Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Pengetahuan Masyarakat Bajo Tentang Astronomi Bahari Pendapat

MEKAR (SK) - Masyarakat Bajo masih mewarisi dan mempercayai sampai saat ini tentang hari baik” allau ala’( dalle) dan hari buruk allau rah’ok(na’as) untuk melakukan kegiatan apa saja dan yang berhubungan dengan perjalanan untuk mencari nafkaf(rezeki) di lautan maupun didaratan.Dengan demikian, perhitungan atau bilangan hari,bulan,jam sangat berpengaruh besar terhadap aktifitas pekerjaan mereka atau terhadap hasil pekerjaan yang mereka lakukan, ini menyebabkan semua urusan dan pekerjaan yang akan dilakukan selalu diawali dengan menghitung-hitung Bulan, hari dan jam yang baik serta bulan, hari dan jam yang buruk.

Sistem pemahaman dan pengetahuan ini merupakan pengetahuan yang diwarisan nenek moyang masyarakat ini sejak dahulu kala, kemudian di implementasikan dalam kehidupan sehari-harinya dan ditransformasikan dengan situasi dan kondisi yang berkembang dalam lingkungan sekitarnya. Masyarakat Bajo pada umumnya adalah merupakan masyarakat maritim yang mempunyai sistem pengetahuan dan pemahaman yang berkaitan dengan kelautan atau dengan istilah sekarang disebut( kemaritiman) yang dilakuakan dan dimanifestasikan dalam kehidupan kesehariannya atau setiap harinya.

Pola dan sistem pengalaman dan pengetahuan ini nampak dalam pola dan teknik dalam merangkai alat-alat penunjang aktifitas mereka misalnya pembuatan Rumah,(perahu,lambo,soppe,lepa, dll,) serta ilmu astronomi perbintangan( bulan,Bintang),awan,angin(mata angin) arus,suhu air ,karang,serta ilmu yang berhubungan dengan keberadaan jenis ikan pada suatu tempat.

Jika merujuk pada terbitnya bulan dalam hitungan Islam (Qamariah),Hitungan hari yang biasa menjadi rujukan untuk berlayar atau mencari nafkah adalah adalah hari ke-7 terbitnya bulan.pemahaman masarakat bajo( orang Bajo) Hitungan jam( waktu) yang baik untuk bekerja atau berangkat berlayar mencari nafkah hidup .

Mereka memiliki kearifan lokal berupa keahlian melaut. Mereka bisa membaca arus, ombak, suhu air, arah angin, karang, mendeteksi tingkat kedalaman yang tepat untuk memnangkap ikan. Mereka juga mengenal ilmu perbintangan, kapan bulan baik atau buruk untuk melaut. Keahlian membaca tanda-tanda alam ini dijadikan pedoman mereka ketika melaut untuk mencari ikan. Tidak heran jika mereka dikenal sebagai Pelaut Ulung.Suku Bajo juga terbiasa menangkap ikan secukupnya, tanpa ingin berlebih..Para pengumpul ikan lah yang notabene memaksa masyarakat Bajo menangkap ikan secara berlebihan. (Bajo Bangkit)
 

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.08915 seconds.