Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Gadis Berkerudung Merah Sastra

“Jangan berkata yang tidak-tidak kepadaku. Jangan perlihatkan tatapan mata yang tak pantas kau tunjukan untukku.” Kata-kata itu terlontar dari gadis itu, Tuhan aku sama sekali tak mengerti dengan semua ini. Apa maksud dari kata tatapan yang tak pantas di tujukan untuknya? Apa yang telah aku lakukan padanya? Sahutku dalam hati. Aku hanya bisa terdiam dan melihatnya berjalan menjauhiku dengan wajah yang berusaha ia tutupi dengan sehelai kerudung merah. Aku tak sempat mengenali wajah gadis itu.

Awalnya tampak seperti kota ramai dan modern. Tapi, ternyata daerah ini juga terdapat pemukiman yang seperti desa kumuh. Kota yang tak pernah tidur, dari keramaian dan aktivitas segerombolan manusia. Dalam perjalanan menuju hotel, aku masih memikirkan kata-kata gadis itu. Apa yang ia sembunyikan? Aku merasa ada yang berbeda darinya entah apa yang sedang ia alami.

Panas terik matahari bersinar. Seakan membakar semangatku, Mencari kehidupan di balik mewahnya sebuah kota. Gadis itu masih menjadi sasaran utamaku. Pagi ini aku begitu bersemangat karena aku mempunyai tujuan yang jelas. Aku kembali ketempat semalam. Satu hal yang langsung terlihat, tempat kutemui gadis itu adalah sekitaran daerah pasar tradisional kota ini. Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Teriakan-teriakan para pedagang disana-sini. Anak kecil yang saling berlarian di tengah-tengah pasar. Suasana yang serupa dengan desaku.
Aku melirik kesana-kemari, berharap gadis semalam muncul di tengah-tengah kerumunan orang. Serasa sedikit bingung untuk mencarinya. Semalam Aku belum sempat melihat wajahnya. Hanya kerudung merah yang ia kenakan masih terekam di memoriku. Akupun tidak tahu tinggi badannya seperti apa. Karena semalam Aku melihatnya duduk merapat di pinggir jalan. Ku gigit bibirku sambil terus memerhatikan orang-orang dan berjalan kemana kakiku melangkah.

“Maaf, maafkan saya, maaf, Aku tidak sengaja sungguh.....Tuan”

“Dasar budak, tidak berguna. Kau tidak pernah bekerja dengan baik. Sini kamu bereskan semuanya, lihat apa ini? Semuanya berantakan.”

Suara itu menarik perhatian hampir semua orang yang berada dipasar. Suara itu berasal dari gang kecil di pinggir pasar. Dengan sigap Aku menuju sumber suara sesekali memerhatikan gedung di sekitarnya. Tidak salah lagi, Aku bertemu wanita itu di gang sempit ini. Kemudian Aku bergabung dengan kerumunan orang yang tengah memerhatikan sumber suara. Aku tak lagi menghiraukan jika harus berdesak-desakkan dengan orang-orang terlebih bau keringat yang menyengat.

“Gadis itu,?” sahutku pelan. Ia masih mengenakan kerudung merah dan baju seperti semalam. Aku sangat yakin dia wanita yang kucari. Airmatanya jatuh di sudut bibirnya. Terdapat luka memar diwajahnya. Gadis yang begitu malang. Bukan kekerasan biasa namun sadis. tapi, Aku tak berusaha menghentikannya “Siapa lelaki yang bertubuh besar dan berwajah seram itu? ia memanggilnya dengan sebutan Tuan, mungkin saja itu adalah majikannya” ucapku membatin.
 

“Apa yang kalian lihat? Bubar,,,,” teriak lelaki itu menggertak. Kerumunan itupun Bubar. Dan suasana pasar kembali normal. Tapi, suara bisik-bisik di sepanjang gang itu masih terdengar. Sebenarnya Aku masih enggan meninggalkan tempat ini. Tapi, lelaki itu masih memasang wajah marah. Tak ada pilihan lain selain memantau gadis itu dari sudut gang sempit ini
 

Sebentar Aku kembali melihat ke gang sempit tadi, tapi wanita itu sudah tidak berada disana. Pada kesempatan kali ini aku gagal mencari tahu tentangnya lebih jauh. Kudongakkan kepalaku keatas melihat gedung-gedung di sepanjang gang, ternyata gedung-gedung tinggi yang menjulang ini adalah rumah-rumah susun. Pemukiman yang sempit. Aku menyusuri gang kecil itu terus berjalan dan melihat suasana disekitar. Hingga gadis itu tampak di jalan.
 

Pertama aku hanya berdiri disini dan keringatku mengucur deras. Kemudian mulai mendekat tapi tetap memerhatikannya dari jauh. wanita itu berjalan menuju jalan setapak. Sempat kulihat ia bertingkah aneh agar aku tidak terus mengamatinya. Ia mulai sadar dengan kehadiranku. Hari ini aku sudah mengenali wajahnya.
 

Hidungnya mancung, matanya bulat, bulumatanya lentik, bibirnya tipis. Aku tidak melihat Rambutnya. Karena ia menutupinya dengan kerudung. Wanita cantik yang bernasib malang. Wajah cantiknya masih sangat jelas terlihat meski ditutupi dengan sedikit luka memar di ujung bibirnya.
 

“Heii,,,” teriakku sambil berlari-lari kecil mendekati gadis tadi. ia sedang berjalan sangat cepat dan terlihat tergesah-gesah. Ia tidak menghiraukan teriakanku. Ia tetap berjalan menunduk kebawah.
 

“Heeiii Tunggu,,” kataku semakin dekat.
 

Ia berhenti dan berbalik. Kupercepat ayunan kakiku, ia mengenakan baju yang panjang melebihi tinggi tubuhnya. Hingga ujung baju yang melekat ditubuhnya terseret sepanjang jalan setapak.
 

“Perkenalkan Aku Afif Setiawan. Panggil saja Afif. Aku baru tiba dikota ini semalam. Kau masih ingat denganku? Kita sempat bertemu di gang kecil itu.” kataku mengulurkan tangan bermaksud berkenalan. Nafasku terengah-engah kala mengatakan hal tersebut. Ia hanya diam dan tidak mengulurkan tangannya melainkan menunduk dan kembali berjalan. Beberapa langkah ia berjalan aku kembali mendekatinya.
 

“Heii,, kenapa? Ada yang salah denganku? Aku.. Aku hanya ingin berteman. Itu saja,” Aku berjalan disampingnya mengikuti jarak langkahnya yang cepat. ia masih diam. Hingga kakinya berhenti bergerak.
 

“aku tidak butuh teman. Jangan mengikutiku terus” jawabnya singkat dan kembali mengayunkan kakinya. Kali ini aku harus sedikit bersabar. Dan berhati-hati untuk bertindak. Untuk mengenalnya aku harus jauh lebih halus lagi. Mungkin cara ini terlalu mengagetkannya. Akhirnya untuk penelusuranku hari ini cukup, aku juga sudah lelah dan haus. Jarak dari pasar dengan hotel yang kutempati menginap lumayan jauh. Sebelum kembali kehotel aku singgah di Rumah kontrakan yang berada di gang kecil. Tempatku bertemu dengan wanita itu semalam.
 

Disini sangat ramai dengan suara teriakan anak kecil yang tengah bermain. Ada seorang Wanita gemuk tengah sibuk menjemur pakaiannya di teras rumah.
 

“Selamat Pagi Bu`,,,” kataku canggung berdiri di depan pagar teras rumahnya.
 

“Ia pagi, cari siapa Nak?” ia meletakkan baju yang berada di genggamannya ke tumpukan baju-baju lain yang masih berada di keranjang cucian.
 

“Maaf mengganggu nih Bu`, aku ingin berbincang-bincang sebentar dengan Ibu hanya pembicaraan singkat.” Kataku masih canggung.

“tidak apa-apa, ia boleh, masuk Nak.” Ibu itu menggeser pagarnya kesamping memberi sedikit ruang kepadaku untuk masuk kedalam pekarangan rumahnya.

“sebentar yah, Aku lanjutkan dulu menjemur pakaian-pakaian ini.”
sahutnya melanjutkan pekerjaannya yang sempat terhenti.

Selama ia bekerja, aku hanya diam menunggunya. Hal ini juga memberi sedikit kesempatan untukku beristirahat sejenak karena baru saja berlari mengikuti gadis tadi. Wanita itu berjalan masuk kedalam rumahnya setelah baju-bajunya habis terjemur. Sesekali aku melirik masuk kedalam rumah. Tidak ada seorangpun yang kulihat. Hanya kursi sofa hijau dan hiasan dinding yang menempel. ruang tamunya sangat sederhana. Rumah yang mungil.

Beberapa menit ia keluar dengan membawa secangkir teh di atas sebuah nampan. Kebetulan sekali saat ini aku sangat kehausan. Aku merasa seperti seorang musafir yang singga dirumah seseorang tak kukenal.

“Ini diminum tehnya, mau berbincang masalah apa Nak? Apa kamu seorang wartawan?” tanyanya memerhatikanku dari ujung kaki hingga ujung rambut. Tidak salah jika beliau berkata seperti itu. biasanya hanya wartawan yang bersikap seperti ini. Tapi, bedanya aku tidak membawa camera.

“bukan Bu`, aku hanya ingin bertanya, apakah masih ada satu rumah yang kosong di antara rumah Kontrakan yang ada disamping?” tanyaku singkat lalu meneguk teh hangat sedikit demi sedikit. Teh itu sama sekali tidak menghilangkan dahagaku.

“ohh itu, jangan khawatir diatas masih banyak yang kosong. Kebetulan jika ada yang ingin mengontrak bisa mendaftar di ibu.”

“baguslah kalau seperti itu Bu`, sekarang aku akan menyelesaikan keperluanku di hotel, aku pamit Bu`” kataku sambil berjalan kegirangan. Selain menghemat biaya menginap, aku juga bisa lebih leluasa memperhatikan gadis tadi lebih dekat dan lebih sering lagi. Aku ingin mengetahui apa yang tengah dialaminya. Aku tak ingin membuatnya merasa di intai, dimata-matai atau semacamnya. Mungkin sulit untuk membuktikan secara pasti jika ia di aniaya.

Setelah membereskan semuanya. termasuk masalah biaya kontrakan. aku kembali ke gang itu, dan bertemu dengan Ibu yang tadi. Ia menemaniku naik hingga lantai ke dua. Cukup tinggi. Masih ada satu lantai lagi yang berada diatas kami. “Ini kuncinya,” sahutnya singkat lalu pergi. kuletakkan Koperku di samping dan mulai membuka pintu. Setelah memutar kunci, kubuka pintu itu perlahan. Rumah yang kecil. Warna temboknya sudah memudar. Setelah kusimpan koperku di samping ranjang. Ku ambrukkan tubuhku dan mulai memejamkan mata lalu tidur sejenak.

Angin bertiup kencang disertai percikan air yang ditimbulkan oleh bergeloranya gelombang dilautan. Setelah berkeliling sekitar daerah rumah kontrakan, ternyata di belakangnya terdapat pantai yang indah. Aku berjalan menyusuri pantai, malam ini aku ditemani dengan bintang-bintang yang begitu banyak dan bulan yang berbentuk sabit. Di sudut pantai terdapat sebuah rumah yang beratapkan jerami dan berdinding kayu tripleks yang sudah berlubang. Kembali kudapatkan hal yang ganjil. Kota modern masih ada juga yang berhunikan rumah jerami.

Aku mendekati Rumah gubuk itu, belum terlalu dekat aku sudah mendengar teriakan seorang lelaki dari dalam rumah.
 

“Anak tidak berguna, apa yang bisa kau lakukan untuk Ayah? Bahkan menjadi wanita penghibur di rumah Tuan Takurpun kamu tidak bisa. Ahahaha,, Aku Ayah yang malang. Mana minumannya sini,,,” suara laki-laki itu sangat jelas terdengar.
 

“Ayah, Sadar. Aku ini anakmu, aku sudah berusaha tapi, untuk hal ini aku tidak bisa. Cukup, Ayah sudah minum terlalu banyak.” Kemudian suara wanita tengah bercakap dengannya
 

Aku semakin tertantang untuk mengetahui apa yang sedang terjadi didalam sana. Aku menyelinap lebih mendekat lagi kerumah gubuk itu, aku berdiri tepat dibelakang. Ada banyak lubang kecil disela-sela tripleks yang berlubang. Kuintip apa yang ada didalam sana. Mataku terbuka lebar, lubang telingakupun terasa lebih luas untuk mendengar percakapan yang tengah terjadi.

Wanita itu, hati saya berdegup seperti drum kala mengetahui hal itu. tanpa bersusah payah akhirnya aku menemukan rumah gadis itu. ia duduk merapat kelantai. Luka memarnya masih jelas terlihat. Airmatanya membasahi wajahnya. Ada yang berbeda darinya ia tidak mengenakan kerudung. Ia terlihat lebih anggun saat mengenakannya. Dan iapun masih mengenakan baju yang sama seperti terakhir aku bertemu dengannya.

Ia memegang sebuah botol yang berisikan minuman keras, lelaki di hadapannya berbaring dilantai dengan gaya tengkurap. Kaki jenjangnya lurus. Dan ia mengomel tiada jelas. Sampai matanya terpejam. Kuatur jarak nafasku. Dan tetap mengintip. Wanita itu kemudian berdiri menyimpan botol miras Ayahnya di atas meja dan mendekati Ayahnya. Sebentar ia diam menatap Ayahnya. Ia masih saja dengan tangisannya. Lalu ia membalikkan tubuh Ayahnya hingga terlentang.

Ia masuk kesuatu ruangan yang dibatasi dengan sebuah Horden biru. Beberapa Waktu ia kembali keluar membawa selimut untuk Ayahnya. Gadis yang baik. Hanya ada satu hal didalam pikiranku. Membantunya. Sekarang aku sedikit tahu permasalahannya. Pertama, ia disuruh oleh Ayah kandungnya sendiri untuk menjadi wanita penghibur dirumah tuan Takur. Bukan tidak mungkin, Tuan Takur yang dimaksudnya adalah lelaki yang tadi menyiksanya menimbulkan luka diwajahnya. Persoalan kedua Ayahnya adalah seorang pemabuk. Dan yang menjadi pertanyaan? Alasan Ayahnya hingga tega menyuruh anaknya berbuat seperti itu!

Aku mulai menjauh dari gubuk itu, dan duduk di atas batu besar di pesisir pantai. Aku masih enggan pulang kerumah. Bayang-bayang kesedihan gadis tadi masih terbayang di benakku. Suara deras ombak seakan bernyanyi menghiburku. Samar-samar aku seperti mendengar suara tangisan meringis di daerah pantai. Tepatnya suara wanita. Suara itu berasal dari arah selatan. Aku kembali berdiri dan mendekati rumah tadi. Aku yakin suara itu berasal dari rumah itu.

“hai, selamat malam” kataku lembut dan duduk disampingnya.

“kau, apa yang sedang kamu lakukan disini?” ia menghentikan tangisnya dan mengusap airmatanya.

“tolong, jangan usir saya nona, kebetulan tadi saya sedang bersantai di sekitar pantai ini, tidak sengaja aku melihatmu.

Bisakah kita berteman? Tenang aku tidak akan menyakitimu. Dikota ini aku sama sekali tidak mempunyai seorang teman.” Kataku lembut menatapnya sendu.

Ia tersenyum, wajahnya begitu manis seperti itu. seakan ia memberikan lampu hijau untukku. “nama kamu siapa? Dan apa aktivitasmu saat ini? Kerja, atau kuliah?” kataku membangkitkan suasana.
 

“Naurah, aku tidak sedang melakukan apapun dari dua hal yang kau sebutkan tadi.” Jawabnya singkat.
 

“lalu, apa aktivitasmu?” kataku mulai mencari tahu,
 

“Aku hidup untuk bahagia, meraih impianku di masa depan, mencapai puncak di sisa umurku. Menjadi seseorang yang kuat, tetap konsisten dalam menjalani hari-hariku. Menjadi pendengar yang baik bagi orang-orang. Kadang menangis dalam diam, menjerit, merintih dalam hati. dan tersenyum meski kesakitan.” katanya menatap kearah lautan.
 

“aku sama sekali tak mengerti alur pembicaraanmu.” Ucapku berpura-pura tidak tahu tentang kesedihan hidup yang tengah dihadapinya.
 

“Sekarang Aku harus mengubur semua impianku. Dan tidak menangis dalam diam lagi. Melainkan menangis sekeras-kerasnya bahkan manangis meronta, aku muak dengan semua ini. Aku lelah.” katanya kembali meneteskan airmata.
 

Naurah mulai berbicara tentang kehidupannya. Ia tertekan dengan hidup yang ia alami. Aku masih enggan bertanya terlalu jauh. Malam ini aku berusaha menjadi pendengar yang baik untuknya. Bukan tidak mungkin, aku adalah teman pertama tempatnya menumpahkan perasaannya. Karena aku merasa selain tersiksa ia juga kesepian tentang seorang teman.
 

Desau angin terus terasa, aku dan dia terus berbincang. Hingga kami merasa sudah berteman dari dulu. Kami duduk berjarak. Ia wanita muslimah yang baik. Aku juga bercerita tentang pengalamanku. Mulai dari hal yang aneh, lucu dan menyedihkan. Bagiku malam ini ia satu-satunya bintang paling dekat denganku. Cahayanya menembus dan masuk menerangi ruang hatiku.
 

“jujur Aku sangat bangga denganmu. Kau wanita yang kuat. Kenapa kamu tidak berusaha kabur dari Tuanmu itu? dan pergi dari rumah. Bertahanlah, tetap kuatkan dirimu. Apa tujuan Ayahmu berbuat demikian denganmu? Wanita penghib....” Ouuupss Aku keceplosan. Wajahku mulai memerah. Kali ini aku salah bicara. Sampai detik ini ia belum menceritakan tentang Tuan dan Ayahnya termasuk masalah Wanita penghibur.
 

“siapa kau sebenarnya? Apakah kau Petugas yang hanya menyandang gelar baik? Tiba-tiba kau datang Kau paksa aku untuk menahan luka ini sedangkan kau sendiri telah lupa akan gaduhnya jerit. Akan busuknya derita, akan hitamnya tangis. dan kentalnya nana.” Ia berdiri dan tak ingin lagi mendengar penjelasanku.
 

Tiadah pilihan lain selain membiarkannya berlalu. Bodoh, sekarang aku merasa sangat bodoh. Hal seperti ini saja tidak dapat kuselesaikan dengan baik. Sekarang saya sudah kehilangan kesempatan. Baru saja aku dekat dengannya. Benar-benar bodoh. Sepanjang jalan menuju rumah kontrakan. Aku selalu mengulang kata-kata terakhirnya tentang petugas yang menyandang gelar baik. “PETUGAS”

Malam ketiga Aku dikota ini. Aku berjalan melewati gang kecil dan rumah tempat Naurah pertama kali kutemui. Tiba-tiba aku berhenti berjalan saat mendengar jeritan dari sana. Aku berbalik dan menjongkok dibalik tong sampah. Sedikit bau, namun aku tak menghiraukannya.

“Cukup Tuan, tidak. Aku tidak ingin. Maaf tuan, jangan. Hentikan.” Aku hanya mendengar kata-kata itu. dan melihat Naurah keluar dari rumah Tuan Takur. Ia tak mengangkat kaki saat berjalan. Tetapi ia menyeret kakinya. Aku menarik tangannya dari samping dan membantunya berjalan melewati sela-sela rumah yang gelap dan sempit. Tidak ada cara lain untuk membantunya menjauh dari rumah itu.

“jangan takut, saya ini Afif, aku datang untuk menolongmu.” Ia terdiam dan mengikutiku. Ini adalah momen yang menakutkan. Saat berjalan menuju rumah. Kami lewat dari belakang. Kami mendengar suara sentakan kaki berat. Dan barang-barang yang dilempar tak beraturan. Kami mengintip dari celah dinding. dua lelaki tengah mencari Naurah. Di ujung Rumah Ayah Naurah diikat dengan melilitkan tali di tubuhnya bersambung dengan tiang rumah. Benar-benar kejam.
 

Kali ini ia pulang dengan cedera di kaki dan lutunya. Melihat peristiwa itu kami memutuskan bersembunyi dibalik batu besar di sudut pantai. Wanita yang kuat, Aku dapat melihat dari lekuk bibirnya saat memulai pembicaraan. Hampir bisa kugambarkan wajah anggunnya. Saat ia berlari menyeret kakinya. Entah apa yang baru saja terjadi padanya. Ia sama sekali mengabaikan lukanya. Hal ini tidak bisa dipecahkan jika hanya memandanginya.
 

Semua orang mengabaikannya, melihat ia di siksa bukan hanya ketersiksaan fisik, namun juga batinnya. Saat kau berkata ini hal yang sederhana, menurutku ini sulit, bahkan sangat sulit untuk membuktikannya secara pasti. Tapi, aku yakin bisa menemukannya cepat atau lambat.
 

Baru saja, dua orang lelaki mencarinya secara membabi buta? Tak ada angin tak ada hujan, mereka hadir dengan kemarahan yang sangat jelas terlihat dari sikap dan perilakunya. Aku membantunya membersihkan lukanya. Dan akan kutemani ia sepanjang malam. Ia mulai bercerita. Tentang Tuan Takur, dan Ayahnya yang mengorbankan dirinya untuk menjadi budak. Awalnya budak namun, Tuan Takur meminta lebih. Ayahnyapun mengabulkan permintaannya Demi menebus hutang judinya yang menumpuk. Ia sudah memaafkanku. Sepertinya ia lupa dengan akhir pertemuanku dengannya semalam.
 

“kelaparan dan kematian sudah didepan mata. Saat fajar datang. Aku yakin saat itulah Tuan Takur dan beberapa anak buahnya akan meratakan rumahku dengan tanah.”
 

“jangan berkata seperti itu. teruslah melangkah dalam kehidupan ini. Dunia ini masih akan terus berputar. Jangan menangis. Berhenti. Airmatamu akan menetes sia-sia tak berguna. Aku yakin selama ini kau hanya bisa berontak dalam hati.” kataku menguatkannya. “Dan kamu hanya perlu kabur jika saatnya tiba.”
 

Setelah beristirahat hampir setengah jam. Kami mengintip kearah Rumah Naurah. Sudah tampak sunyi lengang, kami berjalan menunduk hingga berhasil masuk kedalam rumah. Ayah Naurah masih terikat ditiang. Wajahnya menunduk. Telapak tangannya terbuka. Kami mendekatinya dan membuka ikatannya. Kami berusaha membangunkannya dengan nada berbisik. Tampaknya Ayahnya tertidur pulas.
 

“Malam ini kamu mengiap dirumah kontrakanku saja. Tenang aku tidak akan berbuat apa-apa. Aku tulus membantumu. Disana lebih aman. Biarkan ayahmu disini. Jangan khawatir tidak akan terjadi apa-apa dengannya.”
 

“tapi...” sahutnya melemah.
 

“percaya padaku.” Kataku tegas. Akhirnya ia mengikuti saranku. Kamipun mulai meninggalkan rumah. Kami kembali berjalan menuduk. Mengingat rumah kontrakan dengan Rumah Tuan Takur sangat dekat. Kami masuk lewat pintu belakang. Dan mulai naik kelantai dua. Aku mempersilahkannya masuk dan menyuruhnya beristirahat. Ia pun langsung masuk kekamar. Masih ada kesempatan untuk melaporkan semua ini kepolisi, atas kasus penganiayaan. Tuan Takur belum menyadari keterlibatan akan diriku. Jadi aku bebas berbuat apa saja di hadapannya.
 

Setelah melaporkan masalah ini ke kantor polisi. Hatiku mulai tenang. Besok, aku bisa pulang dengan perasaan tenang. Aku kembali masuk kedalam rumah dan merebahkan tubuhku diatas Sofa. “Afif, bangun. Lihat dibawah Tuan Takur di sergap oleh beberapa Polisi.” Aku bangun dengan tergesa. Mendengar Naurah menyebut nama Tuan Takur dan Polisi. Tanpa terlebih dahulu membasuh wajah. Aku langsung mengintip kearah jendela. Begitu ramai. Tuan Takur dan polisi dikerumuni oleh segerombolan Warga. Dari ujung jalan juga terlihat Ayah Naurah di pegang oleh seorang polisi.
 

Naurah menangis sejadi-jadinya. Saat melihat Ayahnya. Namun ia sadar inilah kenyataan yang harus dijalani sang Ayah. “Terimakasih atas semuanya. sungguh Afif. Kau adalah teman terbaikku. Nanti kita berbincang lagi. Aku ingin menyusul Ayahku.” Aku belum sempat mengucapkan selamat tinggal kepadanya ia sudah terburu-buru pergi. padahal jam 8 pagi aku sudah harus berangkat.
 

Sampai detik ini Naurah belum juga datang. Semuanya telah kupersiapkan mulai dari penampilanku. Dan baju-baju yang telah kurapikan didalam Koperku. Aku tidak bisa menunggunya. Keberangkatan pesawat tidak dapat ditunda. Aku hanya menuliskan pesan singkat disepucuk surat dan kutitipkan kepada Ibu yang berada disamping rumah kontrakan.

Dear Naurah,

Pengalaman hidupmu adalah pelajaran terpenting untukku. Agar aku dapat mengerti sisi lain dari kehidupan ini. Selamat tinggal. Maaf aku tidak sempat mengucapkan hal ini secara langsung. Semogah kau terus berbahagia di masa depan. Gapai mimpimu sahabatku. Hidup itu membutuhkan pengorbanan yang sangat tinggi. Dan merebut kebahagiaan itu tekadang akan menumpahkan darah. See you next time 
AFIF SETIAWAN

--Sekian--

(Cerpen di atas hanyalah sebuah tulisan dari seorang perempuan yang hanya menuangkan khayalannya tanpa bermaksud menyindir siapa pun. Dan semoga cerita tersebut bisa memberikan manfaat bagi para pembaca)
(Nurvianti/Nurlaela)

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.45729 seconds.