Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Sudah Saatnya UN Dihapuskan? Pendapat

Ujian Nasional (UN) hingga saat ini dianggap sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan di Indonesia. Meski sejak 10 tahun lalu, wacana penghapusan UN dilontarkan, sepertinya acara tahunan ini akan berlangsung hingga tahun-tahun berikutnya.

sumber : Adi Sastra, KompasianaBambang Wisudo, mantan wartawan sekaligus pendiri Sekolah Tanpa Batas menyampaikan kepada Mendiknas, Anies Bawesdan dalam dialog tanggal 15 November 2014 lalu bahwa Bambang Sudibyo setuju untuk menghapuskan UN.

"10 tahun lalu ketemu Mendikbud Bambang Sudibyo. Disetujui agar UN dihapus tapi diveto oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla saat itu. Saya tahu karena saat itu saya masih jadi wartawan," ujar Bambang di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Senayan, Jakarta Selatan.

Menurut Bambang, pelaksanaan UN tidak mendatangkan manfaat bahkan justru menghilangkan keberagaman yang menjadi ciri khas Indonesia. Ibarat menjual pakaian, yang dilihat adalah bagaimana hasil akhir dalam bentuk baju itu laku dijual bukan proses selama pembuatan.

"Padahal kerusakan UN parah dan tidak ada manfaatnya sama sekali. Ukuran hanya nilai padahal proses tidak jujur. Nilai 5,5 dengan 5,7 bedanya apa? Kalau nilai 5 dengan 8 baru kelihatan. Kita ditipu dengan nilai yang tidak signifikan," paparnya.

Dia menjelaskan, yang harusnya distandarisasi bukan nilai tapi pelayanan. Ditambah lagi, acuan yang selama ini digunakan pemerintah untuk pelaksanaan UN adalah sistem testing yang diterapkan di Korea Selatan atau Singapura. (okezone)

Itje Chotidjah dalam laman kompasiana menulis, UN tidak adil bagi anak-anak yang secara geografis dan ekonomi kurang beruntung. Mereka diuji dengan alat uji yang sama dengan anak-anak yang tersaring di sekolah unggulan dengan fasilitas prima. Anak-anak itu rata-rata hanya mendapat kesempatan untuk memperoleh pendidikan di sekolah yang serba terbatas baik sarana prasarana, akses terhadap informasi maupun kualitas dan bahkan kuantitas gurunya.

Beberapa contoh kasat mata sering kita saksikan seperti sekolah yang dua jenjang kelasnya diajar oleh satu orang guru, sekolah dengan atap bocor, papan tulis pecah, atau bahkan jalan akses menuju sekolah yang sulit bagi anak. Ketimpangan sarana prasana yang ada menunjukkan mencoloknya ketimpangan antara sekolah yang beruntung dan tidak. Bagaimana mungkin ujian nasional bisa disebut valid sebagai alat ukur dari hasil proses pembelajaran yang berbagai aspek pendukungnya terlalu berbeda.

UN Bukan Penentu Kelulusan, Kecurangan Tetap Terjadi?

UN tahun ini tidak menjadi penentu kelulusan siswa. Hal itu sesuai kebijakan yang diambil oleh pemerintah pusat melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Penentu kelulusan saat ini diserahkan ke pihak sekolah masing-masing karena ada penilaian lain selain UN.
Anies Bawesdan mengungkapkan bahwa ada atmosfer yang berbeda dalam UN tahun ini, yakni berkurangnya ketegangan siswa, guru maupun orangtua. Sebab UN kali ini tidak lagi menjadi penentu kelulusan.

Meski demikian UN tetaplah penting sebagai ujian berstandar nasional. Ujian untuk mengetahui standar kompetensi lulusan (SKL). Untuk itu, para siswa peserta diimbau untuk tetap bersikap tenang dan jujur dalam menghadapi UN.

"Yang dibicarakan saat ini adalah kejujuran, bukan lagi kelulusan. Tidak ada lagi subsidi jawaban, Ujian itu tidak menghalalkan segala cara. Jadi potensi terjadinya kecurangan kemungkinan jauh. Ujian itu untuk mengetahui sampai sejauh mana capaian yang didapat," ujarnya, Rabu (30/3).
Asdullah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Cirebon menjelaskan tujuan UN kali ini adalah untuk melakukan pemetaan mutu program dan satuan pendidikan, sebagai pertimbangan seleksi masuk jenjang berikutnya dan pembinaan serta pemberian bantuan kepada satuan pendidikan. (fajar online)

Karena alasan itulah (melanjutkan ke perguruan tinggi), UN tahun ini diwarnai dengan kecurangan sejak hari pertama.
Dimulai dari Medan, hari pertama pelaksanaan UN di Medan sudah ditemukan pelanggaran atau kecurangan. Salah satunya terjadi di SMA Negeri 2 Medan, menurut informasi petugas dari Ombudsman mendapati dua siswa yang sedang ujian membuka contekan yang diambil dari dompet. Petugas yang melihat kecurangan itu kemudian lansgung mendatangi siswa yang bersangkutan dan kertas contekan diambil. Setelah dicek ternyata kertas tersebut berisi tulisan yang diduga kunci jawaban UN yang bocor. Petugas lantas mengamankannya dan membawanya ke kantor untuk dilaporkan ke pusat. (medan kita)

Berikutnya di Gowa, Madrasah Aliyah (MA) Sungguminasa, Jalan Sirajuddin Rani, Sungguminasa. Di sekolah yang mengikutkan 255 peserta UN ini, siswa bebas bekerja sama. Bahkan, salah satu peserta mencontek jawaban melalui telepon seluler yang tersimpan dari saku celananya. (kompas)
Di Makasar, dua sekolah swasta, yakni SMA Makassar Raya dan SMA Citra Mulia Makassar, terancam ditutup. Hal ini merupakan buntut dari penangkapan dua orang kepala sekolah, masing-masing Kepala SMA Makassar Raya Fatahuddin (58) dan Kepala SMA Citra Mulia Makassar Mattawang (37), yang membocorkan soal Ujian Nasional 2016. (Tempo)

Pun demikian yang terjadi di Tegal, Jawa Tengah. Kunci jawaban soal ujian nasional (UN) untuk SMA, SMK dan MAdi Kota Tegal, diduga bocor ke tangan sejumlah pelajar sebelum mengerjakan soal-soalnya. Hal itu terungkap setelah Sat Reskrim Polres Tegal Kota menangkap para penjual lembar kunci jawabannya, sekitar pukul 06.30, Rabu (6/4). (suara merdeka)

Sumber dirahasiakanSelain UN tertulis, Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang digadang-gadang sebagai sarana ujian yang menyenangkan dan jujur, tidak lepas dari kecurangan. Metode distribusi soal UN dari server pusat ke server propinsi dan juga adanya bug di server mereka yang menggunakan sistem operasi propietary, menjadikan web UNBK mudah dibobol.

Sumber dirahasiakanhttp://118.98.44.100Permasalahan mati lampu pun masih terjadi meski sudah ada MOU antara Mendikbud, PLN dan Telkom, seperti yang terjadi di Tasikmalaya dan Kupang.

Selain itu, distribusi soal masih terjadi kesalahan, seperti terjadi di MAN 1 Kab. Pekalongan yang membuat siswa panik dan histeris karena kekurangan puluhan lembar soal dan lembar jawab komputer (LJK), Selasa (5/4). Sebanyak 30 siswa yang tidak mendapatkan lembar soal UN mata pelajaran Sosiologi.

Jangan Ragu Hapus UN, Pak Anies

PP no 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan adalah rujukan utama dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Ke delapan standar pendidikan nasional harus dilihat sebagai sistem secara menyeluruh dan saling berkaitan.

Kebijakan dan peraturan yang menyangkut standar kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan harus diwujudkan dengan monitor yang konsisten dari pemerintah. Ketersediaan sarana prasarana minimum harus merata, keadilan pembiayaan serta pengelolaan.

Proses belajar mengajar terstandar dan termonitor. Harus dipastikan guru mampu menyelenggarakan proses belajar mengajar, dari merancang sampai melakukan penilaian. Jika ke delapan standar sudah merata maka mungkin ujian nasional dapat menjadi alat ukur kualitas sekolah atau bahkan pendidikan Indonesia.

Menstandarkan anak didik melalui UN sebelum menyediakan secara nyata layanan pendidikan dengan standar minimum yang merata adalah sebuah ketidakadilan. Tulis Itje Chodidjah dalam kompasiana (8/9/2013).

Adi Sastra dalam Kompasiana, titip pesan kepada Mendikbud, Anies Bawesdan (4/9/2014) lalu.
Kita masih ingat bahwa Anies pernah mengeluarkan pendapat untuk me-moratorium UN untuk sementara. Mengevaluasinya dengan detail dan dipertimbangkan untuk kelanjutannya. Lalu apa dia akan melakukan hal tersebut ketika menjabat nanti. Sedangkan pasti banyak kepentingan “orang-orang” M. Nuh yang masih menjabat. Di sisi lain, penolakan terhadap UN semakin besar dan besar harapan untuk meniadakan UN. Selanjutnya, kita hanya bisa berharap cemas dan mendukung pak Anies jika memang UN perlu untuk dihapuskan. Pak Anies, jangan ragu! *** (Buono)

Tulisan ini juga dapat diunduh dalam bentuk pdf.

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.08936 seconds.