Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Taman Kuliner Wonosari, Destinasi Wisata Baru di Gunungkidul Berita

 
(Wonosari-SK) Gunungkidul sebagai salah satu Kabupaten di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sedang berbenah. Gunungkidul yang merupakan kawasan karts Gunungsewu akhirnya masuk dalam jaringan geopark internasional. Keputusan ini keluar dalam konfrensi Asia Pasific Global Network di Sanin, Kaigan, Jepang pada 19 September 2015. Dengan prestasi ini, maka karts Gunungsewu merupakan bentang alam kedua di Indonesia yang masuk ke jaringan geopark internasional setelah kawasan Gunungbatur Propinsi Bali. Sektor wisata alam seperti pantai, gua, perbukitan dan air terjun menjadi primadona bagi wisatawan, yang sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata minat khusus. Tidak sekedar itu, banyak sektor yang ingin dikembangkan oleh kabupaten yang berslogan Handayani ini.
Salah satu sektor lain yang ingin dikembangkan dan mendapat perhatian khusus dari pemerintah daerah adalah kuliner yang merupakan penunjang utama sektor pariwisata. Pedagang kaki lima yang bertebaran di lingkungan kota terutama di lingkungan titik nol, kawasan alun-alun Wonosari diberdayakan agar menjadi sektor handal pariwisata. Agar lebih rapi dan bagus dibangunlah Taman Kuliner yang berlokasi di jalan Baru, Komplek Taman Kota belakang kantor Pemda Kabupaten Gunungkidul.

Hal tersebut juga sesuai denga Perda No. 3 tahun 2015, tentang Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima, yang salah satu poin didalamnya berbunyi “Bahwa kegiatan pedagang kaki lima sebagai salah satu usaha ekonomi kerakyatan yang bergerak dalam usaha perdagangan setor informal perlu dilakukan pemberdayaan untuk meningkatkan dan mengembangkan usahanya”. Penataan pedagang kaki lima juga sangat mendukung terwujudnya piloting project Kabupaten Gunungkidul sebagai Kabupaten Sehat. Kabupaten sehat sangat erat hubungannya dengan tata kota, perumahan, tata wilayah, kebersihan, pengelolaan limbah padat dan cair, pembinaan serta penataan pedagang kaki lima dan pemanfaatan ruang publik sesuai dengan peruntukannya.
Pengaturan pedagang kaki lima ini tidak dilakukan dengan frontal, namun terstruktur dengan baik. Pemerintah memfasilitasi para pedagang kaki lima dengan merelokasinya dari trotoar dan badan jalan di seputaran alun-alun Wonosari ke Taman Kuliner setelah sebelumnya dilakukan dialog dan sosialisasi. Dan pada tanggal 20 Mei 2016 para pedagang dengan sukarela mulai menempatinya, yang kemudian pada tanggal 31 Mei 2016 diresmikan oleh Bupati Gunungkidul Hj. Badingah S.sos.

Taman Kuliner Wonosari yang baru dibuka selama kurang lebih dua setengah bulan memiliki progres yang sangat bagus. Dari 32 kios yang disediakan, 80% sudah buka dan sisanya masih dalam tahap persiapan, melengkapi peralatan berdagang seperti angkring, meja dan lain-lain. “Lima puluh persen pelanggan kami sudah kembali yan lain mungkin belum tahu kami pindah kesini tapi banyak juga pelanggan baru,” kata Sutar, salah satu pedagang Mi Jakarta di taman kuliner ini. Bapak dua anak ini telah berjualan mi Jakarta selama 23 tahun di depan gedung DPRD Kabupaten Gunungkidul yang dengan senang hati dia mau pindah di taman kuliner. Harapannya, semoga pelanggan bisa kembali seratus persen, dengan dibantu oleh pemerintah untuk mempromosikan destinasi wisata baru Gunungkidul ini ke seantero negeri. Lain lagi dengan Sudarto, pedagang sea food. Dia mengatakan bahwa dia bersama seluruh pedagang di taman kuliner sangat nyaman berada di tempat ini. Hanya saja, dia berharap, pengelola memikirkan kembali gazebo-gazebo yang beratap tenda. Saat ini musim kemarau, sehingga masih dirasa aman. Namun jika nanti musim hujan, pelanggan akan merasa tidak nyaman. Mungkin bisa dibangun kembali gazebo itu dengan bangunan permanen untuk memanjakan para pembeli, imbuhnya. Darto juga mengatakan jika dia dan kawan-kawannya diberi kesempatan membuka usaha selama 24 jam, namun jika selama tiga bulan tidak digunakan secara berturut-turut, pemerintah akan mengambil hak sewa tersebut dan akan dilelang untuk ditawarkan kembali pada pedagang lain.



Tiga puluh dua kios yang ada di taman kuliner wonosari ini diisi oleh para pedagang dengan menu yang beragam. 17 kios diisi oleh pedagang yang direlokasi dari titik nol sedangkan yang 15 diundi untuk umum, dengan syarat menu harus selain yang 17 kios dan dari 15 tersbut juga dengan menu yang berbeda pula. Hal ini dimaksudkan agar terjadi persaingan sehat, meminimalkan permusuhan dan saling mengalahkan antar pedagang, dan tentu saja untuk melengkapi menu makanan sehingga pengunjung bisa bebas memilih makanan apa saja. Benar saja, setiap Sabtu malam Minggu atau hari-hari libur, pengunjung membludak. Seluruh tempat duduk penuh sesak, hampir tidak ada sela, tak beda jauh dengan malam ini, ujar Sularno staf Kantor Pengelolaan Pasar yang bertugas memantau taman kuliner. Menurutnya, pedagang hampir tidak bisa istirahat, melayani pembeli tanpa henti. Hal ini sangat membanggakan, dalam kurun waktu dua setengah bulan progress taman kuliner ini sangat pesat.
 

Kios-kios yang difasilitasi air dengan bak cuci serta listrik ini terlihat sangat rapi. Bangunan permanen dilengkapi atap genteng dan skat tembok di antara dua kios yang berdekatan. Dua belas gazebo terlihat elegan dengan tenda berwarna putih di atasnya, berjajar dari sebelah utara hingga selatan di tengah-tengah taman kuliner, serta dari sebelah barat ke timur pada bagian selatan. Sebanyak 23 meja yang beratap payung, berdiri disela-sela taman yang kesannya ingin memanjakan pengunjung. Para remaja, dewasa, dan orang tua, serta anak-anak terlihat nyaman berada di tempat ini. Para orang tua beserta keluarga menikmati kuliner dengan santai. Banyak sekumpulan anak remaja duduk-duduk sambil menikmati minuman seperti es buah, teh poci, dan lain sebagainya. Mereka juga asyik berselancar sambil bercengkerama. Karena memang Kominfo Gunungkidul menyediakan akses internet full 24 jam saat hari libur dan pukul 16.00 sore hingga 06.00 pagi pada hari kerja dengan kecepatan yang cukup.
Saat saya menanyakan kenyamanan pengunjung, mereka menjawab merasa sangat nyaman di taman kuliner ini. Pedagang yang berjualan dari pukul 09.00 pagi hingga tengah malam makanannya enak dan bervariasi, saya bisa duduk bebas berjam-jam di sini, tanpa rasa khawatir diusir. Banyak hal yang bisa saya pelajari dari orang-orang yang saya ajak ngobrol selama saya di sini. Tempatnya asyik, harga terjangkau, terang Septian Nurmansyah, salah satu pengunjung lulusan Seni Rupa ISI Yogyakarta.
 

Pengunjung bebas menggunakan tempat yang disediakan selama dia ingin di tempat itu. Sistem pemesanan dan pembayaran juga sangat mudah. Pembeli memesan, diantar oleh penjual, dan membayar setelah selesai makan. Penjual tidak merasa takut tidak dibayar, karena memang selama ini belum, bahkan tidak ada kejadian pembeli tidak membayar. Sepertinya memang sudah menjadi budaya masyarakat Gunungkidul yang sangat baik, timpal petugas air dan listrik yang tidak mau disebut namanya.
Dilihat dari segi lingkungan dan tata kota, taman kuliner ini juga memperhatikan ruang hijau pada areanya. Terlihat taman yang tertata apik dengan rumputnya yang hijau. Pohon-pohon yang ditanam di sana juga tumbuh subur. Sampah dikelola dengan baik, tempat sampah tersedia, setiap pagi sampah sudah diambil, kata Sularno yang sudah bergelut dalam pengelolaan pasar selama tujuh belas tahun.

 

Langkah pemerintah dalam mengambil tindakan untuk segera memulai menata dan membina pedagang kaki lima sekaligus menjadikanya destinasi wisata pilihan patut diapresiasi sebelum nantinya terlambat yang berakibat dengan kekumuhan kota Wonosari. Kalau ditilik dari perkembangan jaman dan terus meningkatnya jumlah wisatawan dari tahun ke tahun yang membanjiri Gunungkidul akan sangat mungkin Wonosari ini akan mejadi kota yang berkembang dengan pesat. Apalagi nanti kalau Jalan Jalur Lintas Selatan yang menghubungkan pesisir Pulau Jawa bagian selatan akan semakin cepat perkembangan kabupaten terluas di Propinsi DIY ini. Dan juga perlu perimbangan dengan terus memupuk dan membagikan pegetahuan bagi masyarakatnya untuk selalu menjaga alam adalah keharusan.
(Umi Azzura S / HNCRKFM)

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.09189 seconds.