Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Terjepit Ponton PT Berau Coal Warga Gurimbang Tewas Berita

TANJUNG REDEB 22/06/2015. Swara Komunitas Gema Bersatu– Puluhan warga Kampung Gurimbang Kecamatan Sambaliung menghentikan operasi conveyor PT Berau Coal (BC) di Site Lati Mine Operation (LMO), Kampung Sambakungan Kecamatan Gunung Tabur. Pasalnya, salah seorang warga menjadi korban terhimpit ponton dan tugboat PT BC hingga meninggal dunia, Senin (22/6) sekitar pukul 17.00 Wita kemarin.
Korban diketahui bernama Nasrullah bin Harun (36) warga RT 7 Nomor 17 Kampung Gurimbang. Korban selama 6 tahun terakhir ini, memang setiap hari bekerja mengantarkan konsumsi pekerja ponton dan tugboat yang bersandar di Kampung Tanjung Perangat, Kecamatan Sambaliung.
 

Dari informasi yang berhasil dihimpun di rumah duka, peristiwa terjadi Senin kemarin sekitar pukul 16.00 Wita. Dimana seperti biasanya korban mengantarkan konsumsi ke ponton dengan nomor lambung TBG 307 dan tugboat dengan nomor lambung TBG 2004. Namun naas, korban terjepit.
Korban sempat dilarikan ke RSUD dr. Abdul Rivai oleh Tim Rescue PT BC. Namun dalam perjalanan meninggal dunia. Sekitar pukul 18.15 Wita, jenazah almarhum tiba di rumah duka dan rencananya akan dikebumikan hari ini sekitar pukul 15.00 Wita.
Istri korban, Arpah (30) mengatakan, hanya bisa pasrah menerima kejadian yang menimpa suami tercintanya, namun dia juga bingung memikirkan nasib keluarganya. Sebab almarhum merupakan tulang punggung keluarga.
“Kami dikarunia dua anak perempuan bernama Siti (10) dan Munah (3) serta adik kandung saya yang selama ini disekolahkan almarhum di SMA Bangun bernama Supriyadi,” lirihnya.
 

Sementara Kepala Kampung Gurimbang, Madri Pani mengatakan, melihat keprihatinan keluarga almarhum, tadi puluhan warga marah kepada PT BC dan memaksa untuk menutup conveyor PT BC. Melihat kondisi yang tidak kondusif itu, maka dirinya berinisiatif untuk mengawal warga ke LMO.
“Warga menilai PT BC lamban dalam merespon kejadian ini, selain itu sudah lama warga menduga kalau pengelolaan ponton dan tugboat itu dilakukan secara tidak professional. Untuk itulah saya kawal kepergian mereka, agar disana tidak terjadi tindakan yang anarkis,” ujarnya.
Pani menambahkan, setibanya di LMO, warga langsung menghentikan operasi conveyor PT BC. Tujuannya agar PT BC bertanggungjawab atas kejadian ini.
“Sempat 3,5 jam dihentikannya, mulai jam 21.00 Wita hingga jam 00.30 Wita. Namun setelah PT BC melalui Kepala Shipping, Arifin Siregar dan disaksikan Polres Berau berkomitmen bertanggungjawab, maka operasi conveyor diizinkan kembali beroperasi oleh warga, tapi kalau ternyata komitmen tidak dijalankan, maka warga akan kembali menutup operasi conveyor itu,” jelasnya.
 

Dikonfirmasi di rumah duka, Ketua DPD KNPI Berau, Bastian meminta agar PT BC bertanggungjawab atas kejadian ini, utamanya terkait kelangsungan hidup keluarga korban yang telah ditinggalkan almarhum selaku tulang punggung keluarga. Namun demikian, kalau kejadian ini nantinya diketahui ada unsur pidananya, maka KNPI meminta agar Polres Berau tetap memprosesnya sesuai hukum yang berlaku.
“Ada kemungkinan pasal 359 KUHP (Kitab Undang-undang Hukum Pidana), yakni kelalaian yang menyebabkan hilangnya nyawa orang lain, dapat diterapkan pada kejadian ini. Sebab perahu almarhum sampai hancur dan mesin kapalnya tenggelam, artinya ada energi besar yang mendorong tugboat itu hingga korban terjepit. Kan tidak mungkin kalau gelombang speed bisa menggerakkan tugboat itu,” pungkasnya. (nsb/datu Lacuk)
 

 

 

 

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.0875 seconds.