Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Melestarikan Lingkungan, Melestarikan Kehidupan Analisis

Kebakaran hutan yang melanda Indonesia, khususnya wilayah Sumatera dan Kalimantan, memiliki dampak serius terhadap kelestarian lingkungan. Tak cuma itu, asap akibat kebakaran mengakibatkan banyak kerugian materi; kesehatan warga, aktivitas ekonomi, pelayanan publik pun terganggu. Asap tebal juga memiliki dampak turunan yang tidak bisa disepelekan. Kecelakaan kendaraan di jalanan, misalnya, turut meningkat karena minimnya jarak pandang. Indonesia pun dikecam oleh negara-negara tetangga yang terkena imbas asap kebakaran hutan. Mereka meminta agar pemerintah Indonesia segera menyelesaikan persoalan tersebut agar aktivitas di negara mereka bisa segera pulih.

Kebakaran masif di hutan-hutan di Sumatera dan Kalimantan lebih banyak disebabkan oleh aktivitas perusahaan yang membabat hutan untuk perkebunan skala besar. Bertahun-tahun peristiwa ini berlangsung, namun hampir tidak ada solusi konkret dari pemerintah. Warga pun mungkin sudah lelah menuntut. Para pengusaha itu seakan dibiarkan, padahal apa yang mereka lakukan sudah mengakibatkan kerugian besar, materi maupun imateri. Tetapi, di banyak daerah, warga pun berinisiatif melakukan pelestarian lingkungan dengan cara-cara mereka. Inisiatif-inisiatif semacam ini, meski kecil, menumbuhkan optimisme bahwa dunia kita masih akan berumur panjang.

Kelestarian lingkungan menjadi pondasi bagi keberlanjutan hidup makhluk-makhluk di bumi. Oleh karenanya, seruan untuk menjaga kelestarian lingkungan tak melulu boleh dilakukan oleh para aktivis-aktivis lingkungan, tapi juga menjadi kewajiban bagi seluruh manusia. Jurnalis warga suarakomunitas.net merangkum peristiwa-peristiwa terkait dengan lingkungan dalam rangka mengawal keberlangsungan ekosistem bagi komunitas mereka.

Di Yogyakarta, misalnya, dalam rangka melestarikan alam, warga Desa Semoyo, Patuk, Gunungkidul menggalakkan penanaman pohon kayu di desanya. Kendati motif utamanya adalah pengembangan sektor ekonomi kehutanan, aktivitas tersebut juga secara langsung memiliki efek konservasi. Dengan prinsip “tebang satu, tanam sepuluh”, warga sudah memiliki kesadaran bahwa dengan peremajaan lingkungan mereka akan lestari (suarakomunitas.net, 3 September 2015). Selain program menanam pohon, Desa Semoyo juga memiliki sekumpulan pemuda yang terlibat aktif kegiatan konservasi. Mereka melakukan aksi-aksi proaktif untuk menyelamatkan lingkungan, di antaranya inventarisasi sumber mata air dan penanaman pohon. Menurut kelompok yang menamai diri Ramayana (Remaja Semoyo Migunani) ini, kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan semata karena kepedulian mereka terhaddap lingkungan tempat mereka tinggal (suarakomunitas.net, 7 Agustus 2015)

Di Bengkulu, para pemuda yang tergabung ke dalam Forum Pemuda Peduli Bengkulu (FPPB), sejak setahun terakhir gencar menyuarakan pelestarian Pulau Tikus. Pulau yang menjadi pelindung daratan Bengkulu dari terjangan angin dan ombak ini semakin hari semakin tergerus. Pulau Tikus memiliki luas sekitar 2 hektare, namun seiring waktu, luas pulau tersebut kini hanya tersisa 0,7 hektare. FPPB pun terus mengajak berbagai pihak untuk mengambil tindakan guna menyelamatkan pulau ini. Sembari mengajak, mereka tak lupa melakukan aksi-aksi konkret untuk menyegerakan penyelamatan pulau. Aktivitas yang mereka lakukan di antaranya, transplantasi terumbu karang, penanaman pohon cemara, ketapang dan kelapa, serta aksi bersih sampah (suarakomunitas.net, 2 September 2015).

Di Pekalongan, Jawa Tengah, jurnalis warga juga mengawal pembangunan hutan kota yang digagas Pemerintah Kota setempat. Inisiatif Pemkot Pekalongan untuk menambah dua hutan kota merupakan kabar baik bagi warga Pekalongan. Langkah yang dilakukan Pemkot menjadi angin segar ketika di daerah lain terjadi penyusutan ruang terbuka hijau. Belum lagi pembangunan-pembangunan yang mengabaikan faktor-faktor lingkungan sehingga merusak ekosistem. Keberadaan hutan kota tak hanya untuk kepentingan keindahan kota, karena dengan adanya hutan kota, keasrian dan jaminan kesehatan lingkungan menjadi keniscayaan (suarakomunitas.net, 1 September 2015).

Pada dasarnya, tak ada seorang pun yang ingin lingkungan hidupnya rusak. Namun seringkali, kerusakan-kerusakan yang dibuat tak pernah disadari sebagai bentuk pengrusakan. Maka dari itu, kita atau siapapun wajib menjadi pengingat bagi komunitasnya bahwa masa depan mereka bergantung pada lingkungan mereka. Dan kelestarian lingkungan berada di tangan mereka. Tanpa lingkungan yang sehat, niscaya tak akan ada kehidupan yang sehat pula.[]

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.08885 seconds.