Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Rekonstruksi Kasus Pembunuhan Indra Pelani Oleh Tim URC PT WKS Di (SPN) Polda Jambi Berita

SK.Jambi. Rabu 06 Mei 2015 Pukul 11.00 Wib, Ditreskrimum Polda Jambi gelar rekonstruksi pembunuhan Indra Pelani oleh tim URC PT WKS. Adegan reka ulang dilaksanakan di Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Jambi, Pondok Meja, Kabupaten Muaro Jambi.
 

Pantauan di lapangan, Ibu kandung dan sejumlah kerabat korban tampak menghadiri rekonstruksi itu. Berikut juga dengan lima pelaku pembunuhan, yakni: Zaidan (18), M Ridho (24), Deispa (28), Asmadi (33), dan Ayatullah Khomeni (25).

Rekonstruksi ini mendapat pengawalan ketat dari pihak kepolisian. Tampak polisi berjaga-jaga di pintu masuk SPN dan di lokasi rekonstruksi.

Bermula dengan kronologis kasus pembunuhan, yakni," Pada hari Jum’at tanggal 27 Februari 2015, masyarakat anggota kelompok tani sekato jaya bersama dengan pendamping tidak diperbolehkan masuk oleh security (Zulkifli) dan URC (unit reaksi cepat) PT. Wirakarya Sakti (APP Group) yang jaga di pos kembar 803 dengan alasan harus ada izin dari perusahaan, pada saat bersama tersebut ada juga Ketua Kelompok Tani Sekato Jaya (M.Jais), saudara Dodi bersama dengan M.Jais mendatangkan pos security untuk meminta surat perintah dari perusahaan bahwa masyarakat tidak boleh masuk melewati pos security, pihak security juga tidak bisa menunjukan surat tersebut dan tetap tidak mau membuka portal. Akhirnya pihak security menyampaikan atau semacam anjuran apa bila mau masuk buka portal sendiri saja, dan ketua kelompok tani sekato jaya membuka portal tersebut sehingga mobil mitsubhisi L300 pick up yang membawak peralatan masak dan sembako untuk syukuran/doa panen raya untuk bisa masuk kelokasi panen raya.

Pada jam 14.00 wib saudara Indra (korban) menjemput saudara Nick Karim (Tim WALHI Jambi) dengan menggunakan sepeda motor GL Pro di simpang niam yang baru saja datang dari kota jambi. Sekitar jam 16.03 wib Indra (korban) bersama Nick Karim sampai pada pos kembar security di stop oleh tim URC (Unit Reaksi Cepat) PT. Wirakarya Sakti sebanyak 2 (dua) orang, lantas mereka bertanya (URC) terhadap korban dan Nick Karim “Mau Kemana” ?, dijawab oleh Nick Karim mau kedalam, kemudian URC membentak Indra (Korban) dengan ucapan “Kau ini belagak nian !!!” (Kau ini sok banget), lantas Indra (Korban) menjawab “Apo Bang” (apa bang), pihak URC langsung memukul Indra (Korban) dari belakang disusul dengan 5 (lima) orang rekan-rekannya untuk memukul korban. Nick Karim berusaha untuk melerai namun upaya itu tidak berhasil karena jumlah URC terlalu banyak, kemudian Nick Karim memintak kepada salah satu Security yang berpakaian dinas yang berada di pos untuk membantu menghentikan pemukulan terhadap korban, namun tidak ditanggapi oleh pihak Security tersebut. Kemudian Nick Karim ditarik oleh Bapak-Bapak yang berada didekat lokasi pos untuk menghindar dan mencari bantuan ke desa Lubuk Mandarsah dusun Pelayang Tebat..

Pada tanggal 28 Pebruari 2015 sekitar jam 09.00 wib kepala security (Akiet) PT. Wirakarya Sakti menelpon Rudi (WALHI Jambi) mengabarkan bahwa Indra (korban) sudah ditemukan sekitar 7 Km dari lokasi camp districk 8 dengan keadaan tidak bernyawa dan sekarang dalam proses evakuasi dari pihak kepolisian. Rudi (WALHI Jambi) menelpon Kasat Reserse Polres Tebo untuk memastikan berita tersebut dan kasat menjawab, memang sudah ditemukan korban dengan ciri-ciri rambut keriting, memakain celana pendek dengan keadaan luka memar diseluruh tubuh, bekas sayatan diseluruh tubuh, tanda tusukan benda tajam, benda tumpul dengan keadaan mulut ditutup menggunakan baju, tangan dan kaki diikat, sekarang jenazah dibawa ke rumah sakit tebo untuk dilakukan visum dan otopsi. Setelah mendapatkan informasi dari kasat reserse polres tebo, Rudi (WALHI Jambi) langsung menuju ke rumah sakit untuk memastikan korban yang ditemukan, sesampai dirumah sakit langsung melihat korban dan benar adalah saudara Indra".
 

Sekitar pukul 15.00 wib, adegan rekontruksi pembunuhan oleh tim URC PT WKS hampir selesai, pada saat reka ulang ibu korban dan kerabat sempat histeris dan tidak bisa menahan deraian air mata, sehingga sempat membuat emosi suasana rekonstruksi, syukur dari pihak kepolisian cepat  menenangkan keluarga korban.

Atas peristiwa tragis dan memilukan ini kami dari kerabat korban dan NGO beserta masyarakat sipil yang menyampaikan dan juga mendesak pihak – piha terkait. Menyatakan duka yang mendalam atas meninggalnya saudara seperjuangan kami, Indra Pelani. Dan kami berdiri tegak bersama keluarga, teman dan petani untuk bersama-sama memberikan dukungan yang diperlukan dalam masah sulit ini. Menunda keterlibatan dalam semua diskusi formal terkait komitmen social, konservasi dan restorasi dengan Asia Pulp dan Paper, sampai ada kejelasan, keterbukan dan keadilan terhadap penanganan peristiwa Indra Pelani. jelas," paman korban, tidak disebutkan namanya.

Terpisah, Direktur Walhi Jambi," Musri Nauli " Mendesak pihak kepolisian untuk tidak hanya melihat ini sebagai kriminal biasa, namun harus dilihat akar masalahnya, dan melakukan investigasi yang adil dan terbuka, mencari semua pihak yang terlibat, serta melakukan penegakan hukum yang adil. Mendesak pemerintah untuk bekerjasama dengan semua pihak kunci (Termasuk Masyarakat, pihak swasta dan NGO) untuk segera menyelesaikan konflik – konflik terkait sumber daya alam, sehingga kekerasan yang muncul akibat konflik berkepanjangan tidak terjadi dimasa yang datang. Pemerintah juga perlu menghentikan pemberian izin baru Hutan Tanaman Industri, menerapkan proteksi penuh kawasan hutan tersisa dan membuat kebijakan baru yang mewajibkan setiap perusahaan terkait pengelolaan SDA untuk dalam operasionalnya melaksanakan persetujuan tanpa paksaan, Free Prior Informed Consent (FPIC). Mendesak KOMNAS HAM untuk melakukan investigasi secara menyeluruh terkait kasus Indra Pelani.Mendesak kepada APP untuk mendukung dan bekerjasama dengan penegak hukum untuk melakukan investigasi guna pengungkapan kasus ini secara adil dan terbuka, dan bersama-sama dengan WALHI Jambi dan lainnya mencari langkah – langkah yang diperlukan untuk menyelesaikan kasus ini. APP juga harus mematuhi dan melaksanakan rekomendasi dari investigasi yang dilakukan, mencegah intimidasi dan memastikan keamanan dari petani, masyarakat dan NGOs; menghentikan penggunaan unit pengamanan khusus seperti URC dalam semua konsesi dan pemasok APP. Penting juga bagi APP untuk bekerja dan menyetujui bersama standar operasional prosedur pengadaan dan tata cara pengamanan di dalam konsesi mereka, dan memastikan bahwa peristiwa ini tidak terjadi lagi di daerah lain. melihat luka bekas korban indra pelanidalam penyiksaan oleh Tim URC PT.WKS yang menjadi masalah besar buat kita semua, agar nantinya persoalan pembunuhan dengan biadad ini tidak terulang kembali," Kami mendesak kepada seluruh pembeli, konsumen dan pemberi dana untuk menunda bekerjasama dengan APP sampai ada kejelasan kasus yang menimpa pejuang kami, tidak hanya konflik dan kasus ini namun juga keseluruhan konflik dalam konsesi APP dan pemasoknya ada kesepakatan dengan pihak kunci (Masyarakat dan NGO terkait) mengenai strategi dan rencana kerja penyelesaian konflik dan capaian yang memuaskan, sehingga masyarakat tidak bisa dilakukan sebuah kriminalisasi kasus dan harus seadil-adilnya dalam penyelesaian konflik masyarakat dengan pihak perusahaan terkait," Ucapnya.

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.09056 seconds.