Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Meminta Demi Keluarga Berita

Kr.Geukueh ( 25 Juni 2016). Menjadi kepala keluarga,bukanlah hal gampang. Apalagi yang dihadapi Tgk. Abdul Hadi yang akrab dipanggil Tgk.Adif. Beliau yang sejak masa kecil dilahirkan tanpa penglihatan, tumbuh dan berkembang menjadi dewasa. Mengingat keterbatasannya, kedua orangtuanya tidak menyekolahkan di sekolah umum, melainkan mengaji.

Dengan menggunakan ingatan yang merupakan anugrah Allah swt, yang sangat luar biasbeliau sanggup menghafal huruf demi huruf, ayat demi ayat hingga menguasai bacaan Al-quran berjuz-juz.. Tak heran suatu saat, ketika mengikuti MTQ,khusus kalangan tunanetra, beliau terpilih menwakili Provinsi Aceh ke Tingkat Nasional tahun 2001 di Palembang Sum-Sel.
Suatu hari kami mengunjingi kediamannya di Desa Paloh Igeuh Kecamatan Dewantara.

“Asssalamu`alaikum, Tgk”,sapaku lembut.
“Waalaikumsalam, Pak Mulyo,”jawabnya tanpa ragu.
Sebagai Sekretaris Mesjid Denrudal-001, aku menjadwalkan beliau sebulan sekali. Ini dilakukan bukan hanya karena belas kasih, akan tetapi memang wajar mengingat suaranya sebagai qory sangat merdu.

Dari pengakuan beliau, khusus untuk shalat Zhuhur dan Ashar di Mesjid Istiqamah, beliau sudah dijadwalkan sebagai Muazzin tetap.

Yang paling menarik dari sifatnya, beliau orang yang tak kenal menyerah. Dan ketergantungan dengan orang lain.
Dari pengakuan, untuk pergi ke Mesjid Istiqamah PT.Arun Lhokseumawe yang jaraknya sekitar 8 km, beliau tidak dijemput., melainkan berjalan kaki hingga Sp.IV Krueng Geukueh yang jarak dari rimahnya sekitar 3 km.
Dari Sp.IV tersebut, beliau baru menumpang angkutan umum (labi-labi) menuju Pajak (Kasar) Batuphat. Dari Pajak, beliau berjalan melewati kerumunan orang-orang berdagang dan pembeli. Tentu ini sebuah perjuangan yang sangat berat bagi seorang Tunanetra.
“Tgk, kalau boleh tahu, berapa honor sebagai Muazzin di Mesjid Istiqamah”,tanyaku.

“Alhamdulillah, pengurus memberikan honor kepada sya sebesar Rp 1.500.000,-/bln, jawabnya singkat.
“Apakah honor tersebut, cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga ?”,tanyaku agak ragu.

“Sejujurnya Pak Mulyo, honor sebesar itu tidak cukup untuk memenuhi segala keperluan keluarga. Bayangkan, harga beras yang paling murah Rp125.000,-/zak. Katakan satu bulan cukup. Untuk ikan dan lainnya Rp 20.000,-/hari.x30 = Rp 600.000,-/bln. Untuk gula dan kopi Rp 150.000,-/bln. Untuk jajan anak-anak sekolah minimal Rp 450.000,-/bln. Belum lagi untuk alat-alat tulis, tas, sepatu dan kebutuhan sekolah lainnya,jawabnya dengan wajah agak murung.

“Maaf,Tgk.Untuk menutupi kekurangan pengeluaran, apa usaha lain yang Tgk. Lakukan”,tanyaku penuh kehati-hatian.
“Terus terang saya sampaikan ke Bapak, ketika pulang dari Mesjid Istiqamah Saya selalu meminta belas kasihan dari pedagang-pedagang yang masih berjualan di Pasar Batuphat sambil menuju tempat angkutan umum parkir.

Yach...,namanya meminta tentu tidak semuanya memberi. Apalagi ini Saya lakukan setiap pulang shalat Ashar. Ketika Saya angkot yang Saya tumpangi sampai di Sp.IV Krueng Gekueh, Saya turun. Di sepanjang jalan menuju pasar Krukuh, Saya selalu meminta dor to dor. Ada yang memberi dan ada pula yang hanya mengucapkan kata maaf, ucapnya miris.

Apa yang dikatakan Tgk. Adif ini benar adanya. Bahkan ketika usai belanja, beliau tidak pulang dengan menumpang becak atau angkot. Beliau lebih memilih berjalan kaki,karena sepanjang jalan yang dilalui masih terdapat toko-toko dan warung-warung. Kesempatan ini tak pernah beliau lewatkan, walau agak terseok-seok karena jalan yang dilaluinya tidak lurus.

Ada yang patut untuk dicermati dari liputan yang sederhana ini. Kendati dengan kondisi seperti ini, beliau tidak pantang menyerah untuk mencari nafkah demi menghidupi seorang istri dan 5 orang anaknya. Tentu ini dapat dijadikan suritauladan bagi anak-anaknya, bagi kita yang dilahirkan dalam keadaan sempurna. (Mulyo, S.Pd).

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.08954 seconds.