Pertemuan Paguyuban 'Cinta' Indonesia di Stockholm
Rotebro, Swedia. Meski belum sampai membentuk satu perkampungan tersendiri, misalnya seperti Kampung Arab atau Pecinan di beberapa kota di Indonesia—Orang-orang Indonesia di Swedia juga memiliki komunitas khusus yang pada umumnya terdiri dari orang-orang Indonesia asli, namun juga termasuk orang-orang Burma dan China yang punya hubungan kerabat dengan orang-orang Indonesia, di Stockholm. Pertemuan-pertemuan reguler dilakukan oleh komunitas dengan nama 'Paguyuban Rukun Keluarga' paling kurang sekali dalam sebulan.
Sabtu, 1 Mei 2010, Pewarta sempat ikut menghadiri pertemuan Paguyuban Rukun Keluarga tersebut di Rotebro, Stockholm. Rotebro merupakan salah satu area—semacam kota satelit—di antara area-area serupa yang tersebar di seluruh wilayah Munipical Stockholm, di mana di dalamnya terdapat selain kompleks pemukiman/perumahan warga berupa apartemen atau villa juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas publik berupa pusat perbelanjaan (di Swedia namanya centrum) dan terhubung dengan sistem transportasi yang sangat baik, termasuk sarana transportasi umum seperti bus, kereta api dan taxi.
Butuh waktu satu jam dari Flemingsberg—tempat Pewarta tinggal—untuk mencapai Rotebro di wilayah bagian
utara Stockholm melalui jalan aspal mulus dan aturan berlalu-lintas yang tertib. Berbeda dengan di Indonesia, mobil bersalipan di jalur sebelah kiri—karena itu setir mobil berada di sisi kiri depan. Hampir tak pernah terlihat Polisi Lalu-Lintas (Polantas) di jalanan—Pewarta malah tak tahu apa Polisi semacam itu ada di Swedia? Mobil yang sedang melaju akan 'otomatis' berhenti jika ada orang hendak menyeberang di lintasan penyeberangan jalan.
Ada sekitar 20-an hadirin pada pertemuan Sabtu siang minggu lalu. Kebetulan acara pertemuan dibarengkan dengan perayaan ulang-tahun dua cucu tuan rumah, di kediaman Sonny Juwono dan anak menantunya. Bung Sonny—begitu biasa dipanggil di kalangan warga Paguyuban—bermenantukan orang Swedia, dan dengan begitu telah memiliki dua cucu 'Indo'. Keduanya berulang-tahun pada hari yang berdekatan, Meilina (5 tahun) dan Juline (1 tahun) pada awal bulan Mei.
Pertemuan-pertemuan berlangsung secara kekeluargaan, jauh dari urusan dan kesan formal. Pada saat-saat semacam ini nuansa keindonesiaan biasanya kental terekspresikan, baik dalam bentuk busana (berbatik), bahasa (Indonesia), makanan (khas daerah tertentu), bahkan secara khusus paguyuban menyelenggarakan hari pertemuan dengan tema suku-bangsa, misalnya hari Manado, hari Sunda, dan sebagainya. Sabtu minggu lalu kita antara lain dihidangi tahu goreng, urap-urap, sambal goreng, capcay, nasi tumpeng dan nasi putih, dan lain-lain. Sehari-hari makanan orang Indonesia di Stockholm memang tidak selalu nasi, karena bisa saja makan bermacam-macam roti, pasta, pizza, bubur havermooth, salad buah atau sayuran, bistik, ayam panggang atau goreng, daging kambing oven dan berbagai makanan Eropa lainnya.
Kesempatan-kesempatan pertemuan merupakan saat-saat di mana warga paguyuban yang tinggal tersebar di berbagai county di Stockholm dapat saling bertemu dan berkumpul dengan gembira. Anak istri biasanya dibawa serta jika mereka sedang tidak punya acara penting lain. Kebanyakan baik suami maupun istri memiliki pekerjaan atau profesi sendiri. Sebagian besar generasi tua warga Paguyuban adalah warga negara Indonesia korban peralihan rezim Orla ke Orba, yang kehilangan kewarganegaraan karena pasport mereka dicabut dan hidup sebagai orang pengasingan di berbagai negara Eropa sebelum akhirnya menetap di Stockholm, Swedia.
Kopi, sebagai kegemaran khas orang Indonesia, selain teh tak pernah ketinggalan jadi hidangan ngobrol menemani camilan gorengan lumpia, bakwan dan lemper—yang dibungkus kertas. Satu ciri khas orang Indonesia lainnya—yang untungnya tidak lagi dilakukan di Swedia—ialah MEROKOK, Sabtu kemarin sama sekali tak terlihat di Rotebro, baik di luar ruang apalagi di dalam ruangan. Ya, memang tak ada petani tembakau yang harus disubsidi orang Indonesia di Swedia. (AEM)
- n/a
- Liputan Khusus
- dibaca 4847x
- [3] komentar




Lombok Tengah, Suarakomunitas.net - Angka kemiskinan di Kabupaten Lombok Tengah hingga saat ini masih cukup tinggi yakni mencapai 19,92 persen. Karenanya pemerintah setempat telah melakukan
MATARAM - Untuk mengakselarasikan pembangunan di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), pemerintah telah mengembangkan pariwisata didaerah pesisir Lombok.
MATARAM - Bila dilihat dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM), wilayah kepulauan, hingga saat ini masih cukup rendah, jika dibandingkan dengan pulau-pulau besar di Indonesia.
Bogor, Jawa Barat- Peluncuran Pintu Gerbang Layanan Pesan Singkat (SMS Gateway) untuk kampanye Strategi-strategi Terhadap Munculnya Wabah Flu dalam mendorong terciptanya
MATARAM - Kongres Sunda Kecil dan Maluku (Sukma) yang dilaksanakan sejak tanggal 20-24 Mei mendatang, diharapkan dapat menghasilkan rumusan yang konstruktif sebagai pemecahan masalah
Cianjur (Suara Komunitas) - HAUS adalah salah satu ciri unggas yang sehat yang berarti Halal, Aman, Utuh dan Sehat, seperti yang diungkapkan Yuliana (38) selaku narasumber 



