Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Perjuangan Masyarakat Desa Melawan Perusahaan Tambang EMAS PT Tantri Majid Energi (TME) Berita

Prolog," Dilihat dari fasilitas yang dibangun oleh Kolonial Belanda di Tambang Sawah, Kolonial masih bercokol dan mengelola tambang emas di Tambang Sawah 1825 – 1842. Itu masih terlihat dari instalasi pegolahan emas di Desa Tambang Sawah tersebut. Selaian itu dilihat dari bukti makam setempat terlihat bahwa warga setempat telah tiga generasi berusaha sebagai penambang Tradisional.

Pada 1979 Desa Tambang Sawah di difinitif secara resmi masuk dalam Kabupaten Rejang Lebong. Setelah pemekaran Kabupaten Lebong pada 2003, Desa Tambang Sawah masuk dalam wilayah Kecamatan Pinang Belapis Kabupaten Lebong.

Saat ini terdapat 10.975 jiwa di 2 Kecamatan Lebong Utara dan Kecamatan Pinang Belapis dengan 7 Desa Tambang Sawah, Air Putih, Air Kopras, Lebong Tambang, Ladang Palembang, Kelurahan Kampung Jawa, Dan Desa Tunggang. Secara etnis didua kecamatan 7 desa ini, warga merupakan komunitas Suku Rejang , Sunda dan Jawa. Yang sangat jadi nominan nya warga Desa Tambang Sawah Hampir 90% penduduk Tambang Sawah menggantungkan diri dengan tambang tradisional. Melihat sejarah dari Luas Desa Tambang Sawah dahulunya 16 Km persegi. Tetapi sejak mengalami penyempitan menjadi 9 Km persegi. Dan lokasi Tambang tradisional yang bernama Lobang Kompoy dan Lobang Empat menjadi hak bersama warga seluas 4 Ha. Desa ini telah berdiri fasilitas Sekolah 1980-an Dasar dan SLTA sejak 2008.

Pada massa Pemerintahan Bupati Dalhadi di 2006, pemerintah Kabupaten Lebong Mengeluarkan Ijin AMDAL pada PT. Tantri Majid Energi (TME) untuk melakukan penyelidikan umum dan explorasi. Proses dikeluarkan ijin AMDAL saat itu tidak melalui proses konsultasi publik dengan warga sekitar. Terutama penyampaian dampak lingkungan dan ekonomi yang akan terjadi kedepan. Selama melakukan explorasi dari 2007 – 2013 pihak PT. Tantri Majid Energi (TME) telah melakukan pengeboran dan membeli lahan masyarakat sekitar Lobang Kompoy dan Lobang Empat. Tentu saja proses pengeboran dan pengusaan lahan oleh perusahaan menggangu ketenagan warga yang melakukan aktivitas sehari-hari dalam mata pencarian warga dari tambang tradisional dan juga akan menghancurkan Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS) dan Hutan Cagar Alam Kabupaten Lebong.

Pada bulan November 2013 pihak Badan Lingkungan Hidup (BLH) provinsi Bengkulu mengirimkan surat untuk memintak tanggapan untuk melakukan kaji ulang dokumen AMDAL yang telah berumur lebih dari 8 tahun. Menyikapi Surat Kepala BLH Lebong No: 660/44/BLHKP/2014 masyarakat Desa Lebong Tambang dan Tambang Sawah. Lewat Surat pernyataan dan tanggapan Komunitas Tambang Tradisional Lebong (KOMOUBONG), yang merupakan pemilik dan pengelola Tambang Tradisional yang berada dalam wilayah Desa Tambang Sawah dan Lebong Tambang. Penolakan atas keberadaan perusahaan tambang emas PT Tantri Majid Energi. Penolakan ini merupakan penolakan kali ketiga setelah penolakan pertama pada April 2012 dengan melakukan Aksi ke Bupati Lebong dan ke DPRD Lebong.

Surat yang Kedua, Surat Keberatan Ijin Lingkungan pada 11/14 November 2013 kepada Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Bengkulu.

Surat Penolakan Ketiga, ke Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Lebong untuk tidak memberi ijin AMDAL pada perusahaan PT. Tantri Majid Energi (TME).

Pada 14 November 2014, warga melakukan penolakan terhadap surat dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi untuk melakukan kaji ulang AMDAL. Dan pihak BLH provinsi tidak berani memberi ijin atas penolakan warga Tambang Sawah dan Lebong Tambang.

Setelah itu pada 17 Februari 2014, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Lebong memberi surat ke warga untuk memintak tanggapan untuk melakukan kaji ulang kembali AMDAL PT. Tantri Majid Energi (TME). Langsung pada 25 Februari 2014 warga melayangkan surat penolakan dan mendatangan langsung kepala BLH Kabupaten Lebong, Bupati dan DPRD Kabupaten Lebong.

Setelah itu, 18 Maret 2014, warga dan WALHI Bengkulu di undang untuk ikut sidang komisi AMDAL Lebong. Keputusan pada hari itu, menyatakan kalau dokumen ANDAL banyak kejanggalan dan TIDAK LAYAK UJI LINGKUNGAN. Seperti soal persetujuan warga yang mereka sebut 79% warga menyetujui kehadiran perusahaan, Pada dasarnya warga sekitar tambang lebih dari 80% yang menolak, Dengan dilampirkan surat pernyataan warga dan Foto Copy KTP Serta Sertifikat Tanah untuk penolakan PT TME, Pada 17 Juli 2014 Badan Lingkungan Hidup Lebong melakukan kembali rapat komisi ANDAL. Tetapi WALHI Bengkulu tidak diundang, dan ANDAL yang sudah dikatakan diperbaiki oleh Tim Konsultan PT TME, WALHI bengkulu tidak memiliki ANDAL Tersebut, sehingga bacaan WALHI untuk analisis ANDAL itu tidak ada panduan nya, pada rapat komisi ANDAL Diruang Aula Bappeda waktu itu, belum menemukan titik temu dalam kajian ANDAL PT TME, saat warga hadir yang berkisar 10 orang yang merupakan keterwakilan dari Sekitar Tambang yang ingin dibuka oleh PT TME tersebut, warga Kampung Jawa dan Lebong Tambang. Sebelum sidang dilakukan, Ketua Forum Sidang ANDAL PT TME Kepala Dinas BLHKP Kabupaten Lebong mengusir warga dari ruang pertemuan. Melihat sikap Ketua Forum Sidang ANDAL PT TME tersebut mengusir warga dari ruangan, Maka Anggota WALHI Bengkulu memintak pada Ketua Forum Sidang ANDAL PT TME, agar warga dampak tambang nantinya harus masuk dan ikut serta dalam sidang ANDAL tersebut, Dengan di tolak nya permintaan WALHI bengkulu, Maka Anggota WALHI ikut juga keluar dari ruangan Aula Bappeda Kabupaten Lebong. Dan hari itu juga diputuskan kalau ANDAL PT. Tantri Majid Energi (TME) di terima komisi AMDAL lebong. Melihat putusan yang dikatakan Forum sidang ANDAL itu LAYAK UJI LINGKUNGAN, dengan sistem Voting, anggota yang masih bertahan di sidang itu 15 Tim komisi sidang, maka Al hasil 11 orang mengatakan LAYAK UJI LINGKUNGAN ANDAL PT TME Dan 4 Orang Menolak LAYAK UJI LINGKUNGAN PT TME tersebut. Sedangkan sistem Voting nya juga tidak jelas, seperti berita acara putusan komisi tersebut tidak diberikan pada tim komisi yang masih bertahan waktu itu, sedangkan melihat 15 Tim Komisi yang ikut serta dalam putusan menolak dan memutuskan Layak dalam uji Lingkungan untuk PT TME tersebut, tidak sampai 50% jumlah komisi amdal yang terdapat dalam Surat Keterangan Komisi AMDAL Di Kabupaten Lebong.

Penolakan ini dilandaskan oleh beberapa hal:
1. Kami melihat keputusan Komisi AMDAL pada 18 Juli 2014 cacat secara hukum. (1) jumlah anggota yang memutuskan kurang dari 50% total jumlah tim komisi AMDAL.(2) Keputusan tersebut tidak dihadiri olah masyarakat 6 Desa yang berpotensi besar terkena dampak Lingkungan dan Ekonomi warga. (3) Ada kesengajaan WALHI Bengkulu tidak di undang dalam pertemuan sidang Komisi AMDAL tersebut.(4) Warga melihat kejanggalan karena dalam tenggang waktu yang sangat singkat untuk kehadiran warga. Serta tidak ada proses perbaikan dokumen AMDAL atau pertemuan setalah surat pernyataan penolakan dari warga.

2. Lokasi tambang PT. Tantri Majid Energi masuk dalam lokasi wilayah desa dan hanya berjarak sekitar 400 meter dari lokasi pemukiman penduduk desa Tambang Sawah. Sedangkan untuk Desa Lebong Tambang hanya berjarak kurang dari 350 meter dari pemukiman penduduk. Yang hampir pasti akan menggangu air dan buangan limba perusahaan.

3. Lokasi tambang PT. Tantri Majid Energi, merupakan lokasi tradisonal rakyat ( Lombang Empat, Lobang Kompoy) dan Sekitar Lobang Kaca Mata) yang saat ini merupakan lokasi tambang tempat lebih dari 2.003 Jiwa menggantungkan kehidupannya sehari-hari. Sehingga kalau ini diambil oleh PT. TME, maka sudah pasti masyarakat akan kehilangan penghidupan pada area tambang yang sudah menjadi hak ulayat warga Lebong. Bagi waga Tambang Sawah, Lebong Tambang dan desa sekitar. Lahan tambang merupakan lahan satu-satunya untuk penghidupan, karena tidak ada lahan untuk berkebun atau bersawah.

4. Lokasi Tambang PT. Tantri Majid Energi, berbatasan langsung dengan Kawasan Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS) dan merupakan sumber air bersi bagi warga desa Tambang Sawah. Dan saat pengupasan jalan pihak prusahaan telah berada di batas TNKS.

5. Proses pembuatan dokumen AMDAL kami pikir cacat hukum, karena tidak melalui konsultasi publik dan persetujuan para penambang tradisonal setempat.

6. Kami warga desa Tambang Sawah, Lebong Tambang, Kelurahan Kampung Jawa tidak pernah disampikan kemungkinan dampak-dampakkehancuran lingkungan, sosial, ekonomi yang muncul kedepan.

Untuk Itu kami MENOLAK PT TME Didesa kami, dan kami kemintak kepada Kementrian Lingkungan harus segera mengambil sikap, agar pihak Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Lebong. Agar tidak memberi ijin lingkungan (AMDAL) pada PT. Tantri Majid Energi untuk melakukan aktivitas penambangan di dalam desa Tambang Sawah. Bila tetap diijinkan maka kami dari Komunitas Lebong (KOMUBONG) dan WALHI Bengkulu akan melakukan aksi penolakan dilapangan dan memboikot aktivitas eksplorasi tambang yang merupakan milik warga Desa Tambang Sawah, Lebong Tambang dan desa-desa yang lain nya.

 

 

Salam

Komunitas Lebong (KOMUBONG)

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.08751 seconds.