Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Kopi Sle Bengkulu Berita

Anda mungkin mengenal dan pernah menikmati beragam jenis kopi. Dari kopi Lampung, Toraja, Aceh, dan masih banyak lagi lainnya. Tapi mungkin sedikit dari kebiasaan minum kopi yang kemudian menjadi tradisi di Indonesia. Pernah membaca atau mendengar tradisi minum kopi Aceh? Di Aceh, khusus untuk Kopi Ulee Kareng, bisa dikatakan hampir semua kedai kopi di Banda Aceh menyuguhkan kopi produksi daerah ini. Proses pengolahan bubuk kopi di kedai-kedai kopi ini menyimpan keunikan tersendiri. Bubuk kopi tidak sekedar diseduh dengan air panas tetapi dimasak, sehingga aroma dan citarasa kopi yang keluar benar-benar kuat. Kopi yang telah dimasak ini kemudian mengalami beberapa kali proses penyaringan menggunakan saringan berbentuk kerucut. Di kedai-kedai kopi ini, umumnya kopi ditawarkan dalam tiga variasi penyajian, yaitu kopi hitam, kopi susu dan sanger. Kopi hitam dan kopi susu mungkin sudah sering kita temui di daerah-daerah lain di Indonesia, tapi Sanger adalah racikan yang khas dan orisinil dari Aceh.

Anda mungkin abai, bahwa kebiasaan masyarakat yang kemudian mejadi tradisi ini. Tradisi minum Kopi ini Adalah realitas sosial dan berlangsung tahunan. Kebiasaan minum kopi masyarakat umumnya pun tidak semua menjadi tradisi atau kebiasaan. Yang kemudian melahirkan perspektif unik atau beda. Yang kemudian menjadi khas itu. Artinya, melahirkan pola dan norma sosial yang beda itu. Tentu kemudian tata krama, etikatnya minum kopi itu melengkapi norma-norma sosial, melengkapi logika sosial masyarakat dalam mengelola kesadaran lingkungannya. Bahwa yang biasa menjadi tampak luar biasa oleh karenanya.

Nah, kali ini dalam touring bersepeda keliing Indonesia dalam rangka Hari BUmi 22 April 2015 ini. Di Bengkulu, rupanya ada keunikan dan seni meminum kopi ala Bengkulu. Tentu aku tidak akan gegabah mengatakan ini semacam tradisi. Karena di kedai, warung atau coffe kopi kebiasaan minum kopi sama saja kujumpai. Tapi seorang kawan Da Leman seorang presenter TV Bengkulu suati hari di kantor Walhi berututur padaku, "Mas, kita ke pantai yuk! Sambil menikmati Kopi Sle!" Mendengar Kopi Sle, aku langsung terpikir. Paling kopi biasa. Dan kata Sle semacam trade mark saja. Atau nama Coffe dengan bayangan coffe megah, dengan sound system komplit dan meja kursi yang nyaman dan seting coffe yang khas pantai sebagaimana coffe-coffe yang banyak kujumpai di Bandung atau di sepanjang pantai di Lombok. Rupanya hanya kedai dengan bangunan bambu dan kayu reot, sebagaimana rumah nelayan di pesisir kebanyakan. Tidak ada kursi atau meja layaknya coffe. Cuma memang tertulis di sana Coffe Sle. Dan seorang laki-laki sedikit plonthos berwajah oval berkulit sedikit itam dan pendek. Dengan pakaian agak rapi menyambutku di meja-kursi plastik. Dan sepoi angin Pantai Panjang sore itu. Keterangan Da leman. Kata Sle menurut kamus Sleng berasal dari kata jawa 'kesele'. Penggunaannya hampir sama dengan "capek deh". Tapi menurut Da Leman, kata Sle itu mangsudnya 'unik' atau 'berbeda'.

Tapi ini yang lebih menarik bagi pemilik kedai, warung atau coffe-coffe shop. Untuk paling tidak mulai memikirkan strategi pemasarannya dengan fenomena ala Kopi Sle bengkulu ini. Di Warung atau di Kedai kopi. ORang hanya disajikan kopi ketika memesannya. Beberapa kedai mungkin akan menampakkan proses penyeduhan kopinya. Tapi tak satu pun kita jumpai, dimana penyaji kopi selain menyajikan kopi, juga menemani sekaligus menjelaskan norma dan etika dalam menikmati minuman yang disajikannya.

Coffe Sle Bengkululah tempatnya. Dalam segelas kopi ala Coffe Sle. Anda bukan saja menikmati kopi. Tapi dalam segelas kopi itu berisi juga beberapa macam rempah-rempah yang tidak kita jumpai dalam segelas kopi dimana pun, kecuali di kedai Kopi Sle ini. Tidak usah khawatir, sebab sang penyaji Kopi akan menemani kita selama minikmati kopi sampai selesai. Sambil mengajarkan norma dan etika bagaimana mestinya menikmati Kopi Sle itu.

Inilah keunikan Kopi Sle. Begitu anda duduk, seorang laki-laki akan mengantar segelas kopi ke meja anda. lantas menerangkan apa yang disajikan. Mulai dari bahan-bahan dan norma atau aturan dan cara menikmatinya. Ujarnya, pertama aduk kopi setiap kali mau minum agar mendapatkan manis sesuai yang kita kehendaki. Kedua, kunyah beberapa rempah-rempah yang sudah dicampur dalam gelas kopi itu. Misalnya, Bunga peka. Kunyah dulu, minum kopi secukupnya dan kumur-kumur. Maka akan kita temukan sensasinya. Begitu juga dengan Kapulaga dan irisan kulit Jeruk. Dan bagaimana cara menghirup kopi dengan Kapaluga. Yang menarik bukan saja sensasi yang berbeda-beda dari norma dan etika minum Kopi Sle ini. Tapi ada kesadaran etika sosial, dan norma pasar yang selama ini abai pada hal-hal 'manusiawi' ini. Di Coffe Sle dialektika pembeli dan penjual sepertinya diingatkan, akan pentingnya nilai sosial. Bahwa jual-beli adalah prosesi sosial. Jual-beli bukan sekedar bagaimana sebanyak-banyaknya barang terjual dan abai pada nilai-nilai kontrak sosial yang terus berkembang. Dan membentuk nilai-nilai kekinian. Bahwa jual-beli bukan soal berapa banyak jenis dan macam barnag yang akan anda jual. Bukan soal berapa banyak uang yang anda punya.

Jual-beli adalah soal transaksi nilai-nilai, bahwa uang yang dikeluarkan untuk barang dan kebutuhan yang kita butuhkan itu 'benar'. Benar 'mengidentifikasi' pikiran dan perasaan kita. Benar dan melengkapi pengertian dari semua teks yang mengikutsertakan semua logikanya. Benar, utuh dan bulat sebagaimana uang yang kita keluarkan sebagai alat tukarnya. 'Bahwa cara pandang kita dalam menyikapi persoalan sosial, sebagaimana 'harga'. Pantas, tepat sebagaimana barang yang kita perlukan atau kita butuhkan. Jual-beli adalah pintu pembelajaran bagaimana dirinya sendiri sebagai mahluk sosial menghargai perasaan dan pikirannya sendiri. Dan bagaimana mestinya mengelola kesanggupannya. Di tengah realitas sosialnya. Jual-beli adalah bagaimana kita mengelola stamina dan merawat sikap nyaman di tengah-tengah realitas sosial yang cepat perkembangannya itu, sebagaimana pasarnya. Di Coffe Sle, terbayang dalam pikiran saya, pada saat saya pingin ngupi, makan, atau membeli sesuatu. O...betapa pentingnya menghargai kemanusiaan itu. Anda mungkin akan lebih sedikit mendapat pengertian pada transaksi sosial di pasar seperti ini. Sehingga barang yang anda dapatkan dalam proses jual-beli sepertinya menjadi lazim dan tak mengesankan atau mengingatkan apa-apa kecuali konsumtif belaka. Padahal pasar dibentuk oleh etika dan norma dialektikanya. Pernahkah anda membayangkan membeli secangkir kopi, dan anda diajarkan bagaimana mestinya menikmati kopi itu, dijelaskan kasiatnya, diterangkan manfaatnya, ditemani sambil ngobrol apa saja. Adakah peristiwa budaya ditengah transaksi sosial seperti ini di pasar Indonesia? Tentu, ini juga semacam pengingat buat pengelola pariwisata. Bukan bagaimana mendatangkan sebanyak-banyaknya bule dan meraup sebanyak-banyaknya dollar. Tapi bagaimana sebanyak-banyaknya kita mengumpulkan dan mengelola kembali daya hidup dan kemanusiaan itu sendiri. Sehingga kita tidak sibuk merumuskan nilai tukar mata uang. Tapi lebih arif mengelola daya hidup dan stamina dari realitas wadagnya.

Kopi Sle, begitu aku nikmati dengan resep dan etikanya. Bukan saja sensasi yang aku dapatkan. Tapi perubahan disetiap hirupan dan kenikmatan kopi dalam gelas itu juga mengajarkan betapa berwarnanya perasaan dan pikiran kita berhadapan dengan sikap abai di tengah kesibukan logika pikirannya. Sebagaimana kopi di rongga mulut kita. Kopi sama itamnya, tapi beda sensasinya adalah ketika menikmati segelas kopi dengan mengenali etika dan estetikanya. Itulah Coffe Sle. Dan ketika seorang wartawan on line bertanya padaku, "Mas apa sih yang istimewa di Bengkulu?" Aku mungkin akan menjawabnya, "KOPI SLE!" Semisal begitu.
 

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.09132 seconds.