Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Potensi Tersembunyi di Tapi-Tapi Berita

Indonesia adalah surga sekaligus kisah nyata, bukan isapan jempol belaka atau romantisme dari masa lalu. Ada begitu banyak tempat indah dan berpotensi yang tersembunyi yang masih belum tersentuh. Sayangnya, tempat-tempat itu belum digarap serius sebagai tujuan budidaya atau wisata. Jangankan membuat program budidaya dan wisata yang kreatif, membangun prasarananya saja kerap tidak tersentuh oleh pemerintah.
Dalam beberapa tahun terakhir, bahkan keindahan sejumlah tempat terancam oleh eksploitasi alam yang salah dan serakah. Padahal, dengan pemdudiyaan, daerah bisa mendapatkan penghasilan sekaligus memelihara alam selingkungannya.

Di desa Tapi-tapi,Kec.Marobo.Kab. Muna Sulawesi Tenggara, ironi itu terpampang nyata. Desa itu memiliki laut yang bening dan tenang, serta ikan berwarna-warni yang menyelinap di antara terumbu karang indah. Menjelang senja, matahari menjadi bola merah yang ditelan laut jingga. Namun, di sana juga berlangsung perusakan alam yang kerap didukung para investor dan penampung. Mereka datang hanya pada saat hasil dan stok barang meningkat, bahkan mempersilakan para nelayan mengambil semua jenis hasil laut dari ukuran kecil sampai dengan ukuran besar serta dengan terumbu karang seperti Petugas(jenis teumbu karang, tumbuhan laut tempat menempelnnya. Keinginan pemerintah pusat menjadikannya sebagai daerah ini memiliki sumber daya alam yang banyak justru ditentang oleh para investor,pengusaha dan nelayan desa ini, dikarena kurang sentuhan dan perhatian pemerintah Desa dan pemerintah pusat.

Kepulauan ini memiliki banyak jenis hasil laut dan perikanan terbaik untuk dibudidayakan,dilestarikan kemudian dipasarkan dengan baik, diantaranya Ikan,lobster,Kepiting,Cumi,Gurita,Teripang,Agar-agar(rumput laut),kerang dll. Di Kab.Muna hanya Desa ini yang memiliki hasil laut terbanyak yang dapat ditemui sepanjang waktu serta mata pencaharian nelayan disini tidak bergantung pada musim. Namun, pemerintah daerah seolah-olah tidak berdaya di sana. Pengelola,penampung dan perusahaan tumbuh menjamur, tetapi kontribusi mereka kepada ekonomi daerah tidak ada sama sekali. Ini lagi –lagi karena belum dapat perhatian lebih dari pemerintah setempat. Dengan ribuan “biota dan junis hasil alam bawah laut” itu, pemerintah seharusnya bisa memberikan perhatian atau program budidaya atau wisatawa di desa ini sehingga hasil alam disni dapat di rasakan hingga generasi selanjutnya.
Problem utama dari menurunya hasil laut dan tangkap nelayan di Desa Tapi-tapi.Kec.Marobo Kab. Muna adalah tidak ada kesadaran Masyarakat desa Tapi-tapi dan pemerintah desanya akan potensi yang kita milik, sehingga masih banyak terdapat alat tangkap yang tidak ramah lingkungan seperti BOM IKAN,KATROL DAN TUBA. Pengusaha pusat ataupun daerah masih lebih senang mendapatkan uang dengan cara mengeksploitasi sumber daya alam. Mereka membeli segala jenis hasil laut dengan skala besar dan semua ukuran(size) dengan harga yg sangat rendah, sehingga nelayan semakin terpuruk dengan keadaan.

Kesadaran menjaga alam dan mengembangkan potensi sumber daya laut justru datang dari Mahasiswa meskipun itu dengan cara sosialisasi yang minim dan sulit diterima masyarkat setempat.. Di Tapi-tapi, seorang Mahasiswa harus rela keliling tiap rumah nelayan secara berkala agar mereka tidak memburu ikan dan terumbu karang seperti kerang mutiara,Gibah) dengan besar dan serakah. Ia berupaya menyadarkan masyarakat tentang arti penting keindahan alam dan kekayaan alam di halaman rumah mereka. seorang Mahasiswa ini menyadarkan masyarakat untuk menjaga hutan. Bersama lembaga seperti WWF, masyarakat di daerah wakatobi dan daerah lain mengembangkan wisata laut sungai dan rimba.

Pemerintah harus lebih serius memikirkan program-program untuk membungkus potensi ini agar lebih menarik. Mola.Wakatobi, misalnya, Desa kecil yang penuh bsngungsn beton itu mampu membuat banyak atraksi wisata-investor-pengusaha meski sebagian besar artifisial dan terlihat lebih indah dan besar di iklan-yang mampu menghasilkan beberapa ton hasil laut perharinya. Hampir dua kali lipat dari yang ke Tapi-tapi.Muna. Padahal Desa Tapi-tapi ini telah membantu meningkat perekonomian dan memberikan sumbangsi besar protein baut daerah dan Bangsa ini, dengan penghasilan lautnya puluhan ton perharinya yang ditangkap dan dikelola dan dipasarkan,seperti, ikan kerapu,kakap,sunu,Teri,Kepiting rajungan,Teripang,Lobster, Cumi-cumi,Gurita serta segala hal seafod. Namun hal ini Tapi-tapi tidak terpublikasikan ke publik dikarenakan banyaknya mafia Bisnis di daerah ini dan daerah pusatnya.

Selama ini pemerintah hanya menjual Bau-Bau dan Wakatobi, atau-kalau mau dikatakan agak berpandangan luas sedikit-bergesernya pun paling-paling hanya ke Kendari . Padahal tempat-tempat itu tidak perlu “dijual” lagi dan sebaiknya dibiarkan jalan sendiri. Berapa banyak peminat pengusaha yang tahu. (Versal/Bajo Bangkit)
 

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.08947 seconds.