Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Revitalisasi Kearifan Lokal Menuju Lingkungan yang Demokratis Pendapat

Suarakomunitas - Isu tentang lingkungan menjadi salah satu topik yang tidak pernah selesai dibahas. Hal ini dikarenakan oleh arti penting dari keberadaan lingkungan itu sendiri dengan berbagai macam kompleksitas persoalannya. Secara konseptual, lingkungan dipahami sebagai wadah tempat manusia melakukan aktivitas kehidupannya. Lingkungan yang secara fisik mudah kita lihat seringkali sulit dalam menafsirkan dan memahaminya. Hal inilah yang menyebabkan munculnya beragam persoalan yang dihasilkan oleh afiliasi yang erat antara manusia dan lingkungan.

Jika kita merunut ke belakang, munculnya beragam persoalan lingkungan tidak terlepas dari kekeliruan manusia dalam menggunakan unsur rasionalitas dirinya. Perkembangan ilmu pengetahuan secara tidak langsung berdampak pada perubahan pola pikir dan cara pandang terhadap alam (lingkungan hidup). Unsur-unsur mitologis yang tertanam kuat sebelumnya dalam diri manusia sebagai bentuk perwujudan relasi dengan alam kian terkikis oleh reformasi pengetahuan. Berbagai macam bentuk kearifan lokal seperti upacara pemberian sesajian di mata air, larangan untuk tidak menebang pohon di hutan lindung serta berbagai macam bentuk kearifan lokal lainnya telah digantikan oleh cara pandang yang pragmatis dan terkesan sangat instan.

Dominasi kekuasaan manusia terhadap lingkungan hidup merupakan salah satu contoh penafsiran yang keliru terhadap paham anthroposentrisme. Manusia sebagai pusat segala-galanya dimaksudkan untuk melindungi, memelihara dan menyelamatkan makhluk hidup yang lain termasuk lingkungan dengan menggunakan kekuatan rasionalitasnya. Sebaliknya, paham tentang manusia sebagai pusat segala-galanya tidak dimaksudkan untuk mendominasi dan meningkatkan perilaku keserakahan terhadap alam.

Kompleksitas Persoalan Lingkungan

Lingkungan kita dalam perkembangannya kian terkikis dan cenderung menampilkan wajah yang tak ramah lagi. Proses industrialisasi yang dilakukan secara besar-besaran dan berlangsung hampir di seluruh wilayah Indonesia menjadi hal yang lumrah. Berbagai macam persoalan seperti perluasan hutan untuk kepentingan perusahaan, pertambangan, illegal loging, pembuangan sampah hasil limbah pabrik adalah sederet bentuk nyata dari kapitalisasi terhadap alam. Sungguh tragis menyaksikan lingkungan kita saat ini yang sebagian besarnya sudah dihiasi oleh lubang-lubang raksasa. Tatkala proyeknya sudah selesai, yang tersisa hanyalah lubang-lubang kosong.

Tak sedikit orang yang harus menjadi korban dari kekuatan kapitalisme ini. Masih segar dalam ingatan kita tentang peristiwa kabut asap yang melanda Pulau Kalimantan dan Riau pada tahun 2015 kemarin. Banyak orang yang meninggal dunia karena serangan penyakit ISPA. Hal yang menyedihkan adalah bayi yang baru lahir, yang tidak tahu apa-apa tentang lingkungan. Belum lagi konflik yang sering terjadi antara warga dan pemerintah terkait surat izin penambangan. Rakyat menjadi korban dari kebijakan pemerintah yang terlampau akrab dan menjalin relasi begitu intim dengan para investor.

Revitalisasi Kearifan Lokal

Menyikapi persoalan lingkungan yang kian hari terus bertambah, maka diperlukan upaya revitalisasi kearifan lokal. Menurut Wieoler dalam Baharudin kearifan lokal merupakan perilaku positif manusia dalam berhubungan dengan alam dan lingkungan sekitarnya yang dapat bersumber dari nilai-nilai agama, adat istiadat, petuah nenek moyang atau budaya setempat yang terbangun secara alamiah dalam suatu komunitas masyarakat untuk beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya dan berkembang menjadi suatu kebudayaan di suatu daerah serta berkembang secara turun-temurun (Baharudin, 2012: 6). Konsep ini terkesan sangat konvensional dan terlampau tradisional terutama untuk kepentingan pengelolaan lingkungan.

Pendekatan ini hadir sebagai salah satu bentuk resistensi terhadap dominasi rasionalitas manusia yang berkutat pada rana instan. Memang upaya untuk mengimplementasikan pendekatan ini cukup sulit dikarenakan oleh pengaruh modus demografi yang terus mengalami pertumbuhan setiap tahun. Tetapi substansi dasar dari pendekatan ini adalah lebih kepada menghidupkan kembali kebiasaan-kebiasaan yang pada masa lampau terkait pengelolaan lingkungan hidup. Modernisasi kearifan lokal merupakan kata yang tepat, tetapi tidak menghilangkan sama sekali unsur kebudayaannya. Hal yang banyak terjadi selama ini adalah cara berpikir pragmatis yang melihat alam atau lingkungan sebagai obyek. Pendekatan kearifan lokal justru menentang model pemikiran pragmatis tersebut. Alam atau lingkungan merupakan subyek yang berkedudukan sama dengan manusia. Oleh karena itu, alam harus dijaga. Bagaimana pun, ia (alam) dapat “berbicara” dan bahkan “menangis” tatkala kita terus merobek isi tubuhnya.

Lingkungan yang Demokratis

Konsep tentang lingkungan yang demokratis berawal dari pola pemikiran yang menyatakan bahwa lingkungan merupakan tempat tinggal semua makhluk hidup. Manusia, hewan dan tumbuhan berproses bersama di dalam lingkungan. Dalam konsep lingkungan yang demokratis ini, semuanya memiliki kedudukan yang sama, tanpa ada dikotomi kelompok yang mendominasi dan didominasi. Nilai demokratisnya nampak terlihat dari kedudukan yang sama.

Terlepas dari adanya situasi yang paradoks terhadap konsep lingkungan yang demokratis selama ini, penulis tetap optimis dan berani menggugah cara pandang kita untuk melihatnya secara berbeda. Sebagai sebuah ilustrasi adalah hewan membutuhkan makanan yang dominan didapatnya dari hutan. Hal yang sama juga terjadi pada manusia yang mendapatkan makanan dari hutan. Tetapi cara untuk mendapatkan makanan yang seringkali dijadikan masalah. Manusia seringkali menjadi aktor yang sangat dominan karena dominasi rasionalitas diri serta keegoisan yang berujung pada kerusakan lingkungan. Rusaknya lingkungan dalam hal ini hutan berdampak pada ketiadaan tempat hidup bagi makhluk hidup yang lain.

Oleh karena itu, upaya untuk mewujudkan lingkungan yang demokratis merupakan tanggung jawab kita semua. Mulai dari kalangan akar rumput sampai pada pemerintah selaku pembuat kebijakan. Selain melalui pendekatan revitalisasi kearifan lokal juga melalui upaya penegakan hukum serta penguatan sanksi sosial terhadap para pelaku yang merusak lingkungan. Dengan demikian terciptanya lingkungan yang demokratis akan tercapai dan akan berdampak pada kesejahteraan semua elemen yang ada di dalamnya termasuk manusia itu sendiri.

Epifanius Solanta
Ketua HMPS Sosiologi
Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.08834 seconds.