Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Cerpen: “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar….” Sastra

Pidie SK-

“Tik.” Ada bunyi kecil di atas pohon. Rupanya suara tangkai dari selembar daun yang lekang dari rantingnya. Lalu, bagai alunan sampan didodaidi gelombang, daun itu melayang. Dalam gelombang kejatuhannya, daun-daun lain yang masih hijau di sepanjang batang itu memperhatikan dia dengan tatapan sendu, kemudian saling membicarakannya.

“Sudah tiba masanya.” “Ya, sudah tiba masanya.” “Kelak kita pun akan begitu.” “Betul, tiada yang abadi.” “Eh, siapa yang melayang itu?” “Itu daun dari ranting bagian paling atas.” “Padahal lebih layak kita yang lebih duluan layu karena kita berada di dahan yang lebih tua.” “Itu bicara adat, tapi ini persoalan hakikat, selalu ada hal-hal di luar perhitungan yang membuat sesuatu terjadi pada ranting itu hingga selembar daunnya mengalami kelayuan dini.”

Sang daun yang selembar itu kini jatuh di tanah. Terdiam ia di situ, seperti sampan yang terpatri pada lumpur hutan bakau. Dan matahari pun timbul-tenggelam lagi. Lalu daun yang kemarin masih berwarna kuning itu sekarang mengering. Berwarna coklat-tua.

Dan hari pun berlalu lagi. Seirama dengan gelombang waktu, lambat-laun daun itu mengerut. Kian merapuh. Sang waktu terus mengalun ke tepian yang tiada berkesudahan. Dan sekarang daun itu hancur berserakan di tanah. Sudah hilang bentuk kedaunannya. Kemudian dan terus kemudian lagi akhirnya si sehelai daun kini melebur, hancur-lebur, tanpa beda lagi mana dia-mana tanah.

***
 

Dulu ia selembar daun muda yang hijau. Segala tantangan mampu diubahnya menjadi kekuatan. Gravitasi bumi yang menarik ia ke tanah membuat rekatan tangkainya justru semakin teguh pada ranting; tiupan angin yang menerpa dia siang dan malam justru membuat tulang-tulang daunnya semakin penuh dan kekar; terpaan sinar matahari, seterik apa pun tidak membuat ia kering, tapi justru diubahnya sinar itu menjadi energi buat mengubah zat-zat makanan menjadi santapan yang disuplainya ke seluruh ranting dan pohon dengan bangga.

“Daun itu, ke manakah daun itu?” tanya selembar daun yang masih hijau dari pohon yang sama.

“Sudah tak dapat dibedakan lagi antara dia dan tanah,” jawab selembar daun yang lain.

“Mengapa demikian?”

“Karena dia ikut berjalan bersama perjalanan timbul-tenggelamnya matahari.”

“Bisakah kita menarik diri dari perjalanan bersama timbul-tenggelamnya matahari?”

“Bisa.”

“Bagaimana?”

“Pergilah dari dimensi ruang, maka kau akan terbebas dari dimensi waktu, dan dari sana kau akan bisa mengucapkan sayonara pada semua penumpang kereta yang dihela oleh timbul-tenggelamnya matahari.”

“Bagaimana cara perginya?”

“Fana.”

“Apa itu?”

“Maqam tertinggi yang mampu dicapai oleh semua yang ada di semesta.”

“Berarti aku juga bisa mencapainya?”

“Bisa.”

“Caranya?”

“Kemampuan berkonsentrasi untuk membuat diri menjadi tiada.”

“Haaa?!”

“Iya.”

“Sesederhana itu? Apa mungkin?”

“Sangat mungkin.”

“Ada referensinya?”

 

“Ada. Sejumlah daun telah hilang tanpa harus layu, meranggas, kering dan hancur terlebih dahulu. Sejumlah binatang di keluasan rimba telah tiada tanpa diketahui kapan dia mati.”

“Itu asumsimu. Pendapatmu belaka.”

“Baik. Sejumlah burung telah melayang di keluasan mayapada lalu hilang untuk selama-lamanya tanpa pernah didapati di mana bangkainya.”

“Mereka membuang bangkainya sendiri ke Paya Sidondon,” tantang si daun muda.

“Itu juga asumsimu berdasarkan kisah dalam hikayat,” balas daun tua seraya menyambung, “Sejumlah manusia pernah ada di dunia namun akhirnya mereka lenyap dari semesta tanpa harus melalui prosesi yang acap disebut sebagai “meninggal” seperti Nabi Idris Alaihissalam.”

“Kembali ke yang tadi, apa mungkin aku bisa begitu?”

“Sangat mungkin.”

“Apa mungkin Anda juga bisa begitu?”

“Juga sangat mungkin.”

“Sekali lagi, caranya?” tanya daun muda.

“Kemampuan berkontemplasi untuk membuat diri menjadi tiada dan fana.”

“Mengapa Anda tidak melakukannya?”
 

“Saya lebih memilih fana sambil menikmati kebersamaan dalam sebuah kereta yang ditumpangi oleh seluruh isi dunia, sebagaimana yang telah dipilih oleh Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam, dalam sebuah perjalanan menyeberangi lautan dimensi ruang, dan tikungan-tikungan di antara dakian dan turunan, sepanjang perbukitan dimensi waktu, dalam sebuah helaan yang linear, dan pasti, oleh timbul dan tenggelamnya matahari.”

 

“Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar…!” takbir Idul Adha yang terdengar sayup-sayup dari balik halimun pagi di masjid yang jauh di perkampungan tepian gunung, memotong khayalanku tentang dialog dua helai daun. Aku dan Daud sedang tiarap berdampingan di bawah sebatang pohon yang besar dengan senjata siap menembak. Karena musuh agak lama bereaksi, maka aku pergunakan waktu untuk melamun tentang apa saja. Kebetulan kali ini tentang daun-daun. Ini caraku menjaga kemurnian pikiran dalam kehidupan kami yang bertahun-tahun di rimba.

Sebenarnya kami sedang dalam kondisi siaga penuh. Tentara pemerintah sengaja memilih hari 1 Idul Adha untuk mengepung kami dalam hutan ini karena mengira ini adalah hari-hari di mana kami lengah. Mereka seperti Belanda, kerap memanfaatkan hari-hari yang agung untuk menikam. Tapi ternyata mereka keliru. Tiga teman mereka telah terkapar bersimbah darah pada dakian di belakang. Dan itu menjadi pelajaran terindah buat mereka di Hari Raya Kurban tahun ini. Kami tak peduli kapan negeri kami ini akan merdeka. Yang penting kami selalu bisa memberi mereka pelajaran bahwa kapan saja mereka datang ke sini maka mereka akan pulang dengan jiwa dan raga yang terluka, bahkan hanya pulang nama saja. (MS)

 

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.09133 seconds.