Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Prospek Pasar Kombuik, Kerajinan Anyaman Jorong Taratak Meningkat Berita

Limapuluh Kota (Suara Komunitas) - Setiap produk kerajinan memiliki corak dan keragaman yang berbeda dengan keunikan tersendiri, demikian juga dengan kombuik. Kombuik ialah salah satu dari sekian banyak produk karajinan tradisional yang berasal dari Sumatera Barat, yang merupakan hasil kerajinan anyaman masyarakat di Jorong Taratak, Nagari Kubang, Kecamatan Guguak. Hampir semua masyarakat perempuan bisa menganyam helaian mensiang menjadi kombuik dengan berbagai macam ragam bentuk. Proses pembuatannya dibilangnya sederhana. Hanya lebih membutuhkan ketelitian dan kesabaran, karena hasil kerajinan kombuik ini murni hasil dari tangan penganyam tanpa bantuan mesin.

Mensiang (scirpus grossus) ialah bahan baku kombuik yang dibudidayakan oleh masyarakat. Cara pembudidayaannya sederhana, hanya diperlukan lahan khusus yang selalu tetap berair dengan luas sesuai kebutuhan. Mensiang berkembang biak dengan tunas. Lahan yang telah selesai diolah dilakukan penanaman. Mulai dari penanaman sampai panen pertama membutuhkan waktu sekitar delapan bulan. Setelah itu secara teratur dilakukan pemanenan/pemotongan sekali dalam tiga bulan dan dapat dilakukan pemanenan hingga 12-15 kali. Jika dilakukan perawatan dan pemeliharaan yang intensif pemanenan bisa mencapai 20 kali. Tanda-tanda jika mensiang harus dibongkar/tanam ulang ialah pertumbuhan mensiang sudah tidak maksimal dan helaian mensiang sudah halus. Mensiang yang telah dipanen dilakukan pengolahan seperti pengeringan, pewarnaan. Setelah itu dilanjutkan dengan penganyaman. Adapun hasil anyaman berupa kombuik kotak, kombuik tas, dompet, kombuik bulek dan lain lain. Pada kombuik juga bisa dicantumkan nama yang dianyaman sesuai permintaan konsumen.

Adapun perubahan yang sangat signifikan akhir-akhir ini adalah permintaan semakin meningkat walaupun disaat tertentu saja, terutama dari luar daerah dan luar negeri seperti Malaysia. Kebanyakan pemesan mendapat informasi kombuik dari perantau minang yang tersebar diberbagai daerah, yang diperkenalkannya lewat oleh-oleh dari kampung. Ada juga yang mendapatkan informasi kombuik dari media sosial.

"Belakangan ini permintaan dari luar daerah tinggi, tapi pada waktu tertentu saja,"Jelas Sri Rahayu salah seorang pengrajin kombuik. "sebenarnya peminat kombuik banyak cuma informasi yang didapat secara tiba tiba, sehingga bahan tidak tersedia," Tambah Pengrajin lain yang malu disebutkan namanya.

Benny, perantau asal Taratak, Nagari Kubang di Jakarta berpendapat, hal itu disebabkan belum terorganisirnya kepengurusan pengrajin kombuik. Perlu dibentuk kepengurusan yang bertujuan melancarkan usaha kerajinan daerah ini, dengan cara adanya kerjasama antara perantau dengan pengrajin di daerah. (Rahmad.S)

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.09643 seconds.