Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Dangdut Seronok, Perempuan dan Potret Kemiskinan Pendapat

Suara Komunitas, Irma Bule, penyanyi 29 tahun asal Karawang ini tiba-tiba saja mendunia setelah kematiannya diekspos oleh media internasional. Sebagaimana diketahui Irmayanti (29) atau Irma Bule sejak tiga tahun terakhir selalu bernyanyi dangdut di panggung dengan ular. Berjoget dengan hewan melata seperti ular sudah jadi ciri khasnya, namun tragis, ular juga yang mengakhiri hidupnya.

Beberapa media asing yang mengangkat kisah Irma Bule seperti Telegraph, Hollywood Life, New York Daily News dan Daily Mail. Salah satunya yaitu Telegraph yang menulis judul 'Pop star dies being bitten by cobra during live performance'.

Begitu pula dengan New York Daily News yang menuliskan judul 'Indonesian pop star bitten by cobra on stage, continues singing for 45 minutes before death'. Mereka menulis bahwa Irma bule masih sempat untuk melanjutkan bernyanyi dan menari selama 45 menit, sebelum akhirnya meninggal karena bisa ular cobra.

Made Supriatna, menulis, persaingan menjadi penyanyi dangdut sangat ketat. Terutama bagi perempuan. Para penyanyi berinovasi sebisa mungkin untuk menarik perhatian.

Suara bagus saja tidak cukup. Para penyanyi berinovasi lewat goyangan. Mereka mengeksploitasi sensualitas sebisanya.

Dalam perjalannya, penyayi dangdut utamanya perempuan sering menjadi objek eksploitasi politik. Seperti saat kampanye bahkan dijadikan "obyek sex" politisi Indonesia.

Ceritanya akan sangat berlainan ketika berhadapan dengan kapitalisme industri rekaman. Made melihat kekuasaan yang sangat kuat. Disinilah letak persaingan hidup mati khususnya bagi para pedangdut perempuan.

Irma Bule adalah salah satu contohnya. Dia berusaha keras untuk bisa bertahan dalam dunia pertunjukan ini. Sama seperti pedangdut di kelasnya, dia pun berinovasi. Dia membawa ular ke panggung. Jadilah dia terkenal dengan goyang ular. Sama seperti pedangdut lain yang 'menemukan' goyang ngebor, goyang itik, goyang patah-patah, goyang penguin, atau bahkan goyang uget-uget itu.

Sekalipun tampak glamour, penyanyi dangdut tidak dibayar sedahsyat penampilannya. Irma Bule, misalnya, konon hanya dibayar Rp 350 ribu setiap pentas. Dengan kerja sedemikian keras dia harus menghidupi tiga anak. Belum lagi stigma sebagai perempuan murahan karena dia harus mengeksploitasi tubuhnya dalam setiap pentas. Seorang kawan menjelaskan bahwa Irma membawa ular untuk mencegah agar dia tidak diraba ketika pentas. Saya kira itu ada benarnya.

Irma adalah sebuah potret perempuan Indonesia yang kebetulan berada di lapisan kelas bawah. Dia berjuang habis-habisan. Dia mengeksploitasi apa yang bisa dia eksploitasi untuk bisa bertahan hidup.

Masih mengenai dangdut dan potret kemiskinan,  Budi Setiawan menulis, kemiskinan di Pantura yang jaraknya hanya selemparan batu dari Jakarta, memaksa penduduknya berjuang apa saja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, termasuk kaum perempuannya. Banyak yang menjadi PRT atau TKW. Banyak perempuan Pantura yang nikah muda kemudian menjadi janda hanya untuk mendapat KTP supaya bisa pergi menjadi TKW ke luar negeri.Yang tidak beruntung terperangkap di dunia hitam dan menjadi korban sindikat perdagangan manusia.

Sementara yang mengais rejeki di seni,seperti Irma Bule dan ratusan penyanyi dangdut amatiran lain harus rela berkeliling dari kampung ke kampung sampai dini hari hanya untuk beberapa ratus ribu saja. Mereka merelakan tubuhnya dijamah sambil mengundang dengan kata-kata sensual para lelaki berkantong tebal untuk naik kepanggung agar mau bermurah hati menyelipkan lembaran seribuan dan lima ribuan lecek di dada, lipatan celana atau di rok seksinya.

Mereka tetap bergoyang meski para lelaki mesum itu meraba- raba tubuh dan melecehkan mereka berulang-ulang selama berjam-jam. Yang penting bagi para pendangdut itu mendapatkan sedikit uang tambahan ketika acara bubar sekitar 3 dini hari dan baru bisa pulang menjelang subuh dengan wajah pucat kelelahan. Itulah yang biasa dialami Irma Bule jika saja dia tidak tewas malam itu.

Dikutip dari Merdeka, Sosiolog UIN Syarif Hidayatullah, Musni Umar, mengatakan fenomena dangdut seronok sebagai penyakit masyarakat. Penyakit ini tidak akan dapat hilang selama kemiskinan masih ada.

"Itu bisa menjadi penyakit masyarakat yang tidak mudah dihilangkan. Biasanya terjadi pada masyarakat menengah ke bawah pada umumnya tingkat ekonomi rendah, pendidikan rendah dan tidak punya pekerjaan. Seperti kuli dan pekerja serabutan, PKL termasuk para penganggur menjadi konsumen,"
 

Oleh karena itu, menurut Musni, perlu dukungan semua pihak untuk menanggulangi penyakit dangdut seronok. Salah satunya memberi pembekalan dan penyadaran kepada para pedangdut seronok dan penontonnya.

"Ini fenomena yang penyembuhannya perlu waktu yang panjang. Kemunculan dangdut seronok ini bisa diredam bersamaan dengan kemajuan masyarakat dan tingkat pendidikan tinggi, penghasilan memadai, dan pendidikan. Kalau tidak maka tidak pernah hilang,"

Dangdut seronok dan kemiskinan adalah potret kita. Dibutuhkan dan dieksploitasi ketika penguasa butuh. Menjadi bumbu kampanye untuk mengentaskan kemiskinan, sebuah janji manis yang tak pernah terealisasikan. *** (bono)

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.10154 seconds.