Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Soal Rokok, Cukup Empat Alasan Saja Sastra

“Seharusnya kita belajar, bagaimana kita harusnya memperlakukan ciptaan Tuhan, karena Tuhan tidak menciptakan sesuatu yang sia-sia di muka bumi ini”.

Alkisah, ada suatu cerita singkat tentang dua orang sahabat, sebut saja namanya Si Edan dengan Si Alim. Keduanya dipertemukan pada suatu hari di halajak ramai, dibahaslah oleh Si Edan soal ke Islaman dan ke Indonesiaan. Semua santri terkagum hingga rokok pun dibahas tanpa diketahui bahwa Si Edan ini perokok. Iapun dengan hambelnya berbicara soal rokok hingga persoalan mudaratnya rokok dibahasnya bahkan iapun mengatakan bahwa rokok itu termasuk haram, santri yang perokok pun tertunduk, Si Edan yang perokok ini tersenyum sambil mengeluarkan semua korek dari saku bajunya, karena ia menggunakan sarum jadi hanya tiga korek Api dan satu bungkus rokok dikeluarkan. Si Alim melirik, dengan terkejuk Si Edan membakar batang rokoknya. Si Alim lalu tertawa terbahak-bahak dan tak meneruskan lagi pembahasannya, ia baru tersadar bahwa ternyata ia lupa kalau Si Edan sahabatnya adalah seorang perokok.

Si Alim :“Oh, maaf, maaf”. Ungkapnya pada Si Edan.

Kalimatnya terasa begitu berat untuk keluar, ketawanya pun hanya cengar-cengir dan sesekali melihat sahabatnya. Bicaralah Si Edan, dengan tersenyum mulailah ia dengan menuturkan alasannya di depan para santri dan Si Alim sahabatnya kenapa ia harus merokok?

Si Edan :“Sebenarnya ada 100 alasan saya merokok”, ungkap Si Edan.Terlihat dengan lirihnya Si Alim tersenyum. Si Edan pun melanjutkan

Si Edan :“Saya itu tidak pernah menganjurkan para santri dan orang-orang untuk merokok, sebelum mereka mengerti dirinya jasmani dan rohani, sebelum mereka mengerti tentang kehidupan ini sebagai metabolisme dan sebelum mereka mengerti tentang sejarah rokok”. kata Edan.Itulah alasan pertamanya, lanjutnya lagi sambil mengisap rokok yang ada ditangannya dengan mengepulkan asap rokoknya dengan begitu nikmat

Si Edan :”Alasan saya kedua, saya tidak pernah gunakan hak saja sebagai orang yang alim, pengusaha, dermawan, politik, apalagi penguasa, tapi saya cuma minta satu hak saja, hak saya untuk merokok, kalau menurut mentri kesehatan apalagi saya sudah tua bahwa merokok itu tidak sehat, saya berani tanding lari maraton dengan usia yang sama yang tidak merokok”, katanya lantang.

Tiba-tiba terdengar suara dari santri berbisik kearah Si Edan

Santri : “Bagaimana dengan anak muda Edan?”, katanya pelan.Dengan wajah yang serius Si Edan yang sudah berumur 50 tahun pun langsung menjawabnya

Si Edan :“Saya berani, ayo kita tanding lari maraton, gini-gini saya masih kuat lari lawan anak muda”, katanya.

Sontak jawaban Si Edan meriukkan suasana. Semua santri pun tertawa, Si Alim yang sedari tadi tak bersuara berusaha untuk menjadi pendengar yang baik dan juga ikut tertawa. Lanjut Si Edan, mulailah santri diam dan menyimak lagi perkataannya

Si Edan :“Alasan saya yang ketiga, saya diwajibkan oleh Allah untuk menemani semua orang-orang yang teraniayah, dan ketika saya keliling dunia saya tidak menemukan satu pun gambar yang menjijikan seperti ini”. Ungkapnya sambil mengacunkan bungkusan rokok yang ada ditangannya.

Lanjutnya lagi

Si Edan :“Kecuali gambar pembungkus rokok seperti di Indonesia, jadi saya menjalankan kewajiban saya sebagai hamba Allah, sehingga orang-orang yang teraniayah ini ada yang menemani”.

Suasana pun makin terdengar oleh riukan para santri

Si Edan :“Alasan saya yang keempat adalah ketika saya berada diluar baik ditempat-tempat diskusi maupun ditempat sebagai pendengar, yang banyak ngasih saya yang praktis itu adalah rokok, dan kalau saya tidak menerimanya itu berarti saya menghalangi berkah seseorang dan saya tidak sopan pada orang yang mencintai saya, dan itu nanti nerakanya pasti luar biasa”. Katanya sambil tertawa.

Tawa santri pun makin terdengar keras, hingga ada yang terbahak-bahak sambil melirik Si Alim yang tersenyum tipis. Lanjut lagi Si Edan mengisap rokoknya dengan membuat gumpalan-gumpalan asap rokok seakan dunia begitu indah.

Si Edan :“Awalnya kan saya bilang ada 100 alasan saya merokok, tapi keempat alasan saya sebenarnya sudah cukup menjelaskan kenapa saya merokok dan sepertinya sudah mewakili dari ke 100 alasan saya, jadi kiranya saya diizinkan untuk mengisap rokok saya, takutnya rokok ini nanti mubasir, dan kasian juga kalian hanya duduk mendengar dan melihat saya merokok, dan saya tidak ingin membebani orang-orang yang sudah terbebani".Tutupnya sambil mengisap lagi rokok yang ada ditangannya.

Cerita tersebut adalah sebuah diskusi yang dilakukan oleh tokoh budayawan yang menurut penulis menarik dituangkan dalam sebuah tulisan, mungkin tidak bermanfaat bagi sebagian pembaca, tapi setidaknya ada gambaran kenapa sebagian orang merokok? Dan alasannya itu harusnya dihargai. Jadi, tidak serta merta lagi menganggap para perokok ini salah, dan yang benar adalah yang tidak merokok. Memang setiap orang itu perlu dihargai, tapi ada baiknya ketika kita juga menghargai orang lain. (Nurlaela).

 

 

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.0904 seconds.