Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Tuan Rumah Pagelaran Pameran Seni Se-Sumatera 2015 ( PPSS) Bengkulu Di Permalukan Berita

Bengkulu, SK - Suara riuh di ruang pameran seni rupa dalam rangka agenda rutin taman budaya Se-Sumatera yang di kemas dengan nama Pagelaran Pameran Seni Se-Sumatera 2015 ( PPSS), yang pada kali ini kegiatan diselenggarakan, di Jl.Pembangunan No 11 Padang Harapan, Taman Budaya Bengkulu. Tuan rumah mendapat kesempatan untuk menghadirkan karya-karya penggiat seni se-sumatra. Disamping itu tuan rumah juga seharusnya menghadirkan karya terbaru sebagai tolak ukur produktif. Seperti seni rupa, musik, tari dan teater.

Tapi pada kenyataannya tuan rumah belum bisa menunjukan karya apik dan sunguhan ke para tamu dari provinsi lain. Ini menunjukan ketimpangan di salah satu pihak apakah kurang koordinasi antara seniman dengan pada pihak taman budaya, apakah sebaliknya tanda tanya besar bagi pengunjung ?

Saat di tanya ke salah satu pengunjung pameran,"Dedy, dari masyarakat kota bengkulu. melihat peristiwa pameran ini dengan harapan Bengkulu ke depannya ketika menggarap pameran yang di kemas secara profesional akan menambah great Bengkulu itu sendiri, seperti dalam sebuah pameran ada diskusi sesama penggiat seni penikmat dan masyarakat, katalog yang berpameran sebagai dokumentasi siperupa, sepertinya pameran ini kekurangan kouta peserta ini terlihat banyak mendominasi karya-karya anak dari hasil lomba. dan juga dilihat dari pengunjungnya sepih, terutama masyarakat umum yang bukan kalangan penggiat seni.

Terus banyak karya lama di tampilkan lagi, terlihat dari tahun pembuatannya. Seperti mengurang fokus pengunjung senirupa, dengan tidak ada adanya pemandu di sebuah pameran. Jadi pameran terkesan ajang selfie di lanjutkan lagi pengunjung tidak ada aturan seperti memegang karya secara leluasa. Kita tahu bahwa karya di buat paraperupa tidak hanya menyita waktu, material dalam lukisan, naah seandainya lukisan itu gores atau cacat yang pastinya panitia harus bertanggung jawab, hal yang sekecil ini kurang di perhatiakan para penyelenggara."Tutup Dedy.

Tak terfokus pada sesi seni rupa ternyata para penggiat Teater di Bengkulu juga sedikit geram setelah di tanya kepada salah satu penggiat teater,"Swen dewa. Mengatakan bahwa sepertinya teater bengkulu terkubur, padahal bengkulu punya beberapa sanggar teater yang sudah merunjuk ke tingkat nasiaonal. Pada saat ini penggiat teater hanya menikmati pertunjukan dari sumatera utara, kita penggiat Teater tidak dapat menunjukan kepada tamu ke Bengkulu.

Saat di konfirmasi ke penggiat teater tidak mendapat koordinasi dari pihak dinas untuk mengapresiasikan atau menampilkan karyanya. Sepertinya di seni Pertunjukan musik tradisi dan tari lebih di unggulkan. Ada apa dengan teater kami juga masyarakat pelaku seni seperti ada batasan dan kotak ruang kekaryaan. Para pelaku kebijakan harus netral sehingga kita bisa memperbaiki citra Bengkulu di bidang seni apapun disiplinnya."Ungkap Swen Dewa.

Acara yang di buka secara resmi oleh Gubernur H. Junaidi Hamsyah pada hari Senin (9/11/ 2015). Acara yang berlangsung selama 3 hari (9-11/2015).

Dengan harapan acara ini akan menambah semangat, motivasi seluruh penggiat seni. terutama penggiat seni.

Masyarakat kritis akan menilai dalam sebuah penyelenggaran kegiatan dengan anggaran APBD Bengkulu akan ada impac positif. Koordinasi penyelenggara dengan penggiat seni taman budaya harus lebih terbuka dari sisi informasi kegiatan. Karena tolak ukur kesenian terletak pada Taman Budaya sebagai rumah para seniman.

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.09134 seconds.