Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Batu Akik Khas Berau Berita

TANJUNG REDEB 22/06/2015– SWARA KOMUNITAS GEMA BERSATU. Batu akik yang bagus tentu saja memiliki kriteria yang harus dipenuhi. Kalau standar dalam melihat batu yang paling bagus yakni bisa dilihat dari 4C, yakni Colour (warna), Clarity (kejernihan), Carat (berat) dan Cutting (pemotongan).
Hal itu diungkapkan juri nasional yang berasal dari Gemologist (ahli batu mulia) Lembaga Pengembangan dan Sertifikasi Batumulia (LPSB) Martapura Kalimantan Selatan, Heru Budi Kurniawan.
Dia menjelaskan, penilaian utama batu akik adalah warna. Warna sebenarnya tergantung dari selera seseorang, tapi ketika warna yang dihasilkan batu itu terbentuk secara alami, maka tentunya menjadi daya tarik tersendiri.
“Semakin intens warna batu akik, maka nilainya semakin tinggi. Penggemar batu akik biasanya membeli karena warnanya,” ujarnya.

Dia melanjutkan, kejernihan berkaitan dengan seberapa jernih batu akik serta menggambarkan ada tidaknya serat atau urat yang biasa disebut inklusi. Inklusi mengganggu aliran cahaya dalam berlian sehingga beberapa cahaya yang dipantulkan akan hilang.
“Ini yang menyebabkan banyak orang yang suka nyenter ke dalam batu. Itu untuk melihat kejernihannya bagaimana, ada cacat atau tidak. Batu akik yang bernilai tinggi memiliki tingkat kejernihan yang tinggi, katanya.
Indikator lainnya, lanjut Heru adalah pemotongan. Pemotongan dalam membentuk batu merupakan proses yang meliputi kualitas gosokan, keseragaman sisi gosokan dan polishing alias sentuhan tahap akhir.

“Semakin rapi dan proporsional pengerjaan pemotongan, nilai batu akik semakin tinggi,” ucapnya.
Indikator terakhir adalah karat (carat). Karat merupakan satuan standar berat untuk batuk. Nilai satu karat setara dengan 0,2 gram.
“Semakin berat atau semakin tinggi karat batu akik tersebut, harganya pun kian mahal lantaran semakin langka,” lanjut Heru.
Selain 4C, ada satu lagi kriteria untuk memastikan batu itu bagus atau tidak, yakni certificate. Sertifikat dikeluarkan oleh laboratorium akan lebih menjamin untuk mengetahui jenis batu, karat, sudah melalui proses apa saja dan sebagainya.
“Selain sebagai pengetahuan pribadi atas batu yang dimiliki, juga sebagai kekuatan hukum saat ingin menjualnya kembali. Yang jelas tren batu bisa turun, tapi masalah harga akan tetap tinggi, karena sumber daya dan kelangkaan dari batu itu sendiri,” pungkasnya.

Batu akik khas Kabupaten Berau " Lapis Banua" dipublikasi pertama kali dilakukan pada tanggal 14 Februari 2015 oleh Koran Kaltim dengan berita berjudul "Ini Dia Batu Akik Lapis Banua Berau". Kalau kurang yakin silahkan saja dicek di google, pasti terbukti itu. Dia kemudian menceritakan, dalam sejarah lapis banua itu, ada 4 orang yang terlibat, yakni Ruslan selaku penemu bongkahan lapis banua, Teguh Widodo dan saya sendiri selaku pembeli pertama bongkahan lapis banua, Gunawan alias Aying selaku penggosok bongkahan menjadi batu akik lapis banua serta kembali ke saya lagi selaku yang memberi nama batu akik lapis banua tapi atas persetujuan para tetua pecinta batu akik.
“Itulah keempat orang yang mengenalkan lapis banua. Untuk diketahui, inspirasi saya member nama lapis banua itu diambil dari batu lapis lajuli yang banyak ditemukan di Afganistan dan Pakistan. Lapis itu diambil dari bahasa Yunani kuno yang berarti batu, jadi arti lapis banua sebenarnya adalah batu banua, yang secara struktur kebetulan memang terdiri dari beberapa lapisan yang indah,” Hal itu diungkapkan Ketua Panitia Berau Gemstone Competition, 2015. Penny Isdhan Tommy .(nsb/datu Lacuk)
 

 

 

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.08965 seconds.