Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Berau: Pendidikan Industri ‘Kerakyatan’ Pendapat

Masa depan suatu bangsa harus mengandalkan pada kualitas, produktivitas, efisiensi pekerja profesional dari sumber daya manusia (SDM). Begitulah statemen tegas dari BJ Habibi (Presiden ke-3 RI), menurutnya SDM adalah kunci dari segalanya dan sejarah telah membuktikan itu, sehingga tidak di benarkan jika pemerintah masih saja mengutamakan SDA terbarukan dan SDA tak terbarukan.

Salah satu langkah pokok untuk mewujudkan SDM yang berkualitas, produktif, dan profesional adalah dengan pendidikan yang sesuai amanah dalam UUD 1945 dan konstitusi. Tujuan, Pendidikan Nasional adalah mewujudkan manusia yang berkarakter atau sadar akan nilai luhur, kebangsaan dan keagaman. Artinya, pendidikan nasional bertujuan ‘memanusiakan manusia’.(baca:uu20th.2003)

Dalam mewujudkan tujuan pendidikan tersebut, pemerintah mengambil satu langkah kebijakan dalam mengembangkan konten pendidikan ke arah yang spesifik yakni pendidikan vokasional (kejuruan). Kompas (24/5/2016) melansir statement Presiden RI Pak Jokowi pasca kepulangannya dari tour Eropa. Ia menyampaikan salah satu hasil konvensi yang telah disepakati dalam tournya tersebut yang berbentuk kerjasama dibidang pendidikan vokasi, values kerjasama tersebut ±$208 menggandeng Jerman.

Senada dengan hal tersebut, Bupati terpilih Kab.Berau priode 2016-2021 Pak Muharram-Agus T, dalam masa-masa kampanye juga memiliki visi-misi di bidang pendidikan dan industri. ‘BERSAMA BANGUN BERAU : SEJAHTERA, UNGGUL BERDAYA SAING’, sebagai visi-misi utama dari Pak Muharram dan Agus T untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam, memberdayakan usaha ekonomi kecil menengah yang berbasis kerakyatan, dan perluasan lapangan kerja termasuk pengembangan ekonomi kreatif berbasis pariwisata dan kearifan lokal.(baca:muharramuntukberau.com)

Prihal yang diupayakan oleh Presiden RI dan Bupati Kab.Berau, adalah upaya-upaya taktis dalam mengaktualisasikan ‘promise of political’. Artinya, kebijakan hanya untuk satu priode masa jabatan. Maka penting adanya integralisasi dalam mewujudkan kebijakan yang memusat (top) untuk sampai kepada wilayah terpencil (down).

Dari data emperik tersebut, penulis mengembangkan hipotsis yakni bagaimana arah pendidikan Kab.Berau dalam menyiapkan SDM lokal untuk mengisi ruang-ruang industri di kala industri manufacturing (besar) mengalami pasang surut? Jika kita menceramti statement dari Pak BJ Habibi mengenai SDA. Statement tersebut kohesif dengan fakta bahwa industri manufacturing (besar) berbasis SDA, sebagai sample industri batubara tidak selalu pada posisi indeks yang kuat. Terbukti di tahun 2015 Industri batubara melemah dan terkena effect domino dari nilai tukar rupiah.(baca:apindoberau) Hal demikian ini tidak menutup kemungkinan akan terulang kembali, sebagaimana teori saham ‘random walk’.

Maka sepatutnya pemerintah Kab. Berau melihat fenomena tesebut sebagai dasar mengelaborasi arah pendidikan Kab. Berau yang bertumpu pada penguatan SDM lokal berbasis industri ‘kerakyatan’. Bila kita melihat jumlah data sekolah kejuaruan (vokasi) seperti SMK, ada 7 sekolah SMK baik negeri maupun swasta yang tersebar di berbgai kecamatan dengan fokus pengembangannya masing-masing. Di Tanjung redeb ada 6 sekolah dan 1 sekolah di Talisayan.(baca:bpsberau) Ini mengindikasikan bahwa sekolah (SMK) yang memiliki visi pengembangan SDM di Kab. Berau masih kurang. Masing-masing kecematan memiliki potensi SDA yang beragam dan berbeda dari kecamatan lain, maka untuk mengelola SDA tersebut kearah industri kerakyatan di butuhkan modal SDM yang lahir dari pemikiran dan tindakan kreatifitas lokal. Sejak dibentuk 2009, Bidang Pembinaan Usaha Kecil Menengah dan Mikro (UMKM) Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoprindag) telah memprogramkan pembinaan kepada pelaku usaha di Berau.

Hingga akhir 2012, tercatat 2.827 UMKM berdiri di berbagai unit usaha dan menyerap tenaga kerja hingga 5.874 orang. Dana bergulir untuk mendongrak usaha masyarakat itu pun telah mencapai miliaran rupiah. Tidak hanya dengan masyarakat, tetapi juga kemitraan dengan dunia usaha berskala besar yang juga memiliki program pembinaan dan pendampingan UMKM. Bila Bupati Kab. Berau terpilih berserta jajaranya jelih melihat data empirik, seyogyanya visi-misi yang akan di aktualisasikan akan dapat jalan secara integral dalam melanjutkan upaya-upaya yang telah dilakukan. Artinya, dalam bidang pendidikan sudah saatnya pemerintah melirik kekuatan baru dalam dunia pendidikan dan industri yang berbasis ‘kerakyatan’ (penegatahun/kreativitas lokal) dengan menambah jumlah sekolah kejuruan SMK yang saat ini belum tersentuh di berbagai kecamatan dengan spirit pengembangan bidang sesuai potensi lokal dan SDA yang dimiliki. Selain itu, persiapan untuk membangun industri kerakyatan yang siap dalam produksi dan distribusi.

Semisal kampung Jagung di Samburakat yang bisa di transformsikan sebagai Industri gula yang berasal dari biji pati Jagung yang hasil produksinya bisa di distribusikan ke setiap perHotelan atau menjadi oleh-oleh khas Kab. Berau. Hal tersbut juga berpeluang untuk menambah lapangan pekerjaan bagi penduduk Kab. Berau. Jika setiap kecamatan mampu mengelola potensi SDM dan SDA atau itegralnya antara pendidikan dan industri. Sesuai data yang penulis sajikan, penulis berkisimpulan bahwa Kab. Berau mampu mejadi Kabupaten yang mandiri dan tidak selalu mengandalkan industri manufacturing. Tentu saja setiap perubahan mesti membutuhkan waktu, namun optimisme penulis sebagai putra daerah Kab. Berau dan segenap masyarakat yang optimis terhadap Kab. Berau bisa mewujudkan Berau sebagai contoh Kota Pendidikan dan Industri Kerakyatan.

 

*Syamsuddin Juhran (Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Non-Formal,asal Berau)

 

 

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.09285 seconds.