Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Cetak Bata Usaha Tradisional Berita

 Sosok lelaki kokoh ini sudah sekitar 30 tahun menekuni usaha tradisional membuat batu bata merah, pekerjaan ini merupakan satu-satunya mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.


 
Menurutnya, ada perbedaan yang signifikan memproduksi batu bata dari pertama kali ia memulai usahanya, mulai dari sewa tanah, membeli bidang tanah, bahkan sekarang membeli kubikan tanah sebagai bahan baku.
Lelaki ini masih setia dengan cara produksi yang tradisional, seluruh proses pembuatannya menggunakan tenaga manusia.
Meski persaingan cukup ketat dalam pemasaran produknya, namun baginya setiap produksi merupakan pesanan konsumen.

Wahhhh, saya sungguh terinspirasi, saya dapat banyak pelajaran dari pak Junaedi hari ini.

"Kalau beli di tempat Rp.450ribu/seribu bata merah, terus terang saya tidak sanggup kalau pesannya banyak, saya sudah tua, tenaganya sudah berkurang, paling sekali cetak dapat 700 bata, sudah gak punya anak buah (karyawan), sekarang pada lebih tertarik memilih cari limbah, lebih cepat uangnya dari pada bikin bata, tapi kalau seribu dua ribu saya sanggup sekali bakar kalau buru-buru" demikian pungkas pak Junaedi.

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.08752 seconds.