Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Sengketa Tanah Lapangan Ancak Desa Karang Bajo Berlanjut Berita

Karang Bajo (SK) - Sengketa tanah lapangan ancak karang bajo semakin memanas,diamana sebelumnya Isnayang Cs , yang mengaku pemilik tanah lapangan peninggalan nenek koyangnya dengan tanda bukti berupa surat tanda pendaftaran sementara tertanggal ( 15/07/1958) menjadi polemik.
sempat dimediasi oleh camat bayan dengan mengahadirkan Badan Pertanahan Nasional (BPN) ,kepala desa Karang bajo ,Kepala Desa bayan beserta ketua BPD dari kedua desa dan isnayang cs pada hari kamis ( 14/10/16) kemarin bertempat diRuangan Camat bayan dengan memutuskan kesepakatan damai. Dimana tanah yang luasnya ± 810 m2 sebagimana tertera pada surat tanda pendaftaran pajak tersebut ,tidak sepenuhnya dapat disengketakan mengingat ±360 m2 lahan tersebut telah dibangun fasilitas publik berupa masjid dan pustu,maka tidak digubris. Sementara sisanya yang diperkarakan ±450 m2 yang akan dibagi dengan perincian, ±20 x 40M sebelah selatan (red-dekat jalan Raya) diambil alih isnayang CS dan ±16 x 40 M sebelah utara akan menjadi aset desa,sementara sisa tanah yang diperkirakan ±2x40 M akan menjadi penambahan gang disebelah utara .Namun keputusan kepala desa karang bajo menyerahkan tanah tersebut tidak lantas membuat puas masyarakat setempat,pasalnya kades dianggap terlalu ceroboh dalam pengambilan keputusan tanpa melakukkan musyawarah dengan masyarakat sebelumnya.
Yang mana telah mengelola tanah tersebut lebih dari 50 tahun sebagai sarana olah raga dan kegiatan masyarakat. Semetara itu ,kepala desa karang bajo ,kertamalip yang dikomfirmasi mengenai hasil kesepakatan tersebut ,mengaku merasa tertekan pada saat mediasi berlangsung,karena dari beberapa oknum melakukan penekanan-penekanan dengan cara membatasi hak berbicara . Merasa terintimidasi,iapun harus mengambil keputusan secara sepihak ,hal itu diakui didepan para masyarakat karang bajo saat diminta memberikan kejelasan mengenai hasil kesepakatan mediasi tersebut dimasjid jami’ Al-fattah pada senin malam (16/10/16). Selain itu juga masyarakat setelah melihat copy – an dari surat pendaftaran pajak tersebut ,masyarakat menilai tanda bukti kepemilikan yang berupa surat pendaftaran pajak teridikasi dipalsukan,sebab alat yang digunakan untuk membuat surat tersebut terlihat modern ( red - komputer & printer) tidak sesuai dengan tehnologi pada tahun 1958.
Permaslaah ini membuat pemuka masyarakat, Singalim angkat bicara,pasalnya sejarah tentang keberadaan tanah lapangan tersebut yang dulunya adalah tanah berbukit diketahui diratakan oleh masyarakat setempat karena akan dijadikan sarana umum .
Tokoh yang juga pernah menjabat sebagai kepala dusun karang bajo pada tahun 1974 ini juga mengaskan merasa keberatan jika tanah lapangan ini digugat sekarang,sebab selama 50 tahun lebih tidak pernah digubris.
’’ Seingat saya tanah itu dulu miring,ada yang berbukit ,ada yang rendah. oleh pemerintah setempat saat itu menetapkan tanah tersebut sebagai tanah lapangan ,sehingga semua masyarakat bayan bergontong royong untuk meratakannya , terutama yang lebih banayak andilnya adalah masyarakat karang bajo tentu sebagai masyarakat karang bajo saya keberatan jika itu di klaim tanah pribadi oleh orang,apa lagi sampai akan dibagi dua ,saya sangat tidak setuju ‘’ ungkapnya.
Menanggapi tentang “yang katanya” alat bukti kepemilikan lahan yang dipegang oleh isnayang CS,bapun gading(panggilan sehari hari)meragukan keabsahannya, karna menurutnya PIPIL GARUDA yang ditunjukan tidak sama dengan pipil garuda kebanyakan yang biasanya dilengkapi sketsa gambar keadaan tanah, baik itu kemiringan atau posisi tanah .
’’setelah saya melihat surat yang diklaim sebagai surat tanda kepemilikan itu tidak benar karna kalau pipil tanda logo garuda itu dia harus di lengkapi dengan gambar tanah, ternyata setelah di tunjukan foto copy - annya , tidak ada gambar peta tanah berarti itu tidak benar dan ada indikasi pemalsuan dokumen “pungkasnya.
Masyarakat karang bajo berharap kepada pemerintah untuk segera mengusut tuntas kasus sengketa lahan lapangan ancak ini agar jelas status dan keberadaanya,karena jika tanah lapangan ini dikuasai oleh oknum – oknum yang tidak bertanggung jawab,maka masyarakatlah yang akan terkena dampaknya,terlebih lapangan tersebut merupakan pusat perekonomian ,pusat olah raga dan pusat kegiatan masyakat karang bajo.

 

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.09114 seconds.