Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Cerdas Bermedia Tajuk

Dewasa ini informasi mengarus bak air bah. Tak ada yang sanggup membendungnya. Warga setiap hari selalu disuguhi informasi dari berbagai sumber.

Namun, menggembungnya informasi ternyata tak berbanding lurus dengan kapasitas literasi warga. Arus deras informasi tidak diimbangi oleh kapasitas literasi warga Indonesia kebanyakan. Sebagian besar menelan mentah-mentah informasi tersebut dan menganggapnya sebagai kebenaran.

Bukan hanya media-media abal-abal yang berandil dalam kesimpangsiuran informasi dewasa ini. Media arus utama pun memiliki peran yang cukup besar dalam mengaburkan fakta. Alhasil, yang terjadi adalah perang framing, dan celakanya, juga perang berita yang tidak benar (hoax). Media arus utama maupun media golongan pada akhirnya hanya menyebarkan informasi yang mendukung kepentingan politik dan ekonomis kelompoknya saja, serta mengabaikan kepentingan publik yang lebih luas.

Pada situasi seperti inilah media komunitas seharusnya berperan. Media komunitas sebagai media yang tumbuh bersama warga memiliki banyak keuntungan. Selain karena adanya rasa kepemilikan bersama, media komunitas juga dapat menjadi pengontrol isu yang semakin tak terkendali.

Namun tetap perlu diingat bahwa media komunitas haruslah menjadi garda terdepan kepentingan publik, bukan malah mereproduksi pertarungan wacana yang terjadi antara media arus utama dan media golongan. Sebab jika ini terus berlangsung, maka lagi-lagi, warga akan menjadi objek informasi dan membiarkannya terjebak dalam pertarungan politik antarpihak.

Maka dari itu, media komunitas perlu merebut kembali perannya sebagai media yang mencerdaskan warga.

Komentar (1)

  • 9 Des 16 12:30 wib Ferdhi Putra

    media independen yang bisa memainkan peran penyeimbang

Page generated in 0.09509 seconds.