Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Dilly-ding Dilly-dong, Belajar Bermimpi Bersama Ranieri Pendapat

Amat sulit untuk memberikan pesan pada orang-orang luar biasa ini. Mereka bermimpi, saya mengatakan dilly-ding, dilly-dong, dan mereka terbangun, dan ini menjadi kenyataan. Ungkapan tersebut terlontar dari mulut Claudio Ranieri usai merasakan nikmatnya menjadi juara Premier League 2015/2016 bersama Leicester City. “Mantra” Ranieri tersebut sebenarnya hanya keluar ketika anak asuhnya berlatih tanpa semangat dan kurang darah. Guna membangunkan semangat juang mereka kembali, maka keluarlah mantra tersebut yang sebenarnya dia lakukan ketika masih melatih Cagliari pada akhir 1980-an dan awal 90-an. Rupanya mantra sakti tersebut sangat ampuh memompa semangat juang Ryad Mahrez dkk guna meraih mimpi menjadi nyata. Situs republika dan Tabloid BOLA mengabarkan tentang mantra sakti tersebut.

Ada banyak ungkapan kekaguman, tidak hanya buat Leicester sebagai sebuah klub medioker yang menjelma menjadi penguasa tunggal liga paling elit di Britania Raya, tapi juga kepada sang pelatih yang punya andil besar menyulap pemain dari orang-orang yang takut bermimpi menjadi orang yang berani bermimpi. Mumpung gratis, ayo bermimpi. Mungkin itu yang dikatakan The Tinkerman nama alias sang Italiano tersebut. Meski berkonotasi negatif, tapi julukan tersebut mampu mebawa hasil-hasil yang positif bagi eksistensi The Foxes di papan atas table klasemen. Konsistensi Leicester dalam mendulang angka demi angka hingga perolehan nilainya tak mampu lagi dikejar para raksasa Liga Inggris berhasil membangunkan Jamie Vardy dkk dari mimpinya. Hasilnya.... sim salabim, abrakadabra, dan jadilah Leicester sebagai kampiun baru EPL. “Dilly ding dilly dong dan mereka terbangun dari mimpinya dan jadi nyata.”
 

Dalam perspektif di kekinian, apalagi jika mimpi itu kita giring ke ranah yang lebih luas, politik misalnya, maka apa yang diajarkan Ranieri kepada anak asuhnya bisa menjadi contoh yang baik bagi siapa saja yang punya niat untuk menjadi pemimpin. Tak apa dibilang tukang mimpi. Tidak mengapa dibilang tidak realistis. Asal jangan pernah menyerah mengejar mimpi, tidak ada yang tidak mungkin sepanjang potensi yang kita miliki kita libatkan dalam proses perjuangan mewujudkan mimpi, karena perjuangan itu adalah pelaksanaan kata-kata. Percuma bermimpi jika perjuangan itu hanya bergerak pada permainan kata-kata, bukan pelaksanaan kata-kata.
 

Pilkada serentak 2017 sudah di depan mata. Para calon pemimpin sudah menyiapkan amunisi untuk bertarung dalam kontestasi lima tahunan tersebut. Maka carilah calon pemimpin yang berani bermimpi. Carilah pemimpin yang luar biasa, jangan cari pemimpin yang biasa-biasa saja. Ilmu mimpi Ranieri di atas bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja bahwa sebenarnya cerita dongeng Cinderella bukan sekadar cerita fiktif belaka, tetapi bisa pula menjadi cerita nyata dalam bentuk reinkarnasi Cinderella ke dalam cerita epik perjuangan pengantar mimpi menjadi nyata. Mimpi yang sempurna, kata Peterpan dalam salah satu lagu kolosalnya tersebut.
 

Dua pemimpin besar yang lahir dari mimpi besarnya adalah Bung Karno dan Barrack Obama. Bung Karno, panggilan beken Sang Proklamator Ir. Soekarno, bermimpi bagaimana membawa Indonesia ini merdeka dan bebas dari penjajahan Belanda dan sekutunya. Pun dengan Barrack Obama, yang bermimpi ingin menjadi Presiden kulit hitam pertama di negara adikuasa Amerika Serikat. Contoh mutakhir di mana seorang pemimpin lahir dari mimpi besarnya adalah Sadiq Khan. Sadiq terpilih menjadi Wali Kota London. Tentu sebelum menyatakan maju dalam kontestasi politik di Negeri Ratu Elizabeth tersebut, Sadiq sudah punya mimpi menjadi Wali Kota muslim pertama di London yang notabene penduduknya mayoritas non muslim.
Apa yang menghalangi kita untuk tidak bermimpi? Di sosial media, para Calon Pemimpin sudah mulai bersosialisasi dengan cara dan gaya mereka masing-masing. Aktualisasi diri dalam berbagai gaya, bahkan ada yang mendadak “Mario Teguh” dengan menyuguhkan untaian kata-kata motivasi kepada netizen adalah cara terbaik mengambil simpati publik. Semua cara yang dilakukan adalah upaya mewujudkan mimpi dan selama itu baik dan diterima kalangan, maka the show must go on. Mimpi harus dilanjutkan melalui perjuangan totalitas. Mimpi harus terus diukir dengan tintas emas di atas kanvas kehidupan, sehingga desain mimpi bisa terlihat jelas sebelum “mantra” Ranieri dilly ding dilly dong mengangkasa di seantero jagat raya untuk kemudian menampakkan wujud asli dari proses perjuangan yang diawali dari mimpi.
 

Masih takut bermimpi? Belajarlah bermimpi dari The Tinkerman, Sang Tukang Reparasi yang mampu mereparasi Leicester dari klub antah-berantah musim lalu hingga nyaris terdegradasi menjadi klub dengan satu kesatuan utuh yang amat sulit dibongkar onderdil-nya, sehingga kekuatan lini ofensif dan defensif mengalami keseimbangan dan tidak mudah goyah dari berbagai serangan penjuru mata angin. Dilly ding dilly dong, mereka terbangun dan mimpi itu menjadi nyata. Sebuah progres yang signifikan tanpa harus menggoreskan luka pada kompetitor lainnya. Mari belajar bersama Ranieri. Ilmu mimpi tak pakai ongkos, tapi ilmu mimpi butuh semangat juang dan kerja cerdas. (LUKMAN HAMARONG)

 

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.0906 seconds.