Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Asal Usul Desa Peneda Pendapat

Pada zaman dahulu ada seorang kiyai bernama TGKH Abdul Munir atau biasa dipanggil dengan sebutan Patih Akar dan istrinya bernama Hj. Aminatul Aeni atau biasa dipanggil Denda Rare. Beliau ini berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain guna untuk menyebarkan ajaran agama Islam, yaitu mengajarkan tauhid dan lain-lain supaya umat manusia beriman dan bertaqwa.

Dan suatu ketika beliau singgah di salah satu perkampungan bernama Akar, karena di tempat itu dipenuhi oleh pepohonan yang besar-besar serta akar dari pepohonan tersebut menyebar ke mana-mana. Kemudian ia mengajarkan masyarakat setempat untuk mengenal tentang ajaran Agama Islam serta mendirikan pesantren dan tempat beribadah lainnya serta mengajarkan masyarakat tentang kitab suci Al-Qur’an. Dari situlah beliau dikenal dengan sebutan Patih Akar.

Tak lama kemudian setelah beliau merasa cukup di sana, ia memutuskan lagi untuk keluar atau berkeliling untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Dan beberapa orang yang mengikutinya sebagai murid setia yang mengabdi kepadanya semata-mata untuk memperoleh ilmu yang banyak. Jadi, setelah ia berada di perkampungan Akar, ia pun keluar dan dari kejauhan mereka melihat beberapa pondok atau perumahan lalu mereka menyinggahinya. Setelah itu, Patih Akar mengajari penduduk tentang agama serta membangunkan mereka tempat beribadah. Kalau sudah merasa cukup ia pun kembali meninggalkan tempat tersebut. Namun, di tengah perjalanan tak jauh dari tempat tersebut kurang lebih 100 meter dari perkampungan itu mereka dikepung oleh segerombolan penjahat atau perampok. Dalam peristiwa tersebut terjadi perkelahian yang sangat sengit dan penduduk tak ada satupun yang berani keluar dari rumah mereka, karena merasa takut.

Singkat cerita setelah kejadian tersebut, penduduk di sana masih terasa sunyi dan sepi tak ada satu pun yang keluar rumah untuk beraktivitas, namun salah satu orang penduduk tersebut memberanikan diri untuk keluar rumah, kemudian mengetuk pintu tetangganya serta mengajak mereka pada keluar untuk melihat tempat kejadian perkelahian itu. Sampai di sana mereka melihat berserakan darah di mana-mana, salah satu dari mereka menemukan sorban milik Patih Akar lalu mereka bersepakat untuk memberikan tanda dan menancapkan sebongkah bebatuan sebagai nisan. Tak jauh dari tempat kurang lebih 25 meter dari tempat itu mereka lagi menemukan selendang milik sebinian atau istri sang kiyai. Merekapun memberikan tanda juga, yaitu menaruhkannya batu.

Dari peristiwa atau kejadian itulah masyarakat setempat menjadikan tanda tersebut sebagai makam Kiyai dan istrinya. Dan berkat jasa beliau pada masyarakat setempat, para penduduk di sana selalu mendatangi makan tersebut untuk mendo’akan beliau dan istrinya. Dalam hal tersebut mereka yang mendatangi makam itu disebut Neda yang merupakan bahasa kuno. Akan tetapi seiring berjalannya waktu aktivitas itu disebut ziarah makam. Dari kata Neda itulah diperoleh kata Peneda yang artinya “tempat orang neda”. Dari kata inilah diambil atau terbentuknya nama penduduk atau perkampungan tersebut, yaitu Desa Peneda. Dan bukan hanya penduduk setempat saja yang berziarah melainkan penduduk-penduduk luar yang juga mengenal Kiyai. Karena berkat jasa beliau banyak sekali dalam meyebarkan serta mengajarkan ajaran Islam.

Akhir cerita banyak penduduk setempat berpendapat bahwa Kiyai Abdul Munir dalam peristiwa itu tidak meninggal, namun beliau menghilang bersama istrinya atau pindah alam lain.


Oleh Siti Maryam (Peneda Toya, Kecamatan Aikmel, Lombok Timur)

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.09137 seconds.