subuh berjamaah, awal perjuangan manusia dimulai. “Waktu subuh adalah awal seisi dunia dan menjadi waktu di mana Malaikat siang dan malam berkumpul”, begitu Indah berkata. Dan yang paling fenomenal tentunya adalah gaji Bupati di bulan Januari 2017 seluruhnya disumbangkan untuk pembangunan Masjid Al Istiqamah Radda Baebunta. “Terkadang hal yang baik harus kita tunjukkan sebagai pemancing bagi yang lain untuk bersedekah,” begitu Indah berkata suatu ketika.
 

Ada kecenderungan merubah pola pikir masyarakat untuk senantiasa mengganti budaya insidental menjadi budaya rutinitas. Yang mana pada saat hari-hari besar keagamaan tiba, maka menjamurlah ucapan selamat dan ajakan berbuat baik, yang didesain dalam sebuah spanduk dan baligho yang unik, lalu dipamer di tempat-tempat ibadah atau di area publik lainnya. Ini yang coba diperbaiki dengan melakukan beberapa sentuhan perubahan, dari insidentil menjadi rutin. Bahwa menebar kebaikan adalah keharusan, tetapi jauh lebih penting menebar kebaikan secara matang agar pesan yang ingin disampaikan masuk ke dalam hati setiap insani. (Lukman Hamarong)

 

 

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.0935 seconds.