Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Pergaulan Remaja di Jombang Mengkhawatirkan Pendapat

 
Pergaulan Remaja di Jombang Mengkhawatirkan

Oleh : Achmad Fathul Iman

Membicarakan permasalahan remaja merupakan topic yang menarik untuk dibicarakan. Mulai gaya hidup, kegemaran sampai pada kesehatan reproduski. Akhir tahun 2014, saya diundang oleh BPPKB (Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana) Kab Jombang. Acara kali ini merupakan pemaparan hasi survey kesehatan reproduksi remaja di Kab Jombang. Bagiku ini hal yang sangat menarik, mengingat BPPKB baru pertama kali ini melakukan survey seputar kespro. Survey yang bekerjasama dengan Lembaga Optimalisasi Kirana Jombang ini dilaksanakan pada 16-31 Oktober 2014. Survey ini diikuti 1150 responden (Tingkat SMP dan SMA ) di 12 kecamatan di Kab Jombang. Dari 1150 responden terdapat 665 atau 57,8% perempuan dan 42,2% atau sebanyak 485 laki-laki. Hasil dari survey ini dapat diketahui bahwa 92,4 % atau 1063 orang remaja pernah mendapatkan informasi tentang kesehatan reproduksi. Dan sumber informasi tertinggi adalah berasal dari guru atau sekolah yaitu sebesar 67,5% (776 responden), tenaga kesehatan 52,5% dan 29,5% remaja di Jombang mendapatkan informasi kesehaan reproduksi dari internet.

Berdasarkan data tersebut secara keseluruhan sebagian besar responden pernah mendapatkan informasi tentang kesehatan reproduksi, tetapi sebaran informasi tersebut tidak merata, dimana informasi kesehatan reproduksi yang berkaitan dengan narkoba, HIV/AIDS dan minuman beralkohol mendapatkan porsi yang lebih tinggi dibandingkan informasi yang berkaitan dengan penundaan usia pernikahan, infeksi menular seksual.

Informasi tentang Virus HIV/AIDS :

Hampir seluruh responden (905) atau sebanyak 1035 responden pernah mendengarkan penyakit AIDS. Dan mereka mendapatkan akses informasi tentang HIV AIDS berasal dari guru atau sekolah 67,6& disusul petugas kesehatan 42,3 % dan internet 27,2%. Sedangkan perilaku seksual pada survey ini cukup mengkawatirkan yakni 39,2 % sudah pernah melihat gambar porno dan untuk Film Porno remaja di Jombang 43,3% sudah pernah mengaksus film porno. Dan usia awal mereka menonton film dan gambar porno yakni saat mereka berumur 10 tahun untuk perempuan sedangkan untuk laki-laki pertama kali mengakses film dan gambar porno saat mereka berumur 11 tahun.

Disisi lain survey ini juga bertanya kepada responden tentang onani atau masturbasi, sebanyak 43,3% remaja di Jombang pernah melakukan onani. Dan usia awal melakukan onani atau masturbasi untuk laki-laki usia 12 tahun sedangkan perempuan pada usia 13 tahun. Pada perilaku pacaran remaja di kota santri terdapat 28,3 % sudah melakukan pegangan tangan dan usia awal berpegangan tangan untuk perempuan saat berusia 11 tahun dan untuk laki-laki berusia 12 tahun.

Pada saat pacaran remaja di Jombang yang sudah pernah melakukan ciuman cicir sebesar 14,7 % dan usia awal berciuman bibir pacar atau teman dekat pada perempuan berusia 12 tahun ddan untuk laki laki 13 tahun. Remaja di Jombang yang sudah pernah merabah/dirabah, merangsang/dirangsang bagiatn tubuh yang sensitive seperti sekitar alat kelamin, payudara, paha saat pacaran sebesar 5,6 % dan usia awal mereka dirabah atau dirabah bagian tubuh yang sensitive baik laki-laki atau perempuan pada usia 14 tahun.

Tidak hanya itu saja, riset ini juga mengungkapkan sejauh mana pergaulan Remaja yang di Kota Santri Jombang. Terdapat 1,6 % remaja di Jombang pernah saling menggesek gesek alat kelamin saat pacaran. Dan usia awal mereka melakukan hal itu pada laki-laki maupun perempuan yakni pada usia 16 tahun. tidak hanya itu saja, perilaku remaja saat pacaran yang sudah melakukan seks oral (mulut) sebesar 0,4%. Usia awal mereka melakuka seks oral pada laki-laki pertama kali yakni saat mereka berusia 13 tahun dan untuk perempuan pada usia 15 tahun. sedangkan remaja di Jombang yang sudah melakukan seks anal (anus/dubur) saat pacaran sebanyak 0,2% dan usia awal melakukan seks anal yakni 16 tahun. Untuk seks vaginal (penis dengan vagina) terdapat 1,1 % remaja di Jombang sudah melakukan seks anal saat pacaran. Dan usia awal melakukan seks vaginal baik laki-laki maupun perempuan pada usia 16 tahun.

Hal yang paling mengejutkan pada surve ini yakni remaja di Jombang melakukan hubungan seksual pertama kali bertempat dirumah pasangan sebesar 63%, disusul ditempat wisata 25% dan hotel 6 %. Untuk hubungan seks vaginal seagian besar dilakukan dengan pacar 80,9%, sedangkan teman 0,1 %. Dan saat mereka melakukan hubungan seksual secara vaginal , sebagian besar responden 81,8% menggunakan alat kontrasepsi.

Berdasarkan hasil riset diatas tampak bahwsa sosialisasi masalah seksualitas masih jauh tertnggal dengan sosialisasi HIV/AIDS dan Napza. Untuk itu perlu adanya terobosan baru untuk melakukan sosialisasi masalah seksualitas, misalnya saat pemberian materi harus dibagi porsinya 40% masalah seksualitas dan 30% untuk HIV AIDS/Napza . ada hal yang mengganjal dalam survey yang dilakukan BPPKB Kab Jombang yakni mereka tidak menggunakan data sekunder dalam pertanyaan riset mereka, missal “Apakah kalian pernah mengetahui teman kalian hamil diluar nikah?, apakah kalian pernah mengetahui kalau teman kalian melakukan hubungan seks saat pacaran?” . Contoh pertanyaan diatas tidak ditermukan dalam riset yang bekerjasama dengan lembaga optimalisasi Kirana ini.

Permasalahan ini ibarat gunung es, Pemerintah daerah seharusnya memberikan perhatian yang serius dalam menangani permasalahn remaja ini. dalam penanganan permasahalah ini pemerintah seharusnya memberikan kepercayaan kepada remaja itu sendiri untuk menangani permasalahnya. Hal ini dikarenakan setiap permasalah yang terjadi seputar remaja pemerintah hampir tidak pernah memberikan kesempatan pada remaja dalam penanganan permasalahan remaja, khususnya dalam bidang kesehatan reproduktif dan seksual. Pemerintah seakn akan menanggap remaha atau anak muda seperti gelas kosong yang tak tau apa-apa. Ada ungkapan yang mengatakan “yang tahu permasalahan remaja dan cara menanganinya ya remaja itu sendiri”.

Menyiapkan generasi muda yang sehat dan berkualitas merupakan tanggungjawab pemerintah dan masyarakat. Sampai sekarang upaya pemerintah Indonesia khususnya Kabupaten Jombang dalam pemenuhan hak kesehatan reproduktif dan seksualitas yang komprehensif masih isapan jempol belaka. Padahal siapapun yang memimpin negeri ini mulai presiden sampai kepala desa mereka adalah memimpin generasi muda. Apa yang dilakukan pemimpin sekarang (kebijakan-kebijakan) yang merasakan dampaknya adalah generasi muda. Dalam hal ini Saya menuntut agar pemerintah Kab Jombang khususnya :

Mampu memasukan pelajaran kesehatan reproduktif yang komprehensif kedalam kurikulum khusus mulai tingkat TK-SMA.
Memberikan Anggaran khusus untuk pemenuhan hak kesehatan reproduktif yang komprehensif.
Menyediakan tenaga pendidik yang terlatih dan terampil dalam pemberian materi tentang kesehatan reprodutif.

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.0932 seconds.