Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Terjadi di Berau, Kasus di Bawah Umur Berpacaran dan dianggap Cabul, dituntut Hukuman 4 tahun Penjara Subsider 3 Bulan dan Denda 60 Juta Rupiah oleh JPU di Pengadilan Negeri Tanjung Redeb. Berita

TANJUNG REDEB SUARA KOMUNITAS GEMA BERSATU: 21 MARET 2016 Terjadi di Kabupaten Berau sidang Anak dibawah umur di pengadilan Negeri Tanjung Redeb. tanggal 21 Maret 2016 dan ini adalah Pledoi (Nota Pembelaan) yang dibacakan langsung oleh "AF". Dipersidangan.

Bismillahirrahma nirrahim Assalamu, alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Wahai Ayahku… Bapak Hakim yang Mulia. Wahai Ibuku… Ibu Jaksa yang Terhormat. Wahai Pengayom Masyarakat, Para Polisi yang menjadi kebanggan.

Di umur ku saat ini,… sungguh aku belum bias berfikir mengapa aku di hadapkan pada cobaan yang sebelumnya tidak terpikirkan, aku harus menempati Rumah yang katanya aman (Rutan), tidur dilantai yang keras, berdinding jeruji besi dan berpintu gerbang besi yang besar dan tebal dan tangan yang harus di borgol setiap diajak keluar dari rutan untuk menghadapi persidangan dengan harapan mendapatkan keadilan. Sudah lebih tiga bulan aku selalu bolak balik berurusan dengan retorika keadilan, tapi aku belum mengerti apa maksud dari ini semua ini. Kalau saja perlakuan kalian selama ini untuk memberiku pelajaran, kenapa pelajaran seperti ini yang harus ku dapatkan? Kenapa tidak membiarkan aku bersekolah seperti anak yang lain? Kenapa harus merampas merampas Hak aku untuk menuntut ilmu agar menjadi lebih berguna bagi Nusa dan Bangsa. Kenapa Kalian Harus merenggut masa depanku, Cita-cita ku yang ingin menjadi Pengusaha Sukses, mejadi Hakim yang Adil, Menjadi Jaksa yang Baik dan Ingin menjadi Polisi yang selalu mengayomi masyarakat……..dimana Merdeka buat aku?

Aku tidak menyangka bahwa perasaan hati dan cintaku kepada pasangan ku yang aku cintai dan yang sayangi dan yang juga mencintai dan menyangiku sama sepertiku, bisa membawaku duduk disini…. Aku juga tidak mengerti , kenapa sikapku yang mengasihi pasanganku yang aku kasihi lebih dari satu tahun dianggap hal yang kurang ajar, Bejat, bahkan adik kelasku yang tidak taumenahu akan arti CABUL, tega mengatakan aku pelaku CABUL? Sedangkan kami berbuat dengan dasar cinta, suka sama suka, berbuat berdua dan tidak sedikitpun aku memaksa kekasihku dan Dia pun tidak pernah Terpaksa. Kalau perbuatan aku yang mengasihi pasanganku dianggap suatu pelanggaran keras, bagaimana dengan pasanganku yang juga mengasihiku? Kenapa dia tidak berada disisiku saat ini? Kenapa sampai saat ini dia masih bias bersekolah, masih bias bercanda tertawa, masih bias pasang status di Facebook, bukankah kami melakukan nya berdua?, Menikmatinya berdua? Apa karna aku laki-laki? Atau karena dia anak seorang APARAT sehingga aku dianggap “Keparat”? atau karena aku lebih tua? Bedanya apa Aku dan Dia?

Terus kemana saja kasus Kemarin? Yang meniduri anak dibawah umur yang pelakunya orang dewasa bahkan orang yang cukupcukup terpandang dan pintar, menjual anak gadis dibawah umur, bahkan yang baru-baru ini anak dibawah umur kedapatan didalam hotel bersama orang dewasa? Bahkan yang masih hangat-hangat nya diberitakan orang dewasa yang ketangkap basah dikamar hotel yang jelas-jelas sudah punya pemikiran : salah dan benar dan memahami arti dosa? Keadilannya dimana sehingga aku bisa dituntut 4 tahun penjara Subsider 3 bulan dan Denda 60 juta? Mana keadilan yang Restoratif/Disversi (Penyelesaian diluar Pengadilan/Hukum) yang selalu kami idam – idam kan dan digembor-gemborkan disetiap pertemuan dan sosialisasi? Belum hilang rasanya turun dari ayunan, baru berhenti nikmatnya disuapin makan, baru turun dari serunya gendongan ayah dan ibu, kini harus berhadapan dengan tuntutan hakim yang begitu berat, yang bukan saja menghancurkan masa depanku, tapi meruntuhkan harapan dan asa kedua orang tuaku. Jangankan selama 4 tahun aku dipenjara, selama menjalani proses demi proses ini saja aku sudah tertekan, melelahkan jiwa ku, menguras pikiranku, mempermalukanku, dapat bully/ejekan dari sesama narapidana lain. Dimana hati nuranimu wahai Ibuku… ibu Jaksa yang terhormat? Aku hanya kembali bersekolah menata masa depanku yang selama ini telah direnggut. Aku hanya ingin kembali pada keluargaku, Ke mamaku yang dulu pernah memberiku “ASI” Menyuapiku ketika makan, Mengayunku ketika aku tidur, Ke “Abahku” yang telah membiayaiku dan menjagaku dengan segenap kekuatannya, Ke “ADIK-ADIK” ku yang masih kecil-kecil, Keteman-teman ku yang selalu aku rindukan membuat hangat hari-hariku dengan candaan dan gurauan. Kalaupun….. Wahai Ayahku Bapak Hakim yang MULIA, tetap ingin menghukum dan memenjarakanku, jadikan itu pilihan terahir jika “ABAH dan MAMA” ku sudah tidak sanggup menjagaku, atau jika aku tetap melakukan hal yang sama berulang-ulang. Wahai Ayahku Bapak Hakim yang Mulia dan Wahai Ibuku….. bapak Hakim yang Terhormat …… Aku bukanlah Penjahat, Pembunuh, Perampok, Koruptor, Gembong dan Pemakai Narkoba Residivis…. Yang harus dihukum berat, aku hanya seorang anak laki-laki normal sama dengan anak yang lainnya, aku juga setia sama satu pasanganku yaitu “M”. Bila aku ditahan, dipenjarakan selama itu apakah kalian yakin itu yang terbaik? Apakah kalian bisa menjaminku bisa lepas dari pengaruh dari narapidana yang lain? Apakah direntang waktu itu kalian yakin tidak aka nada orang lain yang melakukan hal yang sama sepertiku? Apakah kalian yakin pasanganku itu tidak mencari orang lain sepertiku lagi? Kecuali saat ini dia dipenjarakan sama sepertiku aku selama waktu sepertiku….baru keyakinan itu dapat dipatahkan. Pakailah hati Nurani, jangan memaksakan kehendak. Bercerminlah dari pengalaman kasus-kasus yang lalu yang lebih memalukan dari apa yang lakukan saat ini. Pikirkan hal yang terbaik buat anakmu ini, anak bangsa yang ingin menata masa depan meraih impian mengejar cita-cita dan prestasi. Aku tau dan kalian juga pasti tau Allah tidak tidur, pangkat dan Jabatan pasti akan berakhir, mau Surga atau Neraka itu pilihan kalian sendiri didunia yang menentukan. Terima kasih… untuk Ayahku Bapak Hakim yang Mulia, Terima kasih untuk Ibuku… ibu Jaksa yang terhormat. Wassalamu, alaikum Wr. Wb. "AF".

Ini lah Pledoi (nota pembelaan) yang di bacakan oleh "AF" di hadapan Hakim dan Jaksa di Sidang tertutup di Pengadilan Negeri Berau Kalimantan Timur. Pada tanggal 21 Maret 2016. Dan Besok sidang Putusan Kasus Dibawah umur akan di gelar Rabu 23 Maret 2016 di Pengadilan Negeri Tanjung Redeb. (dl)

 

 

 

 

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.08932 seconds.