Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Penguatan Ekonomi Perajin Tenun Melalui Pelatihan Berita

Tenun telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam tradisi masyarakat Sumba, Nusa Tenggara Timur. Tradisi warisan leluhur ini masih lestari dalam keseharian warga di sana. Hingga saat ini, kain tenun masih banyak dipakai baik oleh laki-laki maupun perempuan.
Tenun, kain tradisional kas Sumba, NTT ini masih tetap lestari hingga kini.
Menjadi kain khas Pulau Sumba yang telah dikenal dunia, tak menjadikan usaha kerajinan tenun ini jauh dari tantangan. Justru, tantangan yang dihadapi sangatlah beragam. Selain peran dan fungsi dari struktur organisasi yang belum optimal, tantangan lainnya adalah belum terbangunnya ruang belajar untuk eksplorasi ide serta gagasan terkait desain kreatif motif tenun komunitas. Akses informasi dan mekanisme pola pemasaran untuk menjangkau pasar di luar wilayah Kecamatan Kodi juga masih belum maksimal. Padahal, perluasan pemasaran membutuhkan pengetahuan dan informasi perajin sebagai pelaku usaha. Lagi-lagi, kebutuhan tersebut masih menjadi tantangan tersendiri bagi komunitas-komunitas perajin tenun di sana.

Menjembatani tantangan dan kebutuhan komunitas di atas, Combine Resource Institution berkolaborasi dengan Yayasan Sosial Donders mengadakan pelatihan Manajemen Organisasi, Strategi Pemasaran Produk Komunitas dan Pengenalan Media Komunitas untuk Penguatan Ekonomi Mikro, (25-26/6/2015). Bertempat di Uma Pege atau Rumah Pintar di Desa Kandahu Tana, Kecamatan Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT, pelatihan ini diikuti 18 peserta dari dua komunitas perajin tenun, yakni Ice Ndaha dari Desa Kandahu Tana dan Kalena Rongo dan komunitas tenun Kandaba Mopir dari Desa Homba Karipit. Mayoritas peserta pelatihan adalah perempuan, karena memang perempuan banyak terlibat dalam produksi kerajinan kain tenun untuk menunjang ekonomi keluarganya.

Pelatihan manajemen organisasi, pemasaran, dan pengenalan media komunitas untuk penguatan ekonomi perajin tenun di Uma Pege, Desa Kandahu Tana, Kecamatan Kodi Utara, NTT, (25-26/6).Untuk menjawab tantangan yang sedang dihadapi komunitas, peserta dalam pelatihan ini pun diajak merumuskan kembali tujuan komunitas, mengidentifikasi masalah dan mencari solusi atas masalah-masalah tersebut. Pelatihan tersebut menghasilkan kesepakatan peserta untuk meningkatkan peran dan fungsi komunitas serta pengelolaan keuangan komunitas.

“Kami sadar, kekompakan memang hal yang masih sulit kami lakukan. Namun, kami sepakat bahwa agar kelompok tidak bubar, kami harus kompak dan jujur terutama soal anggaran keuangan,” aku Amel, (25/6).

Tak sekedar membahas manajemen organisasi, pelatihan ini juga mengajak peserta untuk mengeksplorasi kreativitas dari potensi lokal sebagai salah satu strategi pemasaran produk komunitas. Para peserta menyadari, eksplorasi itu dapat memberi nilai tambah pada hasil tenunan mereka, baik terkait pemilihan warna, motif dan detail tenun, maupun pemilihan bahan bakunya. Pengayaan motif tenun salah satunya bisa dilakukan dengan menggali simbol-simbol religi Marapu serta cerita lisan (folklore) tentang kearifan lokal Kodi. Mereka pun sepakat untuk mengoptimalkan peran kelompok sebagai ruang belajar untuk meningkatkan kreasi dan keterampilan anggotanya melalui forum bulanan.

“Tenun akan semakin menarik kalau kita bisa berkreasi dengan motif dan warna. Selama ini, produk kami memang masih belum mampu menampung cerita-cerita lokal di Kodi. Kami harap, pertemuan ini bisa menjadi ruang belajar bagi kami untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan,” ungkap Kristina, salah satu peserta dari kelompok tenun Ice Ndaha, (26/6).

Motif tenun yang kaya tentunya akan menunjang ketertarikan pasar yang lebih luas. Pemanfaatan jaringan dan media sebagai bagian dari promosi sangat penting untuk meluaskan pemasaran. Memimpin diskusi dalam pelatihan tersebut, Andrew Dananjaya dari CRI menjelaskan, komunitas bisa memaksimalkan sinergi kerja pemasaran dengan memanfaatkan jaringan media online.

“Jaringan dan media online bisa menjadi bagian promosi lintas batas untuk meningkatkan peluang penjualan produk tenun para perajin. Sinergi kerja pemasaran bisa dimaksimalkan dengan memanfaatkan jaringan media online semisal facebook atau instagram,” jelas Andrew Dananjaya, (26/6).

Selain mengenalkan jaringan media online, dalam pelatihan ini, peserta juga dikenalkan pada ragam media lainnya seperti media visual, audio, audio-visual, realitas, dan multimedia. Papan informasi pun dibuat sebagai media visual untuk menguatkan alur penyebaran informasi dan pengetahuan komunitas. Pembuatan papan informasi ini dilakukan melalui simulasi penggalian kebutuhan informasi dan informasi apa saja yang bisa dibagikan oleh dan untuk sesama anggota komunitas.

“Papan informasi ini dapat dijadikan media pemberitahuan serta laporan hasil pertemuan semisal agenda dan laporan keuangan bagi anggota yang tidak bisa hadir dalam forum. Selain itu, papan informasi ini juga bisa menjadi media informasi umum terkait dengan kebutuhan warga seperti kebijakan desa, kesehatan, pendidikan, dan lain-lain,” papar Apriliana Sasanti selaku fasilitator dari CRI.

Materi yang disampaikan melalui diskusi, permainan menyenangkan dan simulasi membuat peserta antusias mengikuti pelatihan ini. Untuk mengenalkan media audio dan media realitas misalnya, peserta juga diajak untuk memainkan alat musik petik tradisional Dungga dan menari serta menyanyi tarian Dungga dengan iringan alat musik tersebut. Peserta mengaku, sebagai sebuah komunitas, mereka menjadi lebih kompak. Memang prinsip kedekatan, empati, dan interaksi itulah yang menjadi pokok dasar penguatan pengelolaan media komunitas ini.

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.08701 seconds.