Hari Kebudayaan Sunda di Ronninge, Stockholm
Ronninge, Swedia.
Orang-orang Indonesia di Swedia, khususnya yang tinggal di Swedia, betapapun jauh dari tanah air, tidak meninggalkan identitas keindonesiaan yang multietnik dan berbhinneka. Salah satu aktivitas yang diselenggarakan orang-orang Sunda dan pemerhati kebudayaan Sunda di Stockholm, berupa acara ‘Hari Kebudayaan Sunda’, dilangsungkan Minggu, 9 Mei 2010 di Ronninge, Butkyrka. Gedung tempat penyelenggaraan acara—biasa disebut lokal—bernama Folkets Hus di kawasan pemukiman Ronninge, sekitar 40 menit dari pusat kota Stockholm dengan kereta listrik (pendeltag). Ada dua jenis kereta listrik di Swedia, ialah kereta listrik di atas tanah (pendeltag) dan kereta listrik bawah tanah (tunnelbana), masing-masing memiliki tempat-tempat tujuan, yang kadang-kadang bertemu di stasiun-stasiun kereta besar.
Hari kebudayaan Sunda dihadiri oleh beragam undangan, baik orang Indonesia—WNI maupun WNA—maupun orang-orang Swedia dan negara-negara lainnya, misalnya Belanda, Burma dan China. Staf kedutaan Indonesia di Stockholm juga hadir, bahkan ikut serta sebagai pengisi acara.
Langit agak mendung di luar menjadi mendayu-dayu ke dalam gedung yang berdekor batik di panggung dan iringan kecapi suling memenuhi ruang. Tarian ‘Bajidor Kahot’ ditampilkan dengan sangat apik oleh dua penari tamu pemudi peranakan Indo-Belanda, Asih dan Agustina, setelah acara dibuka—terlambat 10 menit dari jadwal semula pukul 14.00—oleh Anik Sundqvist dan Jorgen Jepsson. Dalam seluruh sessi Asih dan Agustina menarikan dua tarian lagi, ‘Tarian Gaplek’ dan ‘Tarian Kaca-kaca’, diselang-seling tari dan nyanyi lainnya.
Nyanyian lagu-lagu Sunda seperti ‘Bubuy Bulan’, ‘Mojang
Priangan’, ‘Es Lilin’, ‘Euis’ dan ‘ Sorban Palid’ dibawakan oleh penyanyi Ida Widiyanto, kadang bersama-sama Prasto & Benny atau koor bersama vokal group.
Lintas usia tergambar baik pada pengisi acara maupun para undangan yang hadir. Barndansgruppen atau kelompok penari anak-anak sempat mengundang gelak-tawa penonton karena kelucuan penari termuda (balita) lupa gerak atau sambil tersenyum tak merasa salah menari sesuka hatinya saja.
Tari ‘Ronggeng Ganjen’ ditarikan Jessica Olsson, penari peranakan Indo-Swedia yang rancak menarikan tarian Betawi, seusai makan siang prasmanan dinikmati undangan. Menu makan siang terdiri dari nasi putih, ayam panggang, karedok, pepes ikan, sayur asam, kerupuk, dua macam sambal, dan teh atau kopi serta kue-kue jajanan.


Kebudayaan Sunda tentu kurang lengkap jika kesenian wayang golek tidak diikutsertakan. Urban Wahlstedt, warga Swedia yang cinta wayang golek dan memiliki seperangkat wayang golek dan gamelan pengiring pertunjukannya, menyajikan satu fragmen pertunjukan wayang golek dalam tiga bahasa: Bahasa Sunda, Bahasa Indonesia dan Bahasa Svenska saling-selang. Sebagian undangan yang semula asyik mengobrol dengan kolega sendiri, lambat-laun terpana oleh pertunjukan wayang Urban. Meski tak asing dengan seni pertunjukan semacam itu, tetapi seni wayang golek Sunda tentu merupakan pertunjukan yang unik, khususnya bagi sebagian undangan warga asli Swedia. 
Acara ditutup dengan lagu ‘Pileuleuyan’ dengan iringan playback musik angklung. Dan, sebelum meninggalkan ruangan sebagian undangan—dari beragam suku dan bangsa--bergotong-royong memberesi ruangan sehingga gedung ditinggalkan dalam keadaan rapi dan bersih. (AEM)
PS: Tetarian lain selengkapnya dapat dilihat juga di youtube dengan meng-klik link:
http://www.youtube.com/watch?v=wyoHfwTxwO8
- n/a
- Liputan Khusus
- dibaca 3856x
- [1] komentar




Medan (Suara Komunitas.Net)-Anggota DPD RI, DR.H.Rahmat Shah berharap pelaksanaan E-KTP, sebagai salah satu pelaksanaan Undang-undang dapat dilaksanakan dengan baik dan sungguh-sungguh, khususnya ketelitian
Medan (Suara Komunitas.Net)- Anggota DPD RI DR. H. Rahmat Shah menilai pelaksanaan Elektronik-KTP (E-KTP) yang ada hendaknya disempurnakan, baik dari jumlah peralatan maupun kesiapan sumber daya manusia
JAKARTA, Suarakomunitas – Barisan Pemuda Adat Lombok – Sumbawa ( Baralosa) merupakan salah satu tamu special dalam konser Glenn Fredly di Senayan Fx Mall Jakarta pusat pada 



